32 Bangunan Tua Zaman Belanda Berhasil diselamatkan

by

KUDUS, isknews.com – Bagi sebagian warga masyarakat Kabupaten Kudus, yang kalau dalam suatu kesempatan melewati komplek rumah toko (ruko) di Jalan Ronggolawe, tepatnya di muka garasi PO Nusantara, tentu tidak akan menyangka sama sekali, kalau dahulunya tempat itu adalah komplek perumahan dinas milik PT Kereta Api Indonesia, yang sebelumnya bernama Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Ada sekitar 10-15 rumah yang digusur, yang kini berubah menjadi bangunan ruko itu.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Kudus, Sunardi, melalui Kasie Bidang Purbakala, Sutiyono, yang dihubungi isknews.com, Selasa (8/9), dalam upaya menyelamatkan bangunan-bangunan tua atau antik peninggalan zaman colonial belanda, Pemkab telah berupaya agar tidak terjadi penggusuran oleh suatu sebab atau alasan. Jika memang bangunan tersebut milik pribadi, Pemkab pun mengimbau agar dipelihara dengan baik. “Contohnya seperti Omah Mode, yang oleh pemiliknya masih dipelihara, bahkan kini dijadikan tempat usaha.”
Mengenai jumlah bangunan tua yang kini berhasil diselamatkan, dia menerangkan ada sekitar 30 unit, diantaranya adalah kantor Kawedanan ( pembantu bupati) di Desa Kramat, bangunan SMP Negeri 1 Kudus yang terletak di Jalan Sunan Muria, yang pada masa kolonial gedung tersebut pernah menjadi sekolah bagi para sinyo Belanda, Kantor Kawedanan Tenggeles, di Kecamatan Jekulo, Kantor Kawedanan Cendono di Kecamatan Bae, yang kini dijadikan pusat kegiatan kesenian, dan Kantor Kawedanan Kota, di Jalan Diponegoro yang kini menjadi rumah dinas wakil bupati Kudus.
Selain itu, juga . Rumah Kembar milik Keluarga Nitisemito yang mengapit Sungai Gelis, RS Bersalin Miriam, atau kantor Dinas Pekerjaan Umum Pemkab Kudus. Bangunan tua itu tetap terawat, berfungsi baik, dan menjadi kebanggaan bagi yang menempatinya.
Memang perlu upaya keras dan dana yang tidak sedikit untuk merawat dan menjaga bangunan tua sebagai cagar budaya. Baik itu oleh pihak pemda dan para pemilik bangunan-bangunan tua/antik itu. Karena cagar budaya di setiap kota mencerminkan sejarah kota itu sendiri. “ Jangan sampai atas nama pembangunan (kota), cagar budaya pun lenyap tinggal sejarah ,” tegas Sutiyono. (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :