650 Kasus Dengan 22 Meninggal Pada Semester Satu 2016, Kudus Berstatus KLB DBD?

650 Kasus Dengan 22 Meninggal Pada Semester Satu 2016, Kudus Berstatus KLB DBD?

KUDUS, isknews.com – Demam Berdarah Dengeu (DBD) merebak di Kabupaten Kudus. Jumlah kasus penyakit yang diakibatkan oleh nyamuk Aedes Aegypti itu menapai angka 650 kasus dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 22 orang. Untuk menghindari semakin  meningkatnya jumlah korban, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, hingga kini, terus melakukan upaya pencegahan berupa fogging di hampir semua desa di Kabupaten Kudus.

Diantaranya, desa yang Kamis (04/8) pagi tadi dilakukan fogging, adalah Desa Golantepus, RT-05/RW-05, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.  Menurut Ketua RT-05/RW-05 Golantepus, yang dihubung isknews.com, saat memandu petugas DKK yang melakukan fogging,  di wilayah RT-nya dalam dua pekan terakhir ini, tercatat sebanyak 7 penderita korban penyakit DBD yang dilarikan dan dirawat di rumah sakit. “Dari jumlah itu, 6 penderita sudah sembuh dan dipulangkan, sedangkan satu penderita masih dirawat di ruang ICU RSUD Dr Lukmonohadi, yakni Hana (4 tahun), putri dari Noor Fuad.”

TRENDING :  Warga Sambut Pengobatan Massal Di Hari Ke Tujuh TMMD Kudus

Dengan ditemukannya penderta DBD itu, ungkapya lanjut, warga setempat pun melaporkan ke DKK melalui kepala desa setempat, meminta agar dilakukan tindakan pencegahan dengan fogging, di wilayah RT-05/RW-05, Desa Golantepus. “Ada sekitar 50 rumah di RT ini yang dilakukan penyemprotan.”

Sementara itu, Kepala Seksie (Kasie) Pencegahan Penyakit Menular (PPM) DKK Kudus, M Subiyanto, yang ditemui isknews.com, saat memantau di Desa Golantepus, mengatakan, hingga Januari – Juli 2016, jumlah kejadian DBD di Kudus mencapai 650 kasus dengan jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 22 orang. “Angka 650 kasus itu adalah penderita DBD yang masuk dan dirawat di rumah sakit. Untuk korban yang meninggal, sebagian besar diduga karena terlambat dibawa ke rumah sakit.”

TRENDING :  Penyakit Kusta di Jawa Tengah Menduduki Angka Ke Tiga Setelah Jawa Timur & Jawa Barat di Tingkat Nasional

Sebagai suatu wabah, kondisi seperti hal tersebut  menurut kementerian kesehatan yang menjelaskan, status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/91, tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa. Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur:

  • Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
  • Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
  • Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
  • Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
TRENDING :  Waspada Demam Berdarah, Pemdes Kutuk Minta Dilakukan Fogging

Mengenai tindakan fogging, dia menerangkan sudah dllakukan di hampir semua desa di Kudus. Dari sebanyak 131 desa, semuanya masuk kategori endemis DBD. “Itu artinya hanya tiga desa yang warganya belum ditemukan penderita DBD.” (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post