Simak Tata Cara dan Waktu Pembayaran Zakat Fitrah

by
ISKNEWS.COM

Kudus, ISKNEWS.COM Bulan Ramadhan 1439 H sebentar lagi akan berakhir. Di saat seperti ini, biasanya umat muslim mulai menggencarkan ibadahnya mumpung Ramadhan masih menemani.

Selain itu, mereka juga disibukkan untuk membayar zakat fitrah. Membayar zakat ini sangat penting bahkan sampai masuk rukun Islam urutan ketiga setelah berucap syahadat dan menjalankan shalat.

Zakat adalah sesuatu yang wajib dikeluarkan dari harta (mal) atau badan (fitrah),
sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh agama.
Syarat Wajib Zakat Fitrah diantaranya Islam, Menjumpai terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadlan, Memiliki kelebihan dari kebutuhan pokok untuk diri sendiri dan keluarga yang wajib dinafkahi pada hari raya Idul Fitri (sehari semalam).

“Seseorang yang wajib mengeluarkan zakat fitrah atas dirinya sendiri, ia juga wajib mengeluarkan zakat fitrah orang-orang yang wajib ia nafkahi. Orang yang wajib dinafkahi adalah Orang tua kandung yang fakir, Istri, Anak kandung yang belum baligh dan fakir, atau sudah baligh tetapi fakir dan
tidak mampu bekerja,”

Hal itu sesuai uraian yang dikutip langsung isknews.com dari majelis dzikir dan sholawat rijalul ansor Kaliwungu Kudus, yang ditashih langsung oleh KH. Harun Rosyid (Rois Syuriyah MWC NU Kaliwungu) dan K. M. Islahul Umam (Direktur Aswaja Center Kab. Kudus), Kamis (14/6/2018).

Dijelaskannya, Anak kandung yang sudah baligh dan mampu bekerja, wajib mengeluarkan zakat fitrahnya sendiri. Apabila orang tuanya ingin mengeluarkan zakat fitrah
anak tersebut, maka harus ada izin terlebih dahulu dari si anak.

Jika istri melakukan nusyuz (tidak taat kepada suami) maka zakat fitrahnya menjadi tanggungannya sendiri, bukan tanggungan suami.

TRENDING :  Zona Khusus PKL, Eksekutif Belum Bicara Banyak Kepada Legislatif

Jika istri tidak melakukan nusyuz tetapi suaminya tidak mampu mengeluarkan
zakat fitrah, maka keduanya tidak berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah.
Dalam hal ini, jika istri tersebut kaya, maka disunahkan baginya untuk
mengeluarkan zakat fitrahnya sendiri.

Adapun Syarat Sah Zakat Fitrah diantaranya adanya Niat, Niat Zakat Fitrah untuk diri sendiri “Saya niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diri saya sendiri fardlu karena Allah”, hal itu berlaku juga untuk anak-anaknya.

Memberikannya kepada yang berhak (Mustahiq)

Orang yang berhak menerima zakat ada 8,
Diantaranya A.Fakir, orang berpenghasilan kurang dari 50% kebutuhan pokok (Sandang, Pangan, Papan dan kebutuhan lain yang sesuai dengan kelayakan hidupnya). B.Miskin, orang berpenghasilan 50% – 99% kebutuhan pokok (Sandang, Pangan, Papan dan kebutuhan lain yang sesuai dengan kelayakan hidupnya).

Lalu, C.Amil, anggota institusi resmi yang dibentuk pemerintah dengan tugas pokok sebagai penghimpun dan pembagi zakat (bukan sekedar pekerjaan sambilan), namun tanpa imbalan gaji.

Kemudian D.Muallaf, orang yang baru masuk Islam. E.Budak, F.Gharim yakni orang yang dihimpit hutang pribadi atau hutang untuk
kepentingan sosial agama, seperti pembangunan masjid dsb, G.Sabilillah yaitu sukarelawan perang di jalan Allah, (Menurut Jumhurul Ulama’ Guru Madrasah dan Kiai,
tidak boleh menerima zakat atas nama Sabilillah). H.Ibnu Sabil yakni orang yang kehabisan bekal di tengah perjalanan yang mubah (bukan untuk maksiat).

Untuk catatan, Zakat, baik mal maupun fitrah wajib diberikan kepada semua
mustahiq dari asnaf yang ada. Namun beberapa ulama’  memperbolehkan memberikan zakat fitrah kepada 3 (tiga) orang miskin saja, atau 3 (tiga) orang dari asnaf lainnya. Bahkan beberapa ulama
lainnya memperbolehkan memberikan zakat fitrah kepada 1 (satu) orang
mustahiq saja. (I’anatuh Tholibin Juz 2 Hal. 197)

TRENDING :  Kapolda Jateng Ajak Santri Daftar Polisi

Standar Menentukan Mustahiq

Dugaan kuat. : Berlaku untuk semua mustahiq.
Pengakuan. : Bagi fakir miskin, muallaf yang masih lemah niatnya, sabilillah, dan Ibn Sabil.
Bayyinah : (informasi dua saksi) bagi mukatab, gharim dan amil.
Istifadhah : (kemashuran kabar, minimal dari 3 orang). Bagi mukatab, gharim dan amil. Pembenaran pihak yang menghutangi. Bagi mukatab dan gharim.
E. Yang dikeluarkan sebagai zakat fitrah:
Zakat fitrah harus berupa makanan pokok daerah setempat. Besarnya adalah
satu sha’. Jika dikonversi (dirubah) menjadi kilogram, maka terjadi perbedaan pendapat.

Dalam al-Fiqh al-Manhaji, 1 sha’ adalah sekitar 2,4 kg, sedangkan dalam Fathul Qadir disebutkan bahwa beras putih yang dikeluarkan sebagai zakat fitrah sebesar 2,719 kg.

Waktu mengeluarkan zakat fitrah:
1. Waktu Wajib : Yaitu sejak terbenamnya matahari di akhir bulan
Ramadlan.
2. Waktu Afdlol : Yaitu setelah terbit fajar tanggal 1 Syawal sampai shalat
Id.
3. Waktu Jawaz : Yaitu Waktu sejak awal Ramadlan.
4. Waktu Makruh : Yaitu mengeluarkan zakat fitrah setelah shalat id sampai
terbenamnya matahari pada hari idul fitri.
Menunda pengeluaran zakat fitrah sampai matahari terbenam pada hari itu
hukumnya haram, tetapi tetap wajib dikeluarkan, dengan status qadha zakat.

Zakat Fitrah yang dikeluarkan pada pertengahan Ramadlan, maka zakat ini
menggugurkan kewajiban, dengan syarat pada saat matahari terbenam di akhir
Ramadlan, 1. Pemberi Zakat (Muzakki) masih memenuhi syarat wajib zakat, 2. Penerima masih berstatus sebagai mustahiq, Jika sebelum itu si penerima meninggal dunia atau pindah agama, maka zakat fitrah harus diulang (dikeluarkan lagi).

TRENDING :  Sebanyak 257 ASN Tunaikan Ibadah Haji

Panitia Zakat Fitrah
1. Status Panitia Zakat Fitrah
Status panitia Zakat fitrah yang ada di Musholla, Masjid ataupun madrasah
adalah sebagai Wakil Muzakki, bukan Amil Zakat. Oleh karena itu, tidak
berhak menerima zakat fitrah atas nama Amil Zakat.
2. Tugas dan Kewenangan Panitia Zakat Fitrah
a. Mendistribusikan Zakat Fitrah kepada Mustahiq sesuai perintah Muzakki.
b. Dalam mendistribusikan Zakat kepada Mustahiq, beras yang diberikan
tidak harus sama timbangannya.
c. Boleh Mencampur beras Zakat dari beberapa Muzakki ketika ada izin dari
para muzakki, atau ada kebiasaan mencampur beras zakat di daerah
tersebut dan muzakki mengetahui kebiasaan itu.
d. Tidak boleh menjual Beras Zakat dari Muzakki.
e. Karena tugas panitia adalah mendistribusikan zakat kepada mustahiq,
maka panitia tidak boleh mengambil beras zakat untuk dirinya sendiri.

Catatan:

Zakat yang didistribusikan oleh panitia tidak boleh kembali kepada Muzakki atau kepada orang yang wajib dizakati oleh Muzakki.

Jika panitia menunjuk mustahiq di masjid atau musholla, kemudian memberikan seluruh zakat fitrah kepadanya, maka ini diperbolehkan dan zakat fitrah tersebut sah. Sebelum itu, panitia dan mustahiq membuat kesepakatan bahwa zakat fitrah yang dia terima, sebagian dia bawa pulang dan sebagian dia bagikan kepada masyarakat sebagai shodaqoh sunnah. Jika memakai praktek ini, sebaiknya mustahiq yang ditunjuk tidak kurang dari 3 (tiga) orang. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :