85 Dari 132 Desa Di Kudus Endemis DBD

85 Dari 132 Desa Di Kudus Endemis DBD

Kudus, isknews.com – Kasus penyakit DBD di Kabupaten Kudus, dari hari ke hari, semakin meningkat. Dalam satu bulan terakhir ini, jumlahnya meningkat drastis, dari yang sebelumnya 650 kasus, menjadi sebanyak 700 lebih, sedangkan jumlah korban meninggal dunia masih pada angka 22 orang. Upaya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, dalam meminimalisir kasus dan mengurangi jatuhnya korban, diantaranya adalah melakukan foging (penyemprotan) setiap hari.
Kepala Seksie (Kasie) Pencegahan Penyakit Menular (PPM) DKK Kudus, M Subiyono, yang dihubungi isknews.com, Jumat (26/8), di ruang kerjanya, membenarkan hal itu. Menurut dia, semakin meningkatnya DBD di Kudus, selain ditandai dengan bertambahnya jumlah penderita yang masuk ke rumah sakit/puskesmas, juga bisa dilihat dari banyaknya permintaan foging. Sedikitnya dua kali permintaan foging dalam satu hari. “Tadi pagi juga kami baru saja melakukan foging di dua desa, yakni Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu dan Cendono, Kecamatan Bae. Sasaran foging masing-masing desa, lebih dari 100 rumah.”
Dia selanjutnya mengungkapkan, permintaan foging yang nyaris tiada henti itu, diterima dari desa endemis DBD di Kudus, yakni yang selama 3 tahun berturut-turut, tidak terjadi kasus DBD. Jumlah desa endemis DBD itu sebanyak 85 dari 132 desa/kelurahan di Kabupaten Kudus, tersebar di 9 kecamatan.
Rinciannya, Kecamatan Kota 13 desa, Jati 12, Bae 10, Kaliwungu, Undaan, Jekulo, Mejobo, Dawe dan Kecamatan Gebog, masing-masing 9 desa.
Selain itu, di Kudus juga ada desa yang masuk dalam kategori endemis DBD sporadis, yakni dalam kurun waktu 3 tahun ada kejadian kasus DBD, tetapi dalam 2 – 1 terakhir tidak ada kasus DBD. “Jumlah desa sporadis ini tercatat sebanyak 41 desa di 8 kecamatan, yakni Kecamatan Kota 11 desa, Jati 1, Kaliwungu 6, Jekulo 3, Dawe 8 dan Kecamatan Gebog 1 desa.”
Meskipun setiap hari terjadi kasus DBD, bahkan jumlah terus meningkat, namun ada tiga desa yang potensial, yakni selama 3 tahun berturut-turut tidak terjadi kasus DBD. Tiga desa tersebut, yakni Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kedungsari (Gebog) dan Piji (Dawe), potensial karena warganya dengan kesadaran sendiri melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), secara gotong royong dan kontinyu. “Dengan adanya gerakan PSN itu, nyamuk DBD tidak bisa berkembang, sehingga tiga desa itu bisa dikatakan bebas dari penyakit tersebut,” jelas Kasie PPM DKK Kudus itu. (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
TRENDING :  RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus Buka Klinik Cardiologi Bagi Penderita Penyakit Jantung

Share This Post

Comments are closed.