Adipati Pragola II Adalah Pemimpin Kabupaten Pati yang rela mati demi kehormatan.


Pati, Isknews.com Lintas Pati – Menguak sejarah ketangguhan Adipati Pragola II Pemimpin Kabupaten Pati yang makamnya berada di Desa Tamansari Kecamtan Tlogowungu Pati. Kita patut bangga jadi warga Pati, karena sejarah Kabupaten Pati telah mencatat bahwa metal dan nyali warga Kabupaten Pati pada masa kepemimpinan Adipati Pragola II yang berani melawan ribuan pasukan dari kerajaan mataram. Dengan mental dan nyali yang hebat pasukan Kabupaten Pati yang dipimpin Adipati Pragola mampu memporak porandakan ribuan pasukan kerajaan mataram yang pada waktu itu telah mengepung Kabupaten Pati. 

Sebegai generasi muda Pati kita patut bangga pasalnya dalam kisah ini membuktikan bahwa orang Pati mempunyai mental dan nyali yang hebat, tidak mudah putus asa , serta nekat.

Adipati Pragola II adalah pemimpin Kabupaten Pati yang mewarisi tampu kepemimpinan dari ayahnya Adipati Pragola I,  Cucu Ki Ageng Penjawi ini memerintah Kadipaten Pati dengan arif bijaksana sehingga rakyatnya merasa aman sejahtera.

 

Adipati Pragola II mempunyai istri bernama Raden Ajeng Tulak atau Ratu Mas Sekar yg merupakan Adik Sultan Agung.

Adipati Pragola II adalah adik ipar Sultan Agung Anyokrokusuma yang sama-sama merupakan keturunan Prabu Brawijaya Raja Majapahit.

Adipati Pragola II dalam nenjalankan roda pemerintahan di Kadipaten Pati mendapat dukungan penuh dari enam tumenggung. Ke enam tumenggung tersebut yaitu, Tumenggung Mangunjaya, Ki Kenduruan, Ramananggala, Tohpati, Sawunggaling, dan Sindurejo. Mereka telah bersumpah setia untuk membela buni Pati hingga titik darah penghabisan.

Baca Juga :  Menko Kemaritiman resmikan PT.DPUM di Pati

Ketika Mataram sedang memusatkan perhatian menyusun kekuatan untuk menggempur daerah Surabaya, Adipati Pragola II berselisih dengan pembesar di Jepara. Perselisihan tersebut hingga memuncak dan sang Adipati Pragola mengirim ke enam Tumenggung ke Jepara untuk menyelesaikannya. Keesokan harinya dengan seribu prajurit tempat kediaman penguasa Jepara di porakporandakan hingga rata dengan tanah.

Patih Jepara Ki Laksana marah atas peristiwa tersebut dan pergi melapor ke penguasa Mataram. Ki Laksana sampai di Mataram di terima oleh Tumenggung Endranata. Patih Ki Laksana melapor bahwa Adipati Pragola Pati akan memberontak Mataram.

Pada pisowahan agung di kerajaan Mataram, yg bersamaan dengan hari raya, dihadiri oleh para punggawa kerajaan dan para pimpinan antara lain dari Bagelan, Grobogan, Kudus, Kalinyamat, Demak, dan Lasem.

Satu-satunya yg tidak hadir adalah Adipati Pragola II dari Kadipaten Pati. Ketidak hadiran Adipati Pragola II dalam pisowahan karena alasan yg sama seperti Adipati Pragola I ayahnya,yang beranggapan bahwa Pati dan Mataram itu sedrajat.

Mengetahui adik iparnya tidak hadir Sultan Agung marah besar dan menanyakan pada raden Purbaya,belum sempat menjawab sudah di dahului oleh Tumenggung Endranata, bahwa Adipati Pragola II akan memberontak Mataram, bahkan Adipati Pragola II sudah menginventasisasi berbagai senjata untuk menggulingkan Raja Mataram. Mendengar itu Sultan Agung murka dan beberapa hari kemudian memerintahkan untuk menggempur Pati.

Persiapan dilakukan molai dari penunjukan para pimpinan, persenjataan, dan perbekalan selama perang. Sebagai Senapati Mataram untuk menyerang Pati ditunjuk Tumenggung Alap-alap.

Baca Juga :  Aliansi Masyarakat Peduli Sumber Mata Air Pegunungan Muria Lakukan Aksi Damai

 

Akhirnya Sultan Agung memutuskan Pati di serbu. Pati diserbu dari tiga penjuru, yaitu arah timur, selatan dan barat. Ratusan ribu prajurit Mataram dikerahkan untuk menghancurkan Pati. Kadipaten Pati memang dianggap oleh Sultan Agung yg paling kuat karena satu-satunya wilayah yg belum terkalahkan.

Pasukan dari arah timur dipimpin Adipati Martalaya yg membawahi kumpulan prajurit gabungan wilayah mancanegara. Kekuatan pasukan dari arah timur kurang lebih seratus ribu prajurit, pasukan ini mendirikan barak di sekitar Pakuwon Juana.

Pasukan Mataram dari arah selatan dipimpin oleh Pangeran Madura yg membawahi ptajurit Kedu, Begalan dan Pamijen, pasukan ini mendirikan tenda-tenda perkemahan di kaki Gunung Kendeng sekitar daerah Cengkalsewu sebelah selatan Pati.

Pasukan dari arah barat dipimpin oleh Pangeran Sumedang yg membawahi pasikan khusus berkuda,pasukan ini mendirikan barak di sekitar wilayah Matraman Margorejo sebelah barat Pati.

 

Adipati Pragola II mengetagui wilayah Pati sudah di kepung rapat oleh pasukan musuh.,ia tetap tegar dan tidak akan mundur selangkah pun. Apalagi seluruh rakyat Pati mendukung untuk mempertahankan kedaulatan rakyat Pati hingga titik darah penghabisan. Semua prajurit Kadipaten Pati sudah siap siaga menempati pos-pos pertahanan yg sudah ditentukan. Para punggawa Kadipaten Pati juga tidak tinggal diam, mereka memimpin laskar andalan yg terdiri dari prajurit-prajurit terlatih.

Ketika Bende Kyai Becak berbunyi memberi tenggara maju pasukan Mataram maju pasukan Mataram dari berbagai penjuru molai serentak menyerbu Pati. Saat itu juga prajurit Pati menghadang dengan beraninya sehingga terjadi peperangan yg seru.

Baca Juga :  Ulama' Kharismatik Kudus selalu jadi Agenda Rutin silaturrahim saat Lebaran

Prajurit Pati yg dipimpin oleh Tumenggung Kenduran menghadang musuh dari arah selatan, korban dari kedua belah pihak saling berjatuhan, prajurit yg dipimpin Tumenggung Mangunjaya dan Tumenggung Tohpati menghadang musuh dari arah timur.

Adipati Pragola II memimpin langsung prajurit menghadang musuh yg masuk dari arah barat. Tumenggung Sindurejo dan Tumenggung Sawunggaling ikut berperang di sisi sebelah barat.

Dalam pertarungan Adipati Pragola II terluka namun ia tetap melanjutkan pertempuran,lawan yg menghadang diterjang,yg lari diburu, dalam pengejaran musuh di sekitar sumber mata air sani, tiba-tiba kuda sang Adipati mendadak berhenti tidak mau berlari. Adipati Pragola II luka parah dan akhirnya wafat pada hari Jum’at Wage tanggal 4 Oktober 1627 M.

 

Adipati Pragola II rela berkorban hingga titik darah penghabisan, Adipati gugur di medan perang untuk mempertahankan wilayah dan kedaulatan negeri Pati. Namanya harun dikenang dan diagungkan oleh masyarakat Pati

APA KOMENTAR SEDULUR ISK ?