Ajaran Ki Hajar Dewantara Mulai Luntur

Ajaran Ki Hajar Dewantara Mulai Luntur

Kudus, isknews.com – Ajaran Ki Hajar Dewantara, sekarang ini mulai luntur di kalangan guru atau pengajar, termasuk di Kabupaten Kudus. Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olah Raga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Joko Soesilo, saat membuka Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Penulisan Karya ilmiah guru se Wilayah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan Kecamatan Bae, di Gedung Olah Raga (GOR) Garuda, Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Rabu (08/11).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kudus itu, diikuti sebanyak 341 peserta, terdiri dari guru TK, SD, SMP dan SMA/MA negeri. Hadir, Ketua PGRI Kabupaten Kudus, Kasmudi, Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Disdikpora Kabupaten Kudus, Suharto, Kasie Sarpras, M Zubaedi, serta Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan se Kabupaten Kudus.

Menurut Joko, ajaran Ki Hajar Dewantara, adalah “Ing Ngarsa Sung Tuladha” (di depan memberikan teladan/contoh), “Ing Madya Mangun Karsa” (di tengah memberikan gagasan) dan “Tut Wuri Handayani” (dari belakang memberi daya). Falsafah pahlawan pendidikan di era penjajahan Belanda ini, hendaknya bisa diimplementasikan oleh guru dalam mengajarkan ilmunya kepada anak didiknya, di era sekarang ini. Guru tugasnya bukan dilayani, namun justru sebaliknya, melayani anak didik agar bisa menerima dengan baik apa yang disampaikan guru, saat mengajar di dalam kelas.”

Kaitannya dengan diklat, lanjutnya, adalah salah satu upaya memenuhi empat pilar sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan. Pilar pertama, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) guru, antara lain dengan menyelenggarakan Diklat penulisan karya ilmiah. Pilar kedua, tidak adanya anak putus sekolah, pilar ketiga dan keempat, tersedianya sarana dan prasarana (sarpras) yang memadai, serta keberhasilan akademis. “Hal itu bisa terjadi, syaratnya, ajaran Ki Hajar Dewantara mendarah daging di kalangan guru, ditambah dengan dukungan pihak-pihak yang berkepentingan dan terkait.”
Pembukaan diklat ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali, oleh Joko Soesilo, didampingi Kasmudi, Suharto dan Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Bae, Subiyono, selaku ketua panitia diklat. (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
TRENDING :  Belum Ada Tulisan Nama, Museum Fosil Patiayam Disangka Rumah Tempat Tinggal

Share This Post