Aksi Super Damai 212 Momentum Bersatunya Umat Islam

Aksi Super Damai 212 Momentum Bersatunya Umat Islam

 

Oleh Danar Ulil Husnugraha (*)

Kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur non aktif DKI Jakarta (Ahok), membuat sebagian besar rakyat Indonesia membahasnya dengan seksama. Majlis taklim, mushola, warung kopi, kafe, hingga pos ronda menjadi tempat asyik bagi obrolan ini. Tak cukup disitu, jagad dumay

15027470_1892178751002068_1797399045376783318_n
Suasana Aksi Super Damai 212 Di lapangan Monas Pukul 06.00 Pagi (2/12/16), Foto-foto : Arif Syaefudin

medsos tak mau ketinggalan. Malah lebih ramai dan heboh dari dunia nyata. Instagram, WA,BBM,Twitter dan utamanya facebook dalam 2 bulan ini begitu “khusyuk” membicarakan kasus Ahok. Surat Al-Maidah ayat 51 (yang diduga dinistakan Ahok) menjadi ayat Alquran paling sering dikaji dan didiskusikan maknanya.

Satu hal yang menjadi keprihatinan bersama dalam dinamika kasus ini adalah terbelahnya rakyat dalam menyikapinya. Yang satu jelas mendukung proses hukum Ahok dan satunya lagi membela sedemikian rupa. Masing-masing pihak punya argumentasi dengan alasan sikapnya. Kalau ini berjalan normal tanpa adanya fitnah dan caci maki sih tak mengapa. Tapi kenyataannya masing-masing kubu begitu getol membela hingga hujatan mereka meluber ke organisasi, tokoh habaib dan kiai hingga akademisi. Intinya, kalau ada yang tidak sependapat dari masing-masing kubu akan “dihabisi” bersama kaumnya.

Telah kita ketahui bersama bahwa dalam dinamika kasus Ahok ini, telah terjadi 2 kali aksi demo. Yaitu tanggal 14 Oktober dan 4 November 2016. Aksi tersebut dilakukan untuk mempercepat proses hukum Ahok (menurut mereka yang anti Ahok dibekingi penguasa).

Sedangkan menurut pembela Ahok, demo tersebut tak ada gunanya dan menjadi preseden buruk pemaksaan kehendak dalam negara hukum berkeadilan. Polarisasi dukungan begitu kuat dengan postingan,status, dan komentar yang begitu garang.

Kasus penistaan agama memang suatu hal yang sangat “berbahaya” dalam negara multikultural seperti Indonesia. Karena berpotensi merusak toleransi di kalangan masyarakat yang damai.

Ada hal menarik dalam kejadian ini. Jika kita cermati seksama, kasus Ahok bisa dilihat sebagai momentum bersatunya umat Islam. Lihatlah aksi 4 November kemarin, ratusan ribu ummat Islam bersatu padu dari Sabang sampai Merauke menuju Jakarta untuk menuntut Ahok jadi tersangka. Dan di Jakarta sendiri ratusan ribu menunggu saudaranya. Mungkin hampir mirip dengan kaum Muhajirin dari Mekkah yang ditunggu kaum Anshor di Madinah pada zaman Nabi. Klaim 2 juta peserta begitu megggema dalam aksi 411 kemarin. Entah berapa berapa jumlah pastinya. Yang pasti mereka memadati Masjid Istiqlal, bundaran HI, ruas Sudirman Thamrin dan bergerak menuju Istana Merdeka untuk menuntut Ahok jadi tersangka.

Walaupun sempat terjadi kericuhan di depan istana, namun secara umum aksi ini tergolong tertib dan damai. Bahkan saat ada rombongan pengantin Katholik yang akan melaksanakan prosesi pernikahan di Gereja Katedral (depan Masjid Istiqlal), peserta aksi membuka jalan agar rombongan bisa lewat menuju gereja. Indah. Luar biasa. Umat Islam Indonesia begitu dewasa….

Sejarah mencatat, ini lah aksi terbesar berkumpulnya umat manusia di negeri ini. Peristiwa 66 dan 98 kalah jauh dalam urusan jumlah massa. Dan hari ini, Jumat 2 Desember 2016 akan dilaksanakan lagi aksi ketiganya. Kali ini dengan tuntutan dijebloskannya Ahok ke penjara, setelah ditetapkan sebagai tersangka.

Seperti kita ketahui bersama, sempat terjadi pelarangan dalam aksi ketiga ini. Bahkan ada yang menghembuskan isu makar yang menggoyang pemerintahan Jokowi-JK. Tetapi akhirnya aksi ini tetap terlaksana.

Klaim pihak penanggung jawab dan korlap aksi acara ini akan berlangsung damai. Karena apa?
Karena konsep aksi ini berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya titik kumpulnya di area Istiqlal dan dimulai setelah sholat Jumat hingga berakhir sampai malam (rawan provokator dan kericuhan). Maka aksi ketiga ini dimulai jam 8 dan diakhiri dengan sholat Jumat bersama di area Monas. Selain itu rancangan acara ini juga berbeda dari aksi 1 dan 2. Jika sebelumnya diisi dengan orasi sambil semua peserta aksi berdiri hingga mengaduk-aduk hati nurani, maka aksi kali ini peserta diinstruksikan untuk menggelar sajadah. Acaranya diisi dengan istighosah, tausyiah, dzikir dan doa untuk keselamatan bangsa dan diakhiri dengan sholat Jumat bersama. Dan rencananya yang bertindak menjadi khotib dan imam sholat Jumat adalah KH Ma’ruf Amin (ketua MUI dan juga Rais Amm PBNU)

Kemungkinan besar jumlah massa aksi ini lebih besar dari aksi 411 kemarin, karena Majelis Rasulullah lewat Habib Nabiel AlMusawa sudah menghimbau jamaahnya untuk ikut serta dalam aksi ini. Sekilas info, bahwa Majelis Rasulullah merupakan pemegang rekor pelaksana maulid terbesar di dunia (satu juta massa di kawasan Monas)

Belum lagi dari elemen umat Islam mulai dari warga NU, Muhammadiyah, Nahdatul Wathan,PERSIS, Al-Irsyad, HTI, Salafi,dll. Semua ormas, madzhab dan aliran dalam Islam bersatu padu menuju ibukota. Inilah ukhuwah Islamiyah yang menggelora…

“Ghiroh” islamiyah dalam tubuh ummat sedang memuncak, walaupun sebagian dari umat Islam sendiri juga nyinyir dan penuh dugaan bahwa aksi ini dibayar juga ditunggangi.

Seandainya benar dibayar 500ribu (seperti ucapan Ahok), apakah relevan jika melihat peserta aksi dari Kabupaten Ciamis yang ratusan kilo berjalan kaki?
Saat armada bus dilarang menuju Jakarta mengangkut mereka, rombongan berisi ribuan muslim ini ikhlas memantabkan diri jalan kaki menuju DKI!
Apakah pantas mengaitkan aksi fenomenal ini hanya seputar urusan uang dan politik busuk kekuasaan?
Ah, aku tersadar….inilah kekuatan iman…yang tak akan terbeli oleh emas permata sebesar Gunung Papandayan!

Akhir kata, apapun sikap dan pendapat kita sebagai umat Islam terkait aksi ini, mari jaga persatuan. Entah mendukung atau menolak mari tahan diri. Postingan dan komentar nyinyir, caci maki berbalut sifat hasud dan fitnah ayo kita hindari.
Kalau tak setuju aksi maka doakan saudara kita atau lebih bagus diam saja. Itu lebih baik. Begitu juga sebaliknya, yang mendukung aksi jangan lah merasa paling suci dan benar sendiri. Hingga terlontar kalimat bahwa yang menolak aksi itu kaum munafik dan tak tahu diri…

Wallahu A’lam

*Penulis adalah Dewan Majelis Pertimbangan Pengurus (MPP) Forum Mahasiswa Islam (Formi) Universitas Muria Kudus (UMK)

APA KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post