Aktifitas Kendaraan Bongkar Muat Pasar Bitingan Kini Lebih Tertata

oleh
Suasana yang lebih longgar dan tak semacet sebelumnya, Jalan HR Basuno di Depan Pasar Bitingan saat jam-jam sibuk transaksi Pukul 21.00 ke atas (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Pemandangan kemacetan akibat menyumpalnya mobil-mobil baik jenis truk maupun pikap serta bentor yang sedang melakukan aktifitas bongkar muat di depan pasar Bitingan kini tidak lagi sepadat dulu.

Suasana arus lalu-lintas pada jam-jam sibuk dan padat bongkar muat komoditas sayur-mayur dan komoditas bahan pokok kini terurai dan terjaga durasi waktunya, sehingga tidak menyebabkan macet yang akan mengganggu pengguna jalan lainnya.

Jam paling sibuk itu adalah pada sekitar jam transaksi  21.00 malam hingga jam 09.00 pagi, dimana para suplayer komoditas sayuran dan kebutuhan pokok baik lokal maupun dari luar kota melakukan transaksi  bongkar dan muat di pasar terbesar kedua di Kota kretek ini.

Kini suasana seperti itu nyaris sudat teratasi dengan baik, Paguyuban pemuda Gotong Royong Sapu Lebu Ploso yang bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Kudus, terlihat  berhasil menata ritme dan durasi angkutan bongkar muat kendaraan roda empat yang sebelumnya menjadi trigger bagi penyumbang kemacetan tertinggi dikawasan tersebut.

TRENDING :  125 PKL GOR Akan Direlokasi

Pasar Bitingan Kudus atau yang mempunyai nama familiar “Pasar Anyar” dengan luas bangunan sebesar 15.428 meter persegi dan bertempat di Jalan Mayor Basuno, Desa Ploso, Kecamatan Jati merupakan pasar termegah kedua setelah Pasar Kliwon Kudus.

Khusus untuk komoditas sayuran, pasar ini lebih mirip pasar induk, karena nilai transaksi dan rotasi jual beli pada komoditas ini sangat tinggi, sehingga berdampak pada penumpukan moda angkutan barang serta lalu lalang pedagang dan pembeli.

Angkutan yang parkir di tepi jalan dengan memanfaatkan badan jalan, maupun aktivitas bongkar muat barang dagangan juga berpotensi menimbulkan kemacetan terutama di bahu jalan Mayor Basuno.

Sugiyanto, Ketua Paguyuban pemuda gotong royong Sapu Lebu, menempatkan dan mengorganisir sekitar 50 orang personel yang sebagian besar pemuda warga setempat untuk menata parkir dikawasan pasar tersebut.

“ Di kawasan seputar Pasar Bitingan ini ada enam titik lokasi parkir, kepada mereka saya beri tugas untuk menata serta menertibkan parkir kendaraan dan mengatur durasi bongkar muat agar tidak terjadi penyumbatan terlalu lama,” katanya saat di temui di kawasan pasar tersebut, Sabtu (13/1/18).

TRENDING :  Satpol PP Giat Lakukan Penertiban PKL Bandel

” Tentunya dengan tarif yang sama dengan yang ditentukan oleh Perda perparkiran di Kudus,” katanya.

“ Coba silahkan lihat sendiri sekarang, terutama kendaraan bongkar muat roda empat kini mereka hanya seperlunya membongkar muat barang dagangannya sesudah itu langsung pergi,” jelasnya.

Tak semacet dahulu, kini ritme dan durasi bongkar muat telah diatur oleh para pemuda Paguyuban Sapu Lebu (Foto: YM)

Kini memang tidak lagi seperti sebelumnya, sejumlah kendaraan sesuadah bongkar dagangannya masih ngetem dulu dan melakukan transaksi, bahkan menawarkan jasa angkutan barang untuk mengisi baknya untuk transpor balik.

“ Sekarang kami atur itu, mereka hanya boleh bongkar atau angkut seperlunya sesudah itu harus segera pergi karena punya potensi bikin macet kawasan ini,” ujar Sugiyanto yang juga dikenal sebagai pengusaha glondong bakso ternama ini.

” Kami tidak mengatakan berhasil membebaskan kemacetan sama sekali, karena apapun pasar ini memiliki denyut nadi perekonomian yang harus terus berjalan dan itu ditandai dengan siklus keluar masuknya barang komoditas ke pasar ini, namun kami berhasil mereduksi hingga lebih dari 70 persen potensi kemacetan yang biasa terjadi di kawasan ini,” ujar Giyanto.

TRENDING :  Ramadhan, Penjualan Jilbab Meningkat

Seringnya menjadi biang macet juga inilah yang menyebabkan Pemkab Kudus berupaya merelokasi pasar Bitingan ini ke lokasi baru yaitu di “Pasar Baru” yang ada di desa wergu Wetan Kudus.

Namun hal tesebut di tolak oleh sebagian besar pedagang di Pasar Bitingan, penolakan itu disampaikan dalam sosialisasi pemindahan PKL Pasar Bitingan di aula kantor Dinas Perdagangan Kudus beberapa waktu lalu.

Mereka beralasan Pasar Baru masih belum layak dijadikan tempat berjualan.

“Kami pedagang sayur-mayur menolak dipindahkan ke Wergu. Lahan di sana tidak representative, infrastrukturnya masih belum siap, belum ada angkutan kota dan sarana pendukung lainnya, nanti jika sudah representative baru kami mau,” kata Saefudin seorang pedagang sayuran. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :