Alasan Kesehatan, Pertapa di Puncak 29 Muria Dievakuasi Paksa

oleh
Foto : Istimewa

Kudus, ISKNEWS.COM – Bertapa di puncak songolikur Gunung Muria, Nur Hasan (35), warga dukuh Jrakahsari Desa Srikandang, Bangsri Jepara, akhirnya dievakuasi secara paksa oleh tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dibantu oleh sejumlah relawan SAR.

Proses evakuasi berlangsung cukup berat lantaran korban harus dipapah lantaran medan yang cukup berat. Kondisi Hasan lunglai lemas karena kurangnya asupan.

”Korban kondisinya selamat dan sempat dicek kesehatannya oleh tim medis. Meski direkomendasikan untuk rawat inap, tapi korban memilih dipulangkan ke keluarganya,” kata Kepala BPBD Kudus Bergas Catursasi Penanggungan, saat dihubungi isknews.com Minggu (2/6/2019) membenarkan kejadian tersebut.

Dilansir dari Suarabaru.id, Hasan terpaksa harus dibawa turun lantaran kondisinya memburuk setelah selama 3 pekan diketahui sedang bertapa di puncak tertinggi Pegunungan Muria tersebut.

TRENDING :  Selama Libur Lebaran Layanan Kesehatan Dimaksimalkan

Ia diketahui sudah berada di Puncak Songolikur sejak 3 pekan yang lalu. Oleh warga, korban sudah berusaha dibujuk dan diajak untuk turun akan tetapi selalu menolak, dan bersikeras untuk menyelesaikan nadzar/tirakat/lakunya tersebut.

Terakhir kondisi Hasan diketahui oleh seorang pendaki dan relawan dari Kota Semarang, yang melihat kondisi Hasan dalam kondisi lunglai dan kesehatan semakin menurun & buruk, yang minta bantuan BPBD dan relawan gabungan untuk melakukan upaya evakuasi. 

Pria ini menyatakan dirinya tengah menjalani laku batin dan memenuhi nazar yang diucapkannya untuk bertapa di Puncak Songolikur hingga 40 hari.

Namun saat berada di kawasan puncak gunung tersebut, Nur Hasan tidak melengkapi diri dengan perlengkapan dan perbekalan yang cukup.

Kondisinya diketahui memburuk oleh beberapa pendaki, yang selanjutnya melaporkan hal ini ke pihak-pihak terkait.

TRENDING :  Pusat Oleh-oleh Kaos Khas Kudus "Wong Djowo" Bagi-bagi Takjil

Tanpa perlengkapan dan perbekalan yang memadai, kondisinya ngedrop, Nur Hasan sempat diminta turun warga tidak mau. Daripada terjadi apa-apa akhirnya diberangkatkan tim untuk menjemputnya.

Mendapat laporan tersebut, tim relawan dari BPBD pun pergi untuk menjemput Nur Hasan pada Sabtu (1/6) selepas Maghrib.

Beberapa jam kemudian, posisi Nur Hasan berhasil dicapai. Pemeriksaan kesehatan langsung dilakukan, dan dipastikan kondisinya sudah mengkhawatirkan.

Sementara itu, Setyanto salah satu relawan yang terlibat dalam proses evakuasi menyebutkan, Nur Hasan berhasil dibawa ke Desa Tempur, Keling, Jepara pada jam 00.35 WIB, Minggu (2/6) dinihari. Karena kondisinya yang sudah payah, survivor tersebut harus dipapah oleh para relawan.

TRENDING :  Dibatalkan Pengadaan Baliho Sosialisasi Pemberantasan Rokok Ilegal

Secara bergantian, relawan memapah survivor dan kadang pada medan yang berat digendong secara bergantian.

Karena kurang asupan makanan dan cuaca yang dingin di kawasan puncak membuat kondisi fisiknya mengalami penurunan drastis.

“Saat ditemukan di gubug di kawasan puncak, survivor sedang tidur karena lemas. Setelah dibangunkan, kemudian diberikan makanan sebelum diajak turun ke Tempur,” jelasnya.

Nur Hasan kemudian langsung dibawa ke Puskesmas Keling sekitar jam 02.00 WIB. Mukaromah ibu dari survivor sudah menunggu di Puskesmas Keling bersama keluarganya.

Petugas Puskesmas Keling I sempat melakukan rekomendasi rawat inap setelah melakukan observasi. Namun rekomendasi ini tidak diterima oleh survivor dan keluarganya, sehingga langsung dipulangkan ke Dukuh Krajan Tengah, Desa Srikandang, Bangsri, Jepara. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :