Alasan, Mengapa Makanan Ini Dinamakan Lentog

oleh
Alasan, Mengapa Makanan Ini Dinamakan Lentog
Foto: Lentong tanjung, Selasa (03-07-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Berkunjung ke Kudus tak lengkap rasanya, jika belum mencoba makanan khas Kota Kretek satu ini. Lentog Tanjung. Makanan yang terdiri dari lontong, sayur gori, kotokan tahu dengan tambahan bawang goreng dan sambal diatasnya ini, menjadi menu sarapan masyarakat Kudus, utamanya pada akhir pekan.

Urusan cita rasa, tidak perlu diragukan lagi. Rasanya yang gurih dan lezat membuat siapapun pasti menyukai kuliner satu ini. Ditambah harganya yang sangat terjangkau yakni Rp. 4 – 5 ribu membuat lentog tanjung menjadi makanan andalan masyarakat dari berbagai macam kalangan.

Dibalik popularitasnya, ternyata tak banyak orang yang mengetahui asal usul kuliner satu ini. Menurut cerita, keberadaan makanan tradisional ini berkaitan erat dengan masa awal penyebaran Islam di daerah Kudus. Tepatnya pada zaman masuknya walisongo.

TRENDING :  Mitos Larangan Berjualan Lentog di Desa Colo

“Ceritanya, dahulu ada seorang Wali yang hendak membangun sebuah padepokan di daerah Tanjungkarang. Di tengah proses pembangunan padepokan tersebut, Sang Wali mendengar suara ‘tog-tog-tog’ seperti orang yang sedang memasak nasi,” kata Kepala Desa Tanjungkarang, Sumarno, Selasa (03-07-2018).

Karena terganggu suara tersebut, lenjutnya, Sang Wali menghentikan proses pembuatan padepokan. Wali tersebut kemudian bersabda “Rejoning zaman, wong daerah kene yen dodol sego ora payu” yang artinya, nantinya orang daerah sini jika berjualan nasi tidak akan laku.

Dari sabda tersebut, masyarakat kemudian berupaya membuat makanan pengganti nasi. Dengan berbagai bahan makanan lokal, beras dikemas menjadi sebuah makanan yang berbeda namun tetap lezat. Higga terciptalah makanan yang diberi nama lentog.

TRENDING :  Ini Rahasia Menyantap Hidangan Lezat Nasi Pindang Khas Kudus

“Hal yang kerap dipertanyakan orang adalah mengapa lontong sayur ini disebut lentog? Jawabannya, nama lentog diambilkan dari suara ‘tog-tog-tog’ yang menggangu Mbah Sukesi dalam membuat padepokan. Dari suara tog-tog-tog jadilah kata lentog,” paparnya.

Selain itu, yang membedakan lontong dan lentog adalah ukurannya. Jika pada umumnya lontong memiliki ukuran yang kecil, berbeda dengan lentog yang memiliki ukuran sebesar betis orang dewasa.

Jika pada umumnya, lontong disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng ataupun dibuat lontong tahu telur. Berbeda dengan lentog yang disajikan bersama sayur gori dan kotokan tahu tempe.

TRENDING :  Ardi, Pengusaha yang Peduli Atlet Master di Kudus

Berbicara soal sabda Mbah Sukesi atau yang dikenal dengan nama Mbah Kulah (karena di petilasannya ditemukan sebuah kulah atau jamban -red), Sumarno mengakui hal tersebut bisa dibilang menjadi sebuah kenyataan.

“Hingga kini, warga Tanjungkarang sangat jarang yang berjualan nasi. Alasannya karena kurang laku. Sehingga sebagian besar penjual nasi di daerah ini adalah orang pendatang. Untuk warga asli sini, mayoritas memang berjualan lentog tanjung,” tutupnya.

Dari banyaknya penjual lentog di daerah Tanjungkarang, membuat kuliner ini sangat erat dan tidak dapat dipisahkan dari asalnya. Tak heran, kini masyarakat Kudus menyebut makanan ini dengan sebutan lentog tanjung. (NNC/WH).

KOMENTAR SEDULUR ISK :