Garin Nugroho : Kelemahan Pelaku Seni Pertunjukan Indonesia Adalah Pada Penyusunan Proposal Art Project

Kudus, isknews.com – Sejumlah pelaku seni pertunjukan, budayawan, sanggar seni dan teater yang ada di Kota Kretek, semalam tumplek bleg di Aula FO Djarum Oasis Kretek Factory Gondangmanis Bae Kudus, Selasa (03/10/17).

Malam itu ditempat tersebut tengah digelar “Bincang Kreatif Seni Pertunjukan Indonesia” yang menghadirkan narasumber utama Garin Nugroho dan Maudy Kusnaedi serta dari Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy.

Acara yang merupakan gagasan dari Galeri Indonesia Kaya bersama Sineas Garin Nugroho dan Bakti Budaya Djarum Foundation tersebut mencoba mengekplorasi dinamika dan ruang kreatif pergerakan seni pertunjukan di daerah-daerah di Indonesia.

Menurutnya, Seni pertunjukan terus tumbuh dan berkembang di Indonesia, namun hal tersebut tidak dibarengi dengan regenerasi creator muda yang mampu terus konsisten berkarya sekaligus membangun komunitas seni di lingkungannya.

“Berangkat dari hal tersebut, kami mengadakan program kreatif yang mencari bakat-bakat seniman muda baru di dunia seni pertunjukan yang mampu bersaing dengan seniman yang ada di dalam dan luar negeri,” ujar Garin.

Program yang terbuka bagi seniman muda Indonesia dengan usia maksimal 30 tahun dan tergabung dalam komunitas seni.

Memiliki gagasan pementasan yang di tuangkan dalam Proposal art project.

“Melalui ruang kreatif ini, kami berharap seniman muda Indonesia mampu bersaing dengan seniman di dalam maupun luar negeri,” kata Garin Nugroho dalam diskusi di Gedung Kuliah Umum, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, program ruang kreatif itu berangkat dari tumbuh-kembangnya seni pertunjukan di Indonesia, namun tidak sejalan dengan tumbuhnya regenerasi kreator muda yang mampu terus konsisten berkarya sekaligus membangun komunitas seni di lingkungannya.

Kelemahan para pelaku seni pertunjukan di Indonesia adalah pada tataran penyusunan proposal Art Project, dimana para pelaku pertunjukan seni tersebut tidak memiliki kepiawaian dalam menyusun proposalpertunjukan yang efektif dan menarik bagi para endorser.

Untuk menyosialisasikan program ini, Garin Nugroho juga mengadakan “roadshow” di berbagai kota besar di Indonesia seperti Bali, Bandung dan Jakarta serta Yogyakarta. Salah satunya di Gedung Kuliah Umum, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta itu.

Garin mengatakan, terdapat beberapa komunitas seni yang terus produktif berkarya sekaligus memiliki kemampuan membangun dan meregenerasi komunitas, seperti Teater Koma, Teater Garasi, Bagong Kussudiarjo dan masih banyak lagi.

“Namun, hal tersebut tentunya tidak lepas dari kreativitas dan kemampuan mengembangkan gagasan kreatif menjadi sebuah karya kolaboratif dengan mitra-mitra strategi,” katanya.

Dalam program “Bincang Seni semalam Garin juga menggandeng Maudy Kusnaedi, mantan None Jakarta yang juga pelalakon dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang pernah popular di layar televise beberapa tahun yang lalu.

Sementara itu, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Billy mengatakan, ruang kreatif tersebut bertujuan mengedukasi masyarakat penikmat seni yang tidak hanya menikmati pertunjukan, akan tetapi dapat mengetahui proses awal dalam sebuah pertunjukan.

“Hal ini merupakan wujud peduli Galeri Indonesia Kaya untuk terus mendukung komunitas seni sekaligus menumbuhkan bakat-bakat baru kreator seni dan generasi muda dalam seni pertunjukan Indonesia,” katanya. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
FilmGarin NugrohoSeni Pertunjukan