Tasyakuran Pelantikan Bupati dengan Sinau Bareng Cak Nun dan Kyai Kanjeng

Kudus, ISKNEWS.COM – Masih dalam rangka tasyakuran pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Kudus, Tamzil – Hartopo menggelar pengajian umum “Sinau Bareng Cak Nun dan Kyai Kanjeng”, Selasa (02-10-2018) malam. Pengajian yang digelar di Alun-alun Simpang Tujuh itu ribuan masyarakat Kudus tumpah ruah memadati lokasi acara.

Mengangkat tema Mendukung Penuh Terwujudnya Kudus yang Religius dan Modern, acara tasyakuran pelantikan Tamzil – Hartopo juga digunakan untuk deklarasi terbentuknya ormas Tegas Group (TG) yang dipimpin oleh Munjahid.

Menurut penggagas sekaligus Ketua Umum TG Munjahid, kelahiran TG sebagai organisasi masyarakat (ormas) sebagai gerakan sosial masyarakat semata. “Kami kedepannya akan bersinergi dengan Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Kudus yang dipimpin Bupati Kudus periode 2018-2023 Tamzil dan Wakil Bupati, Hartopo,” ujarnya.

Selain itu, dilanjutkannya, TG siap menjadi pengawal terdepan Pemkab Kudus dalam melaksanakan berbagai bentuk program yang pro rakyat. Serta akan menciptakan Kudus yang religius, modern, cerdas dan sejahtera.

Pria yang bertubuh tambun ini menambahkan, TG adalah wujud dari persatuan seluruh unsur masyarakat Kudus dari lintas agama, sosial, partai dan golongan. “Dan semuanya berpandangan yang sama yaitu mewujudkan Kabupaten Kudus lebih baik dari segala aspek serta sisi kehidupan,” tegasnya.

Menurut Ketua Panitia, Mohammad Amin, sebelum naik panggung, Cak Nun dan rombongan akan mampir dahulu di rumah Munjahid di Desa Undaan Kidul Kecamatan Undaan. Setelah itu transit sesaaat di pendopo/pringgitan Rumah Dinas Bupati. Kemudian bersama bupati dan wakil bupati menuju Alun Alun Simpang Tujuh.

“Acara diawali dengan deklarasi TG yang dibawakan secara langsung oleh ketua Umum TG, Munjahid dan diikuti sekitar 30 orang perwakilan anggota TG se-Kabupaten Kudus. Kemudian dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pelepasan kembang api. Selanjutnya acara diserahkan sepenuhnya kepada Cak Nun dan Kiai Kanjeng,” jelas Mohammad Amin.

Cak Nun bernama lengkap Emha Ainun Nadjib atau yang biasa disebut Cak Nun maupun Mbah Nun, merupakan Budayawan ternama yang berasal dari Jombang. Lahir di Jombang, pada Rabu, 27 Mei 1953, memiliki istri bernama Novia S. Kolopaking, yang dikaruniai lima orang anak yakni Sabrang Mowo Damar Panuluh, Ainayya Al-Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, Anayallah Rampak Mayesha.

Memulai karir sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta di 1970. Lalu berlanjut menjadi Wartawan atau Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta di 1973-1976. Pernah juga, ia menjadi Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta) dan Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng serta Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media.

Dikenal sebagai seorang budayawan dan seniman sekaligus intelektual muslim. Nama besar Cak Nun sudah sangat familiar bagi masyarakat Indonesia. Meski sering berdakwah dan menyebarkan nilai-nilai Islam, Cak Nun tidak bersedia dipanggil ustadz, apalagi Kiai. Malah lebih suka disapa Cak atau Mbah saja.

Sering dan selalu menyebarkan Islam dengan nilai-nilai perdamaian. Di luar negeri pun, Cak Nun selalu membawa Islam dengan mencorakkan bahwa Islam itu damai. (NNC/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
Sinau Bareng Cak Nun dan Kyai KanjengTasyakuran Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati