Tingkatkan Kesejahteraan, Dispertanpangan Ajak Petani Bertanam Organik

Kudus, ISKNEWS.COM – Guna meningkatkan kesejahteraan, Dinas Pertanian dan Pangan Kudus mengajak petani di Kabupaten Kudus untuk bertani secara organik. Selain daya jualnya yang lebih tinggi, pangan organik dinilai lebih sehat dan ramah bagi lingkungan.
Beno, yang menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Petani dan Agribisnis menjelaskan harga beras organik yang lebih tinggi, sangat membantu meningkatkan perekonomian petani. Jika beras biasa hanya dijual Rp. 8 – 10 ribu perkilonya, lain halnya dengan beras organik yang dapat menembus angka Rp 25 ribu perkilonya.
“Saya melihat lahan pertanian saat ini sudah sangat miris. Paparan pupuk kimia yang dilakukan secara terus menerus membuat lahan pertanian menjadi semakin rusak, produktivitasnya menurun, hama semakin banyak dan kebal. Karena itu, kami mengajak kepada seluruh petani di Kudus untuk kembali bertanam secara organik,” jelasnya.
Tak dipungkiri, penggunaan senyawa kimia membuat makhluk hidup di areal persawahan mati. Menurutnya, dengan bertanam organik akan menjadikan lahan pertanian subur kembali, produktivitas tanaman meningkat, tingkat resistensi hama menurun, hasil pertaniannya berkualitas dan kesehatan manusia juga terjaga.
Terkait pangsa pasar, Beno mengaku tidak perlu khawatir. Pasalnya kini telah banyak supermarket yang mau menampung hasil pertanian. Diungkapkannya, pada era modern saat ini sekitar 10% masyarakat telah tersadar untuk membeli produk organik karena alasan kesehatan.
“Lalu 30 persen diantaranya memilih produk organik karena mengtahui kualitasnya yang lebih baik. Dan 60 persen sisanya mengkosumsi makanan yang membuatya kenyang. Melihat hal ini, tentu pasar produk organik cukup menjanjikan. Apalagi jika kita mampu mengajak 60 persen sisanya untuk beralih ke produk oranik, tentu lebih bagus,” terangnya.
Untuk sistem bertanam organik yang dirinya tawarkan menggunakan teknik SRI yang terbukti meningkatkan produktivitas tanaman hingga 50%. Diungkapkannya, teknik ini lebih menghemat air, hemat benih, hemat waktu karena panen lebih awal dan lebih produktif.
Muslikan, Petani Desa Mejobo yang menjadi peserta dalam pelatihan tersebut mengaku tertarik dengan kegiatan yang dilakukan oleh Dispertanpangan itu. Diakuinya, produk organik rasanya lebih nikmat dan sehat.
“Saya sudah sering melakukan pertanian secara organik dan hasilnya memuaskan. Nasi dari beras yang saya tanam rasanya lebih enak dan harga jualnya lebih tinggi. Meskipun bertani secara organik membutuhkan ketelatenan lebih, tetapi hal itu sepadan dengan hasil yang didapat,” ujarnya. (NNC/YM)
KOMENTAR SEDULUR ISK :
Dinas PertanianOrganikpetani