Ampyang Maulid

oleh
Ampyang Maulid

KUDUS-Dalam menyebarkan agama Islam, para Wali di tanah Jawa menggunakan media yang dapat menarik perhatian warga sekitar. Demikian pula halnya dengan Raden Thoyyib atau Sultan Hadirin. Beliau menyebarkan Islam di Loram menggunakan pendekatan sosial yang sederhana, tetapi dapat mengesankan hati siapa saja yang melihatnya. Media tersebut berupa Ampyang Maulid.

Ampyang Maulid terdiri dari kata “Ampyang” dan “Maulid”. Menurut sesepuh desa Loram Kulon, Ampyang merupakan sejenis kerupuk yang terbuat dari tepung, berbentuk bulat, dengan aneka warna. Oleh warga desa setempat, kerupuk tersebut diletakkan di bagian luar dari tempat makanan berbentuk persegi. Tempat makanan tersebut terbuat dari bambu dan kayu yang lainnya. Pada bagian sudut diberi hiasan berupa bunga jambul yang berasal dari serutan bambu dengan bentuk melingkar-lingkar, dan dibubuhi bermacam-macam warna.

TRENDING :  Jauh Sebelum Indonesia Merdeka, Tanah di Kudus ini Sudah Merdeka

Di dalamnya berisi nasi dan lauk pauk, dan diarak ke masjid Wali At-Taqwa Loram Kulon setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Kata Maulid sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti kelahiran. Jadi, kata Ampyang Maulid memiliki arti makanan yang disusun sedemkian rupa dalam suatu wadah yang diusung oleh masyarakat pada perayaan memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW di masjid Wali At-Taqwa Loram Kulon.

TRENDING :  Ribuan Warga Saksikan Tradisi Jembul Tulakan

Ampyang Maulid ini tidak hanya diikuti oleh Kades, perangkat desa dan warga desa Loram Kulon, tetapi juga diikuti oleh Kades, perangkat desa dan warga dari Loram Wetan. Dari tradisi inilah, kemudian Ampyang Maulid menjadi salah satu budaya yang terdapat di desa Loram Kulon, yang masih dilestarikan hingga sekarang. Ampyang Maulid sendiri memiliki berbagai fungsi, seperti :sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai media dakwah Islam, dan sebagai sarana jalinan sosial antar masyarakat.

TRENDING :  Dari Jagong Budaya Sepakat Bentuk Forum Kebudayaan Jepara

Sumber :

Buku Festival Ampyang Maulid ed.II 2010

Reportase bersama Bapak H. Qodir, Kadus III desa Loram Kulon

‪#‎Ulya‬

KOMENTAR SEDULUR ISK :