Asal Usul Desa Kramat Kudus

oleh
ISKNEWS.COM
Foto: Masjid Nganguk Wali, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Senin (21-05-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM).

Kudus, ISKNEWS.COM – Sebuah desa yang terletak di kecamatan Kota, kabupaten Kudus ini memiliki sebuah nama yang misterius. Desa Kramat, begitu orang menyebutnya. Nama misterius desa ini, tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Masjid Nganguk Wali yang sejak lama menjadi ikon desa Kramat.

“Saya tidak tau secara pasti asal mula desa Kramat. Saya rasa, Masjid Nganguk Wali menjadi bagian dari kisah asal usul desa ini,” ucap Sururi, Kasie Kesra, Desa Kramat.

Menurut Arkeolog, Masjid Nganguk Wali dibangun pada tahun 1405 saka atau 1438 Masehi. Hal ini terlihat dari mustoko masjid yang berbentuk kepala manusia, yang diartikan sebagai angka 1. Pandangan muka kiro dan kanan yang sama berjumlah 4. Bagian atas mustoko berbentuk bulat dan berlubang, menandakan angka 0. Mustoko dipandang dari belakang, kiri dan kanan memiliki lubang 5.

TRENDING :  Bupati Kudus Resmi Buka Pameran "Kudus Inkop UMKM Expo 2017"

“Dari mustoko tersebut disimpulkan, bahwa masjid ini dibangun pada 1405 saka. Keterangan ini dapat dilihat di papan informasi yang ada Masjid Nganguk Wali,” katanya.

Masjid Nganguk Wali ini merupakan salah satu masjid tertua di Kudus. Konon masjid ini buat oleh para wali yang dinadzirkan kepada Kyai Telingsing. Karena pada masa itu masyarakat Kudus masih memiliki kepercayaan hinduisme yang berpusat di Menara Kudus, dimana Kyai Telingsing merupakan tokoh tua dan begitu disegani oleh masyarakat Kudus saat itu.

TRENDING :  Warga Jepang Pakis Jalan Santai Peringati Harlah NU dan Gerakan Pemuda Ansor

Dengan taktik dan siasat Sunan Kudus berguru kepada Kyai Telingsing. Karena siasat dan taktik tersebut, Kyai Telingsing kesoran ilmu terhadap Sunan Kudus. Peristiwa ini pun didengar oleh para wali lainnya. Hingga para wali berdatangan ke Kudus untuk mengungkap tabir yang sesungguhnya. Sunan Kudus merupakan utusan Sultan Demak, Raden Fatah sebagai mubaligh islam di Kudus.

Lalu para wali songo tersebut bergotongroyong membangun masjid yang dinadzirkan kepada Kyai Telingsing. Masjid itu kemudian digunakan sebagai pusat dakwah islam oleh Kyai Telingsing. Kelamaan, usianya kian menua dan santrinya semakin banyak. Untuk meneruskan perjuangannya, Kyai Telingsing setiap hari “inguk-inguk” atau menengok mencari dan menunggu seseorang untuk meneruskan dakwahnya.

TRENDING :  Jangan Salah Persepsi, Produk Kental Manis Bukan Produk Susu

“Hingga Kyai Telingsing mendapatkan Sunan Kudus, sebagai sosok yang mampu menggantikan dakwahnya di tempat tersebut. Dari kisah inguk-inguk inilah, masjid tersebut kini diberinama Masjid Nganguk Wali,” ungkap Sururi.

Sepeninggal Kyai Telingsing dan Sunan Kudus. Masjid Nganguk dijadikan tempat suci atau keramat bagi masyarakat sekitar. Selain Masjid Wali, konon di daerah tersebut, dahulu banyak ditemukan makam para mubaligh yang juga dikeramatkan.

“Dari makam-makan dan Masjid Nganguk Wali yang dianggap keramat tersebut. Daerah itu kemudian disebut Desa Kramat, seperti yang kita kenal saat ini,” pungkasnya. (NNC/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :