Asal Usul Taman Sardi Kudus

oleh
Taman Sardi Kudus
Taman Sardi, Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Selasa (01-05-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Sebuah taman dengan luas 2,5 Ha, yang dipenuhi hiasan pisang tanduk di berbagai sisinya ini, rupanya menyimpan sebuah kisah yang menarik untuk diselami. Taman yang terletak di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus ini, diberinama Taman Sardi Kudus.

Sebelum menjadi sebuah taman yang indah. Tempat tersebut, dahulunya sebuah kebun warga yang banyak ditumbuhi oleh pohon pisang tanduk atau pisang byar, durian dan mangga. Hingga pada tahun1997, Arif Hermawan, datang ke Desa Kajar untuk membeli sepetak tanah di daerah tersebut.

“Pada tahun 1997, saya datang ke Kajar untuk memperluas usaha kecap. Karena di daerah Kecamatan kota, sudah padat permukiman penduduk dan harganya tanahnya cukup tinggi. Sehingga saya putuskan untuk membeli tanah di Kajar, sekaligus saya berkeinginan membuka lowongan kerja bagi masyarakat Kajar,” kata Arif, sapaan akrabnya, Selasa (01-05-2018).

TRENDING :  Mayor HM Basuno, Siapakah Dia?

Menurut Arif, daerah Kajar memiliki daerah yang strategis dan potensial. Letaknya yang strategis, memudahkan Arif dalam menyalurkan hobinya mendaki gunung. Selain itu, ia melihat Kajar sebagai daerah yang potensial dengan segala hasil perkebunannya seperti pisang tanduk atau pisang byar, jeruk pamelo, durian dan lain-lain.

“Pada tahun 2004, anak saya ada kegiatan kemah. Karena anak saya masih SD yang belum bisa mempersiapkan kebutuhannya sendiri, sehingga kami yang harus melakukannya. Pada waktu itu, dikenal dengan istilah kemah boyongan. Karena kegiatan kemahnya membawa bekal yang banyak seperti orang yang melakukan pindah rumah,” jelas Ayah dengan tiga orang anak ini.

TRENDING :  Kisah Panjang Asal Usul Desa Karangrowo

Setelah kegiatan itu usai, Arif berfikir untuk membuat kawasan perkemahan di belakang rumahnya. Dengan adanya kawasan perkemahan di belakang rumahnya, anak-anaknya tidak perlu pergi berkemah di tempat yang jauh dan anaknya tidak perlu membawa bekal banyak atau kemah boyongan.

“Hal tersebut saya sampaikan kepada pihak sekolah anak saya. Sehingga setiap ada kegiatan kemah di sekolah anak saya dilakukan dilakukan di sini. Tak disangka, banyak orang yang tertarik untuk berkemah di sini. Lalu, saya coba memperbaiki fasilitas dan sarana yang ada,” tuturnya.

Dengan mengangkat potensi pisang tanduk yang ada di Desa Kajar, Arif membuat sebuah taman yang dilengkapi dengan berbagai hiasan berbentuk pisang tanduk. Taman tersebut lalu diberi nama Taman Sardi.

TRENDING :  Jalanan Di Balai Jagong Di Blokade Gundukan Tanah, Ada Apa?

“Sardi adalah nama salah satu tukang kebun saya yang bertugas merawat halaman belakang rumah saya. Tak hanya Pak Sardi, keluarga dan saudaranya juga bekerja di sini. Kebetulan keluarga saya mengagumi pemain biola yang bernama Idris Sardi. Saat itu, saya putuskan untuk menggunakannya sebagai nama taman ini,” tegas Arif.

Dilanjutkannya, “Saya bukan warga asli Kajar. Kalau saya buat dengan nama saya, rasanya janggal dan nama itu tidak familiar di telinga masyarakat Kajar. Dari berbagai pertimbangan itu, saya mantap menjadikan nama Pak Sardi sebagai nama taman ini.” (NNC)

KOMENTAR SEDULUR ISK :