Asal Usul Tradisi Bulusan

oleh

Kudus, ISKNEWS.COM – Setiap daerah pasti memiliki cara yang berbeda-beda dalam merayakan tradisi kupatan. Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo merupakan salah satu daerah yang memiliki budaya kupatan yang cukup unik, yang diberinama kupatan bulusan.

Pada tahun ini, acara kupatan bulusan guling lebih menarik. Tidak hanya menyelenggarakan festival kirab sewu kupat dan lepet. Pada tahun ini juga dimeriahkan dengan lomba rebana se-Kabupaten Kudus, lomba gunungan, memberi makan bulus dan pentas drama bulusan.

Menurut Sudasih, Juru Kunci Petilasan Mbah Dudo, tradisi kupatan bulusan ini, konon berasal dari Sunan Muria yang menjadi salah satu Walisongo yang mensyiarkan agama Islam di Kabupaten Kudus. Kisahnya bermula dari Mbah Dudo, salah satu ulama yang menyebarkan agama Islam di lereng Gunung Muria, yang kini dikenal dengan nama Dukuh Sumber.

Bersama muridnya yang kedua Umara dan Umari, Mbah Dudo yang tinggal di daerah yang sederhana. Mereka menggantungkan dari hasil pertanian. Umara dan Umari adalah orang yang rajin dan tekun dalam menggarap sawah.

Suatu hari, di bulan Ramadhan Sunan Muria datang ke tempet tinggal Mbah Dudo untuk bersillaturrahim dan membaca Al Quran bersama untuk memperingati Nuzulul Qur’an.

Di tengah perjalanannya melewati persawahan menuju kediaman Mbah Dudo, Sunan Muria menonton suara “krubyuk-krubyuk” seperti orang yang tengah menggarap sawah. Mendengar suara itu, Sunan Muria lantas bersabda “Malam Nuzulul Qur’an Al Qur’an yang membaca Al Qur’an, sebetulnya masih berendam di udara seperti bulus saja”.

Setelah diselidiki, ternyata suara tersebut berasal dari Umara dan Umari yang sedang mengambil rumput di sela-sela tanaman padi di sawah milik Mbah Dudo. Namun naas, sabda Sunan Muria waktu itu membuat Umara dan Umari berubah menjadi bulus.

Melihat kedua muridnya berubah menjadi bulus, Mbah Dudo minta maaf atas kekhilafan kedua muridnya itu dan memohon kepada Sunan Muria agar membayar mereka menjadi manusia kembali. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur, Umara dan Umari sudah menjadi bulus dan tidak dapat diubah lagi berubah menjadi manusia.

Sunan Muria kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah yang diinjaknya. Dari situ, keluarlah mata air atau sumber, DINuh Sumber. Kejadian selanjutnya, tongkat Sunan Muria berubah menjadi pohon yang diberi nama pohon “tombo ati” (obat hati).

Sebelum meninggalkan tempat itu, Sunan Muria berkata, “Besok anak cucu kalian akan berbondong-bondong datang kemari untuk menghormatimu. Tepatnya pada satu minggu sampai bulan Syawal ”

Sudasih mengatakan perkataan Sunan Muria tersebut kini terbukti dengan adanya tradisi bodo kupat yang diperingati setiap tanggal 8 Syawal. Di Dukuh Sumber sendiri, untuk memperingati tradisi kupatan ini digelar kegiatan bulusan kupatan, yang ramai dan banyak dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah di Kudus dan sekitarnya. (NNC/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
TRENDING :  Hindari Kemacetan Bulusan di Kudus, Ini Rute Alternatif Yang Bisa Jadi Pilihan