Asuransi Usaha Tani Padi di Kudus Sepi Peminat

oleh
ISKNEWS.COM
Hamparan sawah yang ditanami padi. (Istimewa)

Kudus, ISKNEWS.COM – Progam Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) di Kabupaten Kudus rupanya masih sepi peminat. Hal ini terlihat dari minimnya jumlah lahan pertanian di Kudus yang sudah terkover progam AUTP. Bahkan, berdasarkan data yang tercatat di Dinas Pertania dan Pangan Kudus jumlah lahan pertanian yang terkover AUTP tidak lebih dari 10%.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Catur Sulistiyanto, melalui Kasie Sarana dan Prasarana, Ratih Rustiyorini mengungkapkan tahun 2018, ditargetkan ada 2000 ha lahan pertanian di Kudus yang terkover AUTP. Namun pada kenyataannya sampai saat ini hanya sekitar 120 ha lahan yang sudah terkover AUTP.

“Di Kudus ada 113 gabungan kelompok tani (gapoktan) yang telah terdaftar sebagai peserta Asuransi Usaha Tani Padi atau AUTP. Dengan luas lahan pertanian sebesar 120 ha,” sebutnya.

TRENDING :  Seorang Buruh di Kudus Diamankan Karena Kedapatan Jual Togel

Rini sapaan akrabnya, mengungkapkan cukup sulit untuk memenuhi target 2000 ha hingga akhir tahun mendatang. Pasalnya, tingkat kesadaran petani akan pentingnya asuransi usaha tani masih tergolong rendah. Padahal sejumlah kegiatan sosialiasi tentang manfaat AUTP ini sudah sering dilakukan.

“Kami sudah sering melakukan sosialisasi ke poktan maupun gapoktan, hanya saja menggugah kesadaran mereka akan pentingnya AUTP cukup sulit. Ditambah Jasindo sebagai penyelenggara, juga kurang aktif melakukan sosialisasi pada para petani,” katanya.

Hal yang sama juga diungkapkan Nurhadi, Sekertaris Desa Karangrowo. Menurutnya, sampai saat ini lahan pertanian di daerahnya belum terkover AUTP. Hal ini disebabkan kesadaran petani untuk mendaftarkan gapoktan masih rendah didukung kemungkinan gagal panen di daerahnya cukup kecil.

“Karangrowo masuk ke dalam daerah rawan banjir. Hanya saja, banjir biasanya terjadi setelah masa panen yakni pada bulan Januari. Sehingga resiko untuk gagal panen cukup kecil. Meskipun begitu, kami masih mendiskusikan hal ini dengan poktan-poktan di Karangrowo. Namun sampai ini hanya sebatas wacana,” katanya.

TRENDING :  Tiga Pilar Teken MOU Sinergitas

Dijelaskan Rini, AUTP berfungsi menjamin kerusakan akibat banjir, kekeringan serta hama dan penyakit tumbuhan atau organisme pengganggu tumbuhan yang dialami oleh petani. Dengan mengikuti AUTP, lanjutnya, petani yang mengalami gagal panen akan mendapatkan ganti rugi sebagai modal keberlangsungan usaha taninya.

Dikatakannya, tahun ini, pemerintah mentargetkan bantuan AUTP sebesar 80% dengan sasaran 2000 hektar. Dengan progam ini, petani hanya berkewajiban membayarkan 20% sisanya atau sekitar Rp. 36 ribu per hektar setiap satu musim tanam.

“Dengan membayar Rp. 36 ribu perhektar setiap satu musim tanam saya rasa tidak berat. Karena nantinya, petani akan mendapatkan ganti rugi sebesar Rp. 6 juta untuk setiap hektar sawah yang gagal panen. Ganti rugi ini, nantinya bisa dimanfaatkan petani untuk keberlanjutan usahanya,” terangnya.

TRENDING :  Capai 5,13 Persen, Kinerja Perekonomian Jateng Diatas Nasional

Dilanjutkannya, seperti yang pernah terjadi di Desa Gondhoharum yang mengalami gagal panen akibat banjir dan hama tikus. Setelah poktan atau gapoktan menajukan klaim ke Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), maka akan dilakukan pengecekan ke lokasi oleh Jasindo dan Dinas Pertanian serta PPL setempat. Setelah dinyatakan memenuhi syarat yang berlaku, maka ganti rugi tersebut segera cair dan bisa dimanfaatkan untuk keberlanjutan usaha.

“Manfaat seperti ini harus dipahami betul oleh petani, utamanya petani di daerah resiko tinggi seperti Undaan, Mejobo dan Jekulo,” ujarnya. (NNC/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :