Ayo do ” Re Gong “

by

Kudus,isknews.com – Masih teringat di tahun 80 an di Kudus kalo orang tua kita mau pergi nyumbang hajatan nikahan atau sunatan mereka bilang ” Ibu badhe teng “gong” ya nak.”.

Namun ungkapan itu sekarang sudah punah bersama dengan makanan khas dulu yang ibu bawa pulang sebagai “balen “dari yang punya gawe yaitu nasi plus sayur sukun atau nangka muda ditambah daging kerbau dibungkus daun jati dan keranjang bambu yang mirip dengan keranjang tempat membawa ayam ” Kiso “

Ini ada contoh undangan perkawinan yang tercetak tahun 1963. Di situ masih menggunakan ejaan lama seperti penggunaan lafal “dj” untuk huruf ” j” seperti djum’at Pahing dan Ngembal Redjo.

TRENDING :  Solusi Menyejahterakan Masyarakat Kreatif ala Kang Mus

Kemudian “j ” untuk huruf “y “seperti ” jang berbahagia.” Untuk nama orang ” oo ” atau “oe” untuk menggantikan “u” seperti nama ” Soekarno dan Noordin.”

TRENDING :  Menjaga Keselamatan Dari Amukan Sijago Merah.
Contoh Undangan tahun 1963

Tampak sekali undangan cukup simpel dan sederhana namun jelas tidak seperti layaknya undangan sekarang ini. Penanggalan Jawa masih dicantumkan seperti Djumat Pahing.

Sekarang ini tradisi rewang di saudara atau tetangga yang punya hajat semakin memudar. Orang lebih praktis dan tidak mau repot memakai event organizer atau pesan makanan pada perusahaan katering.

TRENDING :  Pesona Air Terjun Kali Banteng di Desa Wisata Rahtawu

Padahal disini nilai kebersamaan dan kegotong royongan terjalin antar saudara, tetangga atau rekan kerja.

Monggo ning gong lur..
Penulis : Iwan Nurdin (Pengajar SMK 2 Kudus)

KOMENTAR SEDULUR ISK :