Begini, Sosok KH.Choirozyad di Mata Putra Putrinya dan Para Santrinya

oleh

Kudus, ISKNEWS.COM – Satu persatu Ulama’ Kharismatik, sebagai sosok panutan masyarakat muslimin yang ada di kota kretek dipanggil Allah Subhanahu Wata’ala. Sebelumnya diberitakan, KH. Choirozyad, wafat pada tanggal 23 Ramadhan 1439/8 Juni 2018 pukul 05.50 di RSI Sunan Kudus.

Hal itu menjadikan duka yang mendalam bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya, tak terkecuali bagi keluarga dan para santrinya.

Dalam kesempatan saat ditemui awak media, Menurut putra pertamanya Chirzil Ala, KH. Choirozyad dikalangan keluarga, merupakan sosok yang tawadhu’ dan demokratis. Dikatakannya, ketika masih hidup Almarhum selalu berpesan kepada putra putrinya untuk merendahkan diri dan tidak untuk dikenal.

“Salah satu contohnya, Dulu pas adik saya mondok di Rembang asuhan Gus Mus, Ia tidak boleh mengaku sebagai putra kyai, waktu itu adik saya baru bilang setelah selesai nyantri disana, nah baru bapak mengucapkan terima kasih kepada pengasuh pondok,” terangnya.

TRENDING :  OJK: Masyarakat Mulai Manfaatkan Sistem Layanan Informasi Keuangan

Senada dengan Afida Ilfa putra ragil dari KH Choirozyad, menurutnya Amarhum juga dikenal sebagai bapak yang demokratis kepada putra-putrinya. Pasalnya, almarhum tidak menuntut anak-anaknya, semisal harus mondok untuk menjadi kyai.

“Kami diberikan kebebasan dalam memilih pendidikan sesuai minat bakat dan kemampuannya. Jadi, Demokratis itu ada ketika tidak menuntut putra-putrinya berkeinginan sesuai kehendak orang tua,” jelasnya.

Sementara menurut para santrinya, M.Alamul Yaqin (36) alumni Madrasah Taswiquthulab Syalafiyah (TBS) tahun 1999 sata ditemui isknesws.com waktu takziyah mengatakan, Yai Zad (sapaan akrab para santri) merupakan sosok kyai yang kharismatik, kedalaman ilmunya bermacam-macam, terutama bidang ilmu falak (astronomi) yang diturunkan ayahandanya, Mbah Tur (Sapaan KH. Turaichan Adjuhri sosok ahli falak internasional)

Hal itu dibenarkan Husaini (30) alumni TBS 2006 saat ditemui media ini ditempat dan waktu yang sama. Ia mengatakan, menyoal sejarah, baik tentang sejarah keislaman maupun zaman pra kemerdekaan, Yai Zad seseorang yang faham betul dan luar biasa daya ingatnya.

TRENDING :  Wacana Pendidikan Sarjana Untuk Pamong Desa

Husaini sengaja datang jauh-jauh dari Pasuruan Jawa Timur untuk takziyah setelah mendapat kabar dari group WA alumni TBS, “Mewakili teman santri yang lain, Ini merupakan salam perpisahan dari kami dan sebagai penghormatan terakhir kepada sang maha guru,” tandasnya

TRENDING :  Peringati Hari Sumpah Pemuda , HBC Kudus Lakukan Aksi Turun Jalan

Masih alumni TBS, ditemui terpisah, Muhammad Zamroni (27), lulusan tahun 2009, menurutnya Yai Zad merupakan sosok yang alim, dan semasa hidupnya memang ditasarufkan untuk agama, hal itu terbukti dalam perjalanan beliau banyak dihabiskan di dunia keilmuan, salah satu diantaranya mengajar di Madrasah TBS.

Menurut Zamroni, Yai Zad saat mengajar dulu sangat dihormati karena ketawadlu’annya. Beliau tidak pernah marah langsung menegur santrinya, akan tetapi jika ada yang tidak suka menurut pandangan beliau, maka akan ditegur dengan bijak lagi kasih sayang. “Beliau juga sosok yang humoris, lemah lembut dan penuh wibawa,” Terang warga Jepang Pakis Kacamatan Jati, Kudus itu. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :