Bertani Tanpa Sawah Lagi Tren di Kudus

oleh

Kudus, ISKNEWS. COM – Upaya mengajak masyarakat untuk menyukai dunia pertanian melalui pelatihan urban farming mendapatkan respon sangat baik dari kepala desa. Hal ini terungkap saat Dinas Pertanian dan Pangan Kudus menggelar pelatihan urban farming tingkat kecamatan Bae di balai desa Peganjaran.

Munaji, Kepala Desa Peganjaran, dalam sambutannya mengungkapkan rasa bangganya karena balai desanya menjadi tempat pelatihan urban farming. Sebab acara seperti sudah lama dinantikan baik dirinya sendiri maupun masyarakat.

“Sekarang ini kan pesertanya 30 orang, tetapi kan berasal dari 10 desa di wilayah kecamatan Bae. Jadi satu desa diwakili 3 orang. Oleh karena itu, kami berharap bila pelatihan seperti tidak hanya dilaksanakan sekali setahun. Kebetulan dan mumpung ini pak Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Bapak Catur Sulistiyanto hadir. Kami ingin desa kami menyelenggarakan pelatihan sendiri, namun untuk tenaga pengajarnya dari dinas. Ini sebagai solusi dan mengajak ibu-ibu PKK untuk memanfaatkan pekarangan rumahnya masing-masing,” ujar Munaji.

TRENDING :  Pemilihan Duta Wisata Kudus Masuki Tahap Seleksi Wawancara

Dijelaskan, pihaknya membuat program memanfaatkan lahan pertanian tanpa sawah. Misalnya melakukan sosialisasi tanam sayuran di polibag-polibag pada ibu-ibu PKK. Namun pelaksanaan dilakukan oleh tenaga dan perangkat desa. Sehingga karena bukan ahlinya pertanian maka hasilnya kurang maksimal.

“Bibit kita belikan, waktu sedang ramai cabai mahal. Ibu-ibu kita ajak untuk tanam masing-masing di polibag dan pot. Nah, dengan kehadiran tim dari Dinas Pertanian dan Pangan ini maka sudah tepat ahlinya. Nanti semua sarana dan prasana kita yang siapkan melalui program pemberdayaan masyarakat desa. Ini adalah ilmu baru,” lanjutnya.

Setelah melihat peralatan tanam hidroponik di dekatnya sambutan, Munaji mengusulkan agar bahan pipa untuk tanam bisa menggunakan bahan lokal yaitu bambu yang banyak tumbuh di pinggir sungai desa. Sehingga diharapkan biaya bisa ditekan supaya masyarakat makin tertarik.

“Sehingga nanti kalau di pekarangan-pekarangan rumah ada hidroponik maka ibu-ibu tidak akan kesulitan waktu akan memasak. Pengen sayuran tinggal cabut, cabai mahal juga tidak pusing. Sekali lagi, kami sangat berterimakasih adanya pelatihan ini. Dan selanjutnya kami akan mengundang kembali untuk pelatihan yang diadakan desa sendiri,” tandasnya.

TRENDING :  Dirjen PSP Kementrian RI Berikan Pengarahan Langsung Kepada Petani

Menanggapi hal ini, Catur Sulistiyanto S.Sos MM, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, menegaskan akan siap memberikan pelayanan pada masyarakat melalui pelatihan-pelatihan hidroponik di tingkat desa. Hal ini menunjukkan bila program kerjanya memberikan manfaat dan berguna untuk masyarakat.

“Alhamdulilah, terima kasih atas respon pak Kades. Tim dari Dinas Pertanian dan Pangan Kudus akan selalu siap untuk menjadi narasumber pelatihan-pelatihan serupa pada level desa. Sebab untuk saat ini program urban farming dinas baru menjangkau tingkat kecamatan/BPP. Pelatihan di kecamatan Bae ini merupakan ke tujuh, masih ada dua lagi yaitu Kecamatan Gebog dan Dawe,” terang Catur Sulistiyanto.

“Dengan semakin menyebarkan pertanian menggunakan sistem hidroponik ini, kita harapkan masyarakat akan semakin menyukai dan mencintai dunia pertanian. Sebab kalangan muda saat ini enggan bertani karena identik kotor. Nah, dengan hidroponik ini tangan-tangan mereka lebih bersih. Sedangkan ibu-ibu rumah tangga semakin mudah mendapatkan sayur dengan kualitas baik,” lanjutnya.

TRENDING :  Asuransi Tani Minimalisir Kerugian Gagal Panen

Sementara itu, terkait ide Kepala Desa Peganjaran untuk mengganti media tanam dari pipa dengan bambu desa dijawab oleh Noor Huda, salahsatu pemateri pelatihan urban farming.

“Prinsipnya bisa, karena bentuknya hampir mirip. Namun akan terkendala dan tidak praktis para proses pembuatannya. Sebab memerlukan keahlian khusus untuk menghilangkan pembatas-pembatas atau ros-rosannya,” katanya.

Imbuhnya, “Kemudian, bambu secara bahan mudah pecah. Lalu boros mata bornya cepat rusak akibat tebal dan kerasnya batang bambu. Memang kalau secara bahan relatif lebih murah karena tidak beli. Tetapi prosesnya tidak praktis. Padahal masyarakat sekarang inginya yang cepat dan praktis.” (NNC/WH).

KOMENTAR SEDULUR ISK :