BNNP Jateng : Kudus Masuk Kabupaten Dengan Pengawasan “Serius” Sebagai Jalur Peredaran Dan Penyalahgunaan Narkoba

BNNP Jateng : Kudus Masuk Kabupaten Dengan Pengawasan “Serius” Sebagai Jalur Peredaran Dan Penyalahgunaan Narkoba

007Kudus, isknews.com – Kepala Bidang Pencegahan Dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M) Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Susanto dalam sebuah wawancara dengan media ini pada saat di selenggarakannya pemeriksaan atau Tes Urine bagi aparatur sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Badan Kepegawaian Daerah Kudus, selaku leading sector, di lantai 4 ruang pertemuan Gedung Setda Kudus,  Tes Urine yang merupakan gelombang ke 3 dari beberapa tes yang sudah di lakukan sebelumnya diikuti oleh sejumlah 922 orang dan di laksanakan di lantai 4 Ruang Pertemuan gedung Setda Kabupaten Kudus. Selasa,(27/12/16) pekan lalu.

Ditemui di lokasi tersebut Susanto dalam sesi wawancara dengan media ini menyampaikan “Jawa Tengah secara umum memerlukan sebuah upaya perhatian dan penanganan yang intensif, utamanya untuk Kudus dan Jepara, karena kedua daerah tersebut merupakan jalur yang kami nilai  rawan baik peredaran dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang tersebut karena saling berkaitan, seperti yang terjadi di Jepara yang pernah terungkap oleh BNN penangkapan atas pengedaran sabu-sabu hingga berkilo-kilo gram, jadi Kabupaten Kudus juga termasuk wilayah yang perlu mendapatkan pengawasan lebih serius, dan untuk meningkatkan pengawasan itu perlu didukung pimpinan daerah yang berkomitmen terhadap bahaya Narkoba tersebut, memiliki visi dan kesamaan persepsi dalam hal pemberantasan Narkoba, Alahamdulillah Bupati Kudus ini cukup konsens dalam hal ini, bahkan sudah menjadwalkan sekitar 7000 lebih aparat sipil di lingkungannya untuk dilakukan tes urin kepada mereka secara mendadak.” ujarnya.

Mantan Kabid Pemberantasan Narkoba BNNP Jateng ini selanjutnya mengungkapkan,”Obat-obat yang beredar di lapangan juga berpotensi mengandung unsur-unsur yang bisa dianggap dalam kategori parameter obat yang di larang oleh BNN, cuma selama ini di Kudus kami belum menemukan yang positif, mungkin saja tidak masuk dalam kategori narkotika, karena untuk dianggap sebagai bagian dari obat-obatan terlarang harus tercantum dalam Undang-undang N0. 35 Tahun 2009 ada 182 jenis narkotika yang di atur dalam undang-undang tersebut, tapi banyak juga obat-obatan yang di jual di pasaran, obat-obatan jenis medis tapi digunakan untuk kegiatan non medis, sehingga memiliki dampak yang sama seperti narkotika mengandung efek adictif sehingga mengandung efek kecanduan dngan cara dicampur obat-obatan yang ada dan dengan dosis yang berlebihan,” Jelasnya.

“Nah untuk bisa memberikan early warning kepada masyarakat itu BNN tidak bisa masuk kesana karena itu bukan narkotika, karena yang bisa justru pemerintah daerah melaui Badan POM, pernah terjadi obat-obatan yang ada di pasaran, “Obat D” itu hanya obat batuk biasa cuma sehara Rp. 2000 satu kaplet, ternyata di salahgunakan oleh masyarakat di beli dan di konsumsi dalam jumlah yang banyak,masyarakat tidak menyadari efek yang di timbulkan akan menyebabkan efek permanen yang akan merusak jaringan otak manusia’,” pungkasnya. (YM)

 

 

APA KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post