Buat Bangga orang tua, Bocah Asli Kendal Bawa Oleh-oleh Hafal Alqur’an

image

Kudus, Isknews.com – Kota Kudus Jawa tengah bisa di bilang sebagai Madinatul Huffadz, kota dengan banyaknya pesantren penelur santri penghafal Alqur’an, dimana dengan sosok Mbah Arwani panggilan akrab (KH.Arwani Amin) Guru Besar yang Sanad belajar alqur’an nya sampai Rasulullah.

Bermula dari ketidak tahuan orang tua dan terus mencari akan keberadaan pesantren yang khusus mendidik santri usia dini, lantaran informasi dari tetangga dan atas dasar keinginan sendiri dengan arahan orang tuanya tentunya. akhirnya Santri cilik bernama lengkap Ahmad Iklil Nurwansyah asal kota Kendal ini di pertemukan dengan Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Anak-anak (PTYQA) Krandon Kudus, masuk pada bulan Juli 2014 .

Mengawali perjalanan suci di pesantren pada usia 6 tahun kurang 3 bulan selayaknya usia yang masih senang bermain, iklil juga merasakan kesedihan (menangis) saat berpisah (pamitan) dengan orang tua nya, dan tentunya itu hal yang sangat wajar.

image
Foto bersama dengan Pengurus Yayasan Ponpes Yanbu'ul Qur'an Kudus

Bersama santri lain nya, Selama 2 tahun bocah yang lahir di Kendal 6 Agustus 2007 ini di gembleng ustadz pembimbing dengan didikan yang terarah, Belajar membaca alquran dan menghafal (selain itu ada pelajaran umum tentu nya). Sungguh bisa menjadi spirit bagi kita, karena di usia nya yang ke 9 tahun Tepat pada bulan februari 2016 iklil hafal 30 Juz, akan tetapi seleksi tes sema’an Al-qur’an dan dinyatakan lulus pada tanggal 1-2 Mei 2016 beberapa bulan yang lalu.

TRENDING :  Begini Cara TK AT Birrul Walidain Rayakan Hari Kartini, Pamerkan Kekompakan Orangtua dan Anak

Keadaan tersebut menjadi Instrospeksi bagi kita bagaimana usia tersebut adalah baru senang senang nya bermain juga mendapat kasih sayang orang tua, mungkin dari kita belum tentu ingat apa yang kita lakukan di usia tersebut, namun anugerah terindah Allah di berikan bocah asal kendal tersebut.

Seleksi masuk di ponpes yanbu’ul Qur’an anak anak krandon bisa di bilang sangat ketat, dan lain dari pesantren umum nya, karena usia masuk pesantren nya selain minimal 5 tahun dan maksimal 7 tahun, santri harus melewati Tes daya ingat, psikologi, hafalan, dan ketepatan membaca.

Putra pertama dari tiga bersaudara ini lahir dari orang tua Bapak Saekhu Ahmad dan ibu Atik musthofiyah. Kedua Adiknya yang pertama perempuan hampir 7 tahun, dan laki-laki berusia 4 tahun.

Keluarga yang terdidik dengan nuansa keagamaan yang sangat kental, Mereka  di perkenalkan Al – qur’an sejak usia dini, terbukti jika adik yang pertama sudah hatam juz 30, dan yang adik iklil yang kedua sudah hatam hafalan surat pendek.”terang saekhu ahmad

TRENDING :  Daftar Juara Raimuna Cabang Kudus Pada 6 Giat Kejuaraan Tingkat Penegak

Proses menuju haflatul hidzaq (wisuda) yang di selenggarakan pada 25 Mei 2016,  ada serangkaian wajib yang harus di ikuti santri, sebelum di ajukan ke romo yai abah ulin (panggilan akrab KH. Ulin Nuha Arwani atau putra pendiri ponpes arwaniyyah Kudus KH. Arwani Amin), Para santri di suruh menghafal 1 orang 30 juz, dan di semak beberapa santri, .”terang ustadz Yusrul Muna pembimbing iklil yang juga pembimbing Bisma santri asal sidoarjo yang sama sama di nobatkan sebagai wisudawan terkecil di tahun kemarin.

image
Pembai'atan dan Serah terima ijasah oleh KH. Ulin Nuha Arwani

Semua ini adalah anugerah Allah yang telah di berikan oleh keluarga kami, terutama anak kami tanpa fadhal nya kita tidak akan bisa mencapai seperti ini. “Keyakinan tersebut di ungkapkan saekhu kepada Isknews.com saat selesai acara wisuda haflatul hidzaq beberapa bulan yang lalu tersebut.

Ibu nya yang juga seorang hafidzhoh ini keseharian nya Mengajar ngaji di Madrasah Taman pendidikan Qur’an atau biasa di sebut TPQ. Terkadang ada murid dari sekolah formal setingkat SMP dan SMA, yang ingin belajar menghafal Al-qur’an di rumah. Sedangkan saekhu bermata pencaharian wiraswasta.

TRENDING :  Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kudus Akan Segera Dimulai

Anak pertama dari 3 bersaudara ini dari dulu memang ingin sekali mondok. Dengan dukungan orang tua yang mengarahkan sekaligus mengajarkan Al-qur’an dengan belajar membaca nya.

Pernah suatu ketika saat kunjungan orang tua atau sambangan santri pada jum’at pertama di bulan hijriyah, pada saat itu iklil sempat ingin boyong karena peraturan yang mengikat dan hardikan yang terarah dari pembimbing pondok, lantas orang tua iklil menjawab nya dengan tegas, “tidak apa apa nak,karena kamu saat ini sedang di godog untuk tidak cengeng, belajar mandiri dan menjadi manusia yang tangguh di dalam agama nanti nya.”terangnya

image

Saekhu berharap supaya iklil bisa istiqomah menjaga hafalan nya, karena bagaimanapun hafalan tersebut bisa hilang, jika tidak di istiqomah nderes (baca al-qur’an berulang ulang), sesuai pesan abah ulin nuha arwani (putra dari pendiri pondok pesantren yanbu’ul qur’an Arwaniyyah Kudus ini” Pungkasnya. (Jivan)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post