Cabai Mahal ? Inilah Inspirasi Kisah Sukses Petani Cabai Dan Bawang Merah Dari Kediri

Cabai Mahal ? Inilah Inspirasi Kisah Sukses Petani Cabai Dan Bawang Merah Dari Kediri

Kudus, isknews.com – Harga cabai di pasasaran yang semakin melonjak tinggi pada minggu-minggu ini, sempat membuat masyarakat terhenyak, tak kurang seorang menteri di jajaran bidang ekonomi Kabinet Kerja Jokowi, meminta warga untuk menanam cabai sendiri, bagi mengatasi melonjaknya harga komoditas pertanian jenis cabai dan bawang merah di Indonesia.

Inspirasi kisah sukses seorang petani cabai dan bawang dari Pare Kediri Jawa Tmur ini seperti di tuturkan oleh Achmad Taufiq, Pimpinan Jurnal ekora dan Ketua Komunitas Pertanian Organik Kudus, serta  penulis lapas ISK untuk masalah-masalah pertanian,  barangkali bisa menjadi inspirasi bagi para petani yang ingin berkonsentrasi pada komoditas cabai dan bawang merah.

Dengan sebuah ketekunan dan kerja keras memang semua hal yang kita lakukan akan bisa menghasilkan hasil yang positif dan maksimal. Hal inilah yang juga berlaku pada kisah petani sukses tanaman cabe dan bawang merah asal Pare, Kediri Jawa Timur yaitu H Bambang Sumadji HS. Ya, dengan ketekunan, ketelatenan dan kerja keras yang dijalankannya, maka pria 49 tahun ini kini sudah sukses. Bagaimana tidak dengan omset yang mencapai Rp 50 Milyar per bulan maka tidak ada yang bisa menyangkal lagi kesuksesan Bambang Sumadji.

Kisah Awal Petani Sukses Bambang Sumadji dimulai pada tahun 1977. Ketika itu dengan uang sebesar Rp 1,5 juta yang diperolehnya dari pengajuan kredit Bank BNI, Bambang melakukan penanaman bawang merah di atas lahan sewaan seluas 1 hektar. Tak dinyana dari apa yang dilakukan pada awal usahanya ini Bambang mendapatkan hasil yang lumayan baik. Pada panen awalnya saat itu Bambang mampu mendapatkan 7 ton bawang merah yang kemudian dijualnya dengan harga Rp 150 per kilogram (harga tahun 1997).

Dalam waktu satu tahun sendiri pria yang pernah kuliah di Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya ini kala itu mampu memanen bawang merahnya sebanyak tiga kali. Ini artinya dalam satu tahun Bambang mampu meraup hasil Rp 3,15 juta rupiah (tahun 1997). Perkembangan Usaha Tani Bambang Sumadji Dari setiap keuntungan yang didapat itu sedikit demi sedikit Bambang menggunakannya untuk pengembangan usaha bawang merah.

TRENDING :  5 Tahun Terakhir Luas Lahan Pertanian Di Kudus Terus Menyusut

Dari sinilah kepemilikan lahannya pun berkembang semakin luas menjadi 200 hektar yang tersebar di tersebar di Sukomoro Nganjuk dan juga Sidowarek serta Plemahan, Pare, Kediri. Tidak hanya itu pemasaran usaha pertaniannya juga telah meluas hingga Indonesia Timur. Dari perkembangn usaha ini Bambang juga kemudian meluaskan usahanya pada penanaman cabe pda lahan seluas 25 hektar di desa Pelem, Pare.

Maka dari keseluruhan lahan pertanian yang dimilikinya ini Bambang bisa memanen 28 ribu ton bawang merah, dalam dua kali masa panen. Sedangkan pada komoditas cabe merah sendiri dengan total luas satu hektar maka akan menghasilkan 20 ton dalam panennya. Dari sini maka dalam setahunnya, bambang bisa memperoleh 500 ton per tahun dari kedua komoditi yang ditanamnya ini. Kewalahan Penuhi Permintaan Untuk komoditi bawang merah ini, Bambang mengaku masih kewalahan memenuhi permintaan pasar meski panen telah mencapai ribuan ton.

Bahkan untuk kawasan Indonesia Timur yang sebelum dipasoknya kini tak sanggup lagi disupplai-nya. Mengapa bisa demkian? Sebab, menurut Bambang untuk kebutuhan sendiri saja, ia masih kekurangan bahan. Bahkan pada tahun 1991 sendiri Bambang tak lagi menjual bawang merah dalam kondisi mentah, namun lebih dari itu Bambang sudah mengolahnya. Olahan bawang merah yang digoreng produksi Bambang ini sendiri diberi nama atau merek Bagindo.

Nah untuk produksi Bagindo ini Bambang mengaku membutuhkan pasokan 150 ton bawang merah mentah. Pabrik Usaha Bambang Sumadji Pabriknya sendiri saat ini telah dibantu oleh 150 karyawan dengan gaji rata-rata Rp 500 ribu/bulan hingga Rp 1 juta. Selain membuat bawang goreng kemasan, di pabriknya ini Bambang juga membuat sambal pecel dengan merek yang sama yaitu Bagindo. Untuk produksi sambel pecel ini, bambang dibantu oleh 50 karyawan dengan total produksi mencapai 30 ton sambal pecel per bulan.

Untuk pemasaran hasil-hasil pertanian dan produksinya ini Bambang memiliki 20 unit armada angkutan jenis L-300. Terjun ke Dunia Perbankan Setelah sukses di bidang pertanian dan juga produksi bahan makanan, Bambang kembali meluaskan bidang usahanya ke perbankan.

TRENDING :  Ratusan Hektar Sawah di Wonosoco Terancam Gagal Panen Akibat Banjir Bandang

Dididik Belajar Jual-beli dan Istiqomah Sejak Kecil Kesuksesan yang didapat oleh Bambang Sumadji ini memang tidak bisa dilepaskan dari didikan orangtuanya saat dirinya masih kecil. Sejak kecil sendiri Bambang dididik orang tuanya untuk selalu istiqomah dengan apa-apa yang dikerjakannya. Keluarga Bambang yang berlatar belakang petani dan pedagang ini akhirnya juga mendidik Bambang dalam dua bidang ini.

Menurutnya, tak jarang dirinya selalu dilibatkan oleh orang tuanya dalam kegiatan jual beli hasil pertanian. Keterlibatan Bambang dalam hal ini misalnya saat terjadi transaksi atau diskusi-diskusi usaha. Dari keterlibatan Bambang dalam kegiatan jual beli sejak kecil inilah maka kemudian naluri bisnisnya tumbuh dan terus bertumbuh. Bahkan menurutnya beberapa hal seperti kiat menangkap peluang usaha juga banyak diperolehnya dari pembelajaran sejak kecil tersebut.

Amanah Jauh Lebih Penting Dari Modal Dari sekian banyak pembelajaran yang diberikan orang tuanya, Bambang mengaku bahwa ilmu yang paling penting yang pembelajaran yang ada adalah soal amanah (kepercayaan). Menurutnya amanah memang adalah hal yang sangat penting dari proses bisnis itu sendiri. Bahkan saking pentingnya amanah ini ia bisa mengalahkan apapun termasuk modal. Atau boleh dibilang amanah adalah modal yang paling penting dari dunia usaha (entrepreneur).

Maka menurutnya, bila bisnis dijalankan hanya dengan mengutamakan modal besar tanpa amanah maka usaha ini akan bisa jeblok (bangkrut). Pentingnya Istiqomah Dalam sebuah usaha, apapun itu bentuknya termasuk bidang pertanian, maka istiqomah adalah yang juga penting untuk dilakukan setiap pebisnis menurut Bambang. Masalah jatuh bangun, untung dan rugi adalah hal yang biasa saja dalam bisnis. Jadi ketika usaha sedang turun, seorang pengusaha tidak boleh lantas menyerah dan putus asa.

Tapi lebih dari itu mereka harus tetap istiqomah (tetap terus bergerak dan tekun) dalam usahanya. Jika pengusaha sudah menyerah saat jatuh maka mereka akan sulit untuk mencapai bangkit dan suskes, tutur Bambang. Bambang sendiri sudah sangat sering mengalami jatuh bangun usaha. Bahkan ditahun 1994 usahanya pernah nyaris bangkrut. Kejatuhan usahanya saat itu sendiri terjadi karena ia mengalami kegagalan panen. Saat itu ia harus menanggung kerugian hingga mencapai Rp 1 miliar lebih.

TRENDING :  62 Peserta Ikuti Agro Expo UMK

Sadar Akan Kekuasaan Tuhan Kejatuhan yang sangat berat tahun 1994 saat itu membuat Bambang kemudian tersadar akan kekuasaan Tuhan. ya, saat itu ia merasa ditampar oleh Tuhan agar berubah dan memikirkan orang lain juga, sebab sebaik baik manusia hidup adalah manusia yang member manfaat bagi orang lain. Nah dari sini kemudian Bambang pun banyak berkontribusi dalam kegiatan sosial dan ke-umatan. Setiap tahunnya dari laba bersih sebesar 500 – 700 juta rupiah, Bambang mengeluarkan 15% untuk zakat usahanya.

15% dari zakatnya sendiri disalurkan ke para bekerja pabrik, lembaga-lembaga sosial, serta buruh tani di lingkungan perusahaan. Ikut Serta Dalam Pemberdayaan Ekonomi Petani Jiwa sosial Bambang sendiri terus meluas pada hal lain. Sebagai seorang koordinator Kopermas (Koperasi Peran Serta Masyarakat) di wilayah Kediri dan Madiun, Bambang memang kemudian diberikan tanggung jawab untuk memberdayakan perekonomian para petani.

Nah untuk hal inil kemudian Bambang mendapat kesempatan bersama lembaga swadaya masyarakat PPM (Pusat Peran Serta Masyarakat) Jawa Timur untuk mewujudkan pemberdayaan ekonomi para petani tersebut. Lembaga swadya masyarakat PPM ini sendiri memang memiliki gungsi untuk membantu para petani dalam beberpa hal seperti menyalurkan KUT (Kredit Usaha Tani), pengadaan pangan, penyediaan saprodi (sarana produksi padi), serta menampung hasil panen.

Masa Depan Sektor Pertanian yang Cerah Menurut Bambang, masa depan pertanian Indonesia kedepan akan sangat cerah. Hal ini terbukti dari potensi agribisnis yang terus mengalami peningkatan yang fluktuatif. Optimisme Bambang sendiri juga didukung oleh kondisi masa reformasi yang membuatnya mudah mendapatkan informasi penting dan bermanfaat mengenai dunia pertanian. Keterbukaan informasi yang menunjang pertanian ini memang sangat sulit didapatkan para petani termasuk Bambang dulu ketika masa orde baru. (A Taufiq/YM)

*Bila ingin berkonsultasi atau gabung bersama dalam menanam bawang dengan pola modal patungan untung dibagi bersama, silahkan hubungi Achmad Taufiq ( 081914020218)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post