Cegah Awak Angkutan “Nengkik”, Tarif Moda Wisata di TBK Kudus Diseragamkan

Cegah Awak Angkutan “Nengkik”, Tarif Moda Wisata di TBK Kudus Diseragamkan

Kudus, isknews.com – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus kini menerapkan tarif bagi semua model angkutan (moda) wisata yang melayani para peziarah dari Terminal Bakalan Krapyak (TBK) ke Masjid Menara Kudus. Pemberlakuan yang sekaligus penyeragaman tarif itu, untuk memberikan kenyamanan bagi para peziarah, sehingga bisa mengetahui berapa besar biaya tranportasi yang dibayar, sesuai moda angkutan wisata yang dipilihnya.

Bersamaan dengan pemberlakuan tarif, angkutan wisata jenis becak, kini disentralkan di TBK, termasuk becak yang semula beroperasi di Masjid Menara. Di TBK sudah disediakan pangkalan becak tempat antri menunggu para peziarah. Di pangkalan itu juga disediakan ruang istirahat bagi pengemudi becak.
Kepala TBK, Williyanto, yang dihubungi isknews.com, Senin (13/11), di ruang kerjanya, mengatakan hal itu.

Menurut dia, tarif moda angkutan wisata di TBK besarnya bervariasi, sesuai jenis moda wisata yang dioperasikan khusus melayani pezirah. Yakni, untuk angkutan wisata becak sebesar Rp 15.000/dua orang, angkudes/bolo”/andong Rp 5000/orang dan ojek Rp 8000/orang. “Tarif itu berlaku untuk sekali jalan, dari TBK ke Masjid Menara Kudus.”

Dalam upaya memberikan sosialisasi dan informasi, lanjutnya, pengelola TBK memasang spanduk yang memuat beaya tarif transportasi, di bagian depan kantor terminal tersebut. Cara penjualan tiket, setiap ada bus rombongan peziarah masuk ke TBK, pimpinan atau ketua panitia rombongan, diminta turun melapor ke petugas di kantor TBK, sekaligus membeli tiket sejumlah anggota rombongan. “Biasanya pimpinan rombongan nalangi dulu, membelikan tiket untuk rombongannya. Sebelumnya sudah berkoordinasi dulu, jenis angkutan wisata yang akan dinaiki, menuju Masjid Menara.”

Mengenai tujuan dikenakannya tarif itu, selain agar transportasi berjalan tertib, juga untuk menghindari kemungkinan adanya awak moda angkutan wisata yang menarik bayaran lebih tinggi kepada para peziarah. Dengan adanya tarif yang seragam itu, awak angkutan wisata tidak akan berani “nengkik”. Karena dengan sistem tiket, awak angkutan wisata tidak menarik bayaran langsung kepada peziarah, melainkan menerima tiket. “Tiket tersebut bisa ditukarkan dengan uang di Kantor TBK, sesuai jumlah dan nilai tarif,” jelas Kepala TBK Kabupaten Kudus. (DM)

TRENDING :  Ombudsman Sidak Jembatan Batang Bambu di Kelurahan Sunggingan
KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post