Dandangan berasal dari kata “ndang-ndang”

Dandangan berasal dari kata “ndang-ndang”

KUDUS-isknews.com.Keramaian menyambut datangnya bulan puasa atau bulan Ramadhon, dengan nama atau sebutan apapun, tujunanya adalah sebagai refleksi kegembiraan dari umat Islam, dalam menyongsong tibanya bulan suci yang diagungkan itu.

Di Kabupaten Kudus, keramain yang sudah menjadi tradisi selama puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun itu, dikenal dengan nama Dandangan. Konon menurut para orang tua atau sesepuh yang sudah lama mendiami daerah Kudus Kulon, nama Dandangan berasal dari kata berbahasa Jawa, “ndang-ndang”, yang dalam Bahasa Indonesia berarti “lekas-lekas”. Maksudnya agar setiap orang yang akan berpuasa agar lekas-lekas mempersiapkan diri menyambut bulan puasa, terutama mempersiapkan makan sahur.

Kebutuhan sahur itulah yang kemudian banyak bermunculan pedagang yang “mremo” atau berjualan sesaat, khusus melayani orang atau umat Islam yang akan berpuasa. Sehingga di sekitar Masjid Menara dan Masjid Agung Simpang Tujuh, banyak orang berjaualan aneka masakan yang muncul pada setiap keramaian Dandangan, yakni nasi kuning dengan lauk ayam goreng, dan lauk pelengkap lainya, seperti samber goreng dan lain-lain. Sedangkan untuk makanan khas lainya, adalah intip ketan. Namun pada kenyataanya, bukan hanya penjual makanan yang meramaikan Dandangan, karena selain itu juga ikut “mremo” pedagang pakaian, mainan anak-anak, dan yang menjadi ciri khas adalah “gerabah” atau mainan anak-anak terbuat dari tanah liat.

TRENDING :  Panggung Tirakatan dukuh Singopadon Usung Drama Perjuangan Kemerdekaan

Sesungguhny, makna kata “lekas-lekas” bukan hanya terbatas pada apabila sudah terpenuhi kebutuhan makan sahur, melainkan yang berhubungan dengan keterbatasan sarana teknis ilmiah modern, dalam menetukan “rukyat” (melihat bulan punama yang muncul sebagai tanda awal bulan puasa). Pada masa dahulu, untuk menentukan rukyat itu masih sepenuhya tergantung pada alam, yakni denga cara menunggu muncunya bulan di langit pada waktu senja.

TRENDING :  Keluarga Kudus Yogyakarta (KKY) Ikuti Acara Java Ethnic Artnival (JEA)

Karena itu pengumuman yang disampaikan kepada masyarakat ramai itu lebih sering mengalami keterlambatan. Dari keterlambatan itulah lahir seruan dengan kata “ndang-ndang”, yang lama-kelamaan berubah menjadi Dandangan. (Darmanto Nugroho)

TRENDING :  PPNI Kudus Gelar Seminar Nasional & Workshop Kesehatan
KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post