Dinas PKPLH Geber Pertumbuhan Sekolah Sekolah Adiwiyata Di Kudus

oleh
Ilustrasi sdekolah adiwiyata yang berbasis lingkungan hidup (Foto: istimewa)

Kudus, isknews.com – Adiwiyata adalah salah satu program Kementrian Lingkungan Hidup dalam upaya rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah dapat ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan yang negatif.

Tujuan Program Adiwiyata adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah agar menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah (guru, murid dan pekerja lainnya), sehingga dikemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya – upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Program Adiwiyata dikembangkan berdasarkan norma – norma dalam berperikehidupan yang antara lain meliputi: kebersamaan, keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Guna mewujudkan generasi muda yang peduli dan berbudaya lingkungan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) terus mendorong pertumbuhan sekolah adiwiyata di Kabupaten Kudus.

TRENDING :  Kembangkan Bakat Kreativitas, 391 Siswa Ikuti Pekan Seni Pelajar Kabupaten Kudus

Kepala Dinas PKPLH melalui Kabid Pembinaan dan Pengembangan Kapasitas Lingkungan Hidup via Kasie Pengembangan Kapasitas Lingkungan Hidup, M Syafrudin mengatakan bahwa pihaknya telah menggandeng Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) untuk bersama melakukan sosialisasi dan pembinaan sekolah adiwiyata di Kudus. Sebagaimana Permen LH RI Nomor 5 tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksaan Program Adiwiyata.

“Di Kudus total ada 63 sekolah adiwiyata. Tiga sekolah adiwiyata tingkat Mandiri, 13 Nasional, 15 Provinsi dan 32 tingkat Kabupaten dan jumlah tersebut akan terus kami tingkatkan,” katanya. Hal tersebut, direalisasikan dalam bentuk sosialisasi mengenai konsep sekolah adiwiyata terhadap sekolah-sekolah yang bukan adiwiyata.

Tak hanya itu, Rudi, sapaan akrabnya juga menuturkan bahwa selama ini pihaknya aktif melakukan pembinaan dan pemberian fasilitas bagi sekolah adiwiyata di Kudus. Untuk fasilitas yang diberikan antara lain berupa, tempat sampah pilah, biopori, biokomposter slogan dan sarana prasarana bank sampah sekolah yang berkaitan dengan upaya pengelolaan lingkungan sekolah.

TRENDING :  Pemuda harus Bisa Filter Informasi Hoax Dan Ujaran Kebencian

Untuk menjadi sekolah adiwiyata, harus memenuhi empat komponen, yakni kebijakan berwawasan lingkungan, pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan lingkungan berbasis partisipatif dan pengelolaan sarana prasarana pendukung yang ramah lingkungan.

“Untuk komponen satu dan dua, pembinaan dilakukan oleh Disdikpora. Sedangkan Dinas PKPLH masuk kedalam komponen tiga. Dan komponen empat dilakukan Dinas PKPLH bersama dengan Disdikpora. Kami melakukan pembinaan teknis pengelolaan lingkungan di sekolah. Misalnya, pembuatan dan pengelolaan biopori, penghijauan, kantin sehat dan sampah yang ada di sekolah,” jelas Rudi.

Dikatakannya, untuk menjadi sekolah adiwiyata sebenarnya cukup mudah. Keinginan dan kesadaran  yang besar dari warga sekolah untuk menerapkan budaya peduli lingkungan menjadi modal awal yang harus dimiliki. Setelah itu, pihak sekolah dapat meminta ke Dinas PKPLH ataupun Disdikpora untuk memberikan sosialisasi sekolah adiwiyata. Jika telah disepakati dan memenuhi persyarakatan administrasi barulah sekolah tersebut dapat mengajukan diri sebagai sekolah adiwiyata.

TRENDING :  Pagi Tadi Hari Terakhir MOS, Hindari Kekerasan, Senior Dan Yunior Tidak Bersinggungan Fisik

Berbicara mengenai sekolah adiwiyata, Rudi menegaskan bahwa sekolah adiwiyata memiliki lingkungan yang lebih bersih, sehat dan nyaman. Sehingga semua warga sekolah maupun masyarakat yang berkunjung ke sekolah tersebut akan merasa senang.

Pasalnya, sekolah adiwiyata memiliki tugas untuk mewujudkan warga sekolah yang bertanggungjawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, melalui tata sekolah yang baik. Tak lain tujuannya untuk mendukung pembanunan berkelanjutan. Yang dilmuali denga tiga M yakni Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil dan Mulai dari sekarang.

“Hal terpenting yakni budaya cinta lingkungan yang dimiliki oleh warga sekolah adiwiyata sangat berbeda dengan sekolah pada umumnya. Misalnya saja budaya membuang sampah. Siswa yang berasal dari sekolah adiwiyata akan membuang sampah sesuai kelompoknya. Karena sekolah adiwiyata adalah sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan,” pungkasnya. (YM/YM)

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :