Dituding Jadi Penyebab Banjir, Warga Hadiwarno Bongkar Paksa Saluran Air Yang Ditutup Padas Keluarga Salamun

Dituding Jadi Penyebab Banjir, Warga Hadiwarno Bongkar Paksa Saluran Air Yang Ditutup Padas Keluarga Salamun

Kudus, ISKNEWS.COM – Warga Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo mendatangi rumah keluarga Salamun yang berada di RT 06 RW 02, Minggu (12/02/2017). Mereka menuntut pembukaan saluran air sekunder Dam Ingas Sungai Piji yang ditutup menggunakan tanah padas oleh keluarga Salamun, karena dituding menjadi penyebab banjir yang terjadi di desa setempat.

Warga Hadiwarno membongkar paksa saluran air yang ditutup tanah padas oleh keluarga Salamun, Minggu (12/02/2017). (ISKNEWS/MUKHLISIN)

Puluhan warga mendatangi rumah Salamun pukul 06.30 WIB untuk melakukan lobi, agar saluran air yang ditutup menggunakan tanah padas tersebut dibuka kembali secara suka rela dari pihak Salamun. Pertemuan antara warga dan keluarga Salamun dan warga disaksikan Kepala Desa Hadiwarno Sugiyarto, Babinsa, perwakilan Dinas Pertanian Kudus, dan perwakilan Pemerintah Kecamatan Mejobo.

Kepala Desa Hadiwarno Sugiyarto dalam pertemuan itu menjelaskan, dirinya mendapat laporan dari warga yang bermaksud melakukan pembongkaran tanah padas yang menutupi saluran air.

(ISKNEWS/MUKHLISIN)

Disampaikannya kepada pihak keluarga Salamun, akibat tertutupnya saluran air tersebut berdampak beberapa rumah warga kemasukan air saat terjadi hujan lebat. “Karena saluran airnya tertutup menimbulkan genangan dan berimbas beberapa rumah kemasukan air saat hujan deras terjadi,” tuturnya saat dilakukan pertemuan di ruang tamu rumah Salamun.

TRENDING :  Miris, Suami Diduga Tega Bakar Istrinya

Sugiyarto menambahkan, dalam aksi yang dilakukan warga itu sebenarnya tidak mendapat izin dari Pemerintah Desa Hadiwarno. Karena status saluran air tersebut masih sengketa dan saat ini dalam proses pembahasan di Dinas PUPR Kudus.

“Saya selaku Kepala Desa Hadiwarno meminta agar masalah ini diselesaikan secara baik-baik, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Selain itu, posisi saya berada di tengah-tengah tidak memihak siapapun karena semua sama-sama warga Hadiwarno,” tegasnya.

Ditambahkan Sugiyarto, sesuai peta dan C desa memang tidak ada saluran air. Artinya saluran yang berada di tanah milik keluarga Salamun memang milik pribadi. Dulu, lanjutnya, saluran air tersebut dibangun dan disewa PTPN IX PG Rendeng Kudus untuk digunakan mengairi tanah pertanian.

TRENDING :  Tim Pendamping Mufiatun "Korban Penganiayaan Majikan", Kunjungi Polres Kudus

“Tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak disewa PTPN IX PG Rendeng,” ujarnya.

(ISKNEWS/MUKHLISIN)

Demi kebaikan bersama, Sugiyarto menyarankan kepada keluarga Salamun sementara waktu membuka arau membongkar tanah padas yang menutup saluran tersebut. “Kami sarankan dengan kerelaan hati keluarga Salamun, sementara waktu saluran itu dibuka karena musim hujan ini intensitasnya lebih sering deras. Kasihan warga yang rumahnya tergenang, biar sama-sama baiknya ke depan,” jelasnya.

Namun saran yang diberikan Sugiyarto ditolak mentah-mentah keluarga Salamun. Salah satu perwakilan keluarga Salamun, Suparman mengungkapkan keluarganya tidak rela jika tanah padas yang berada di saluran air itu dibongkar. Sebab, itu adalah hak keluarganya karena berada di tanah sendiri.

Suparman yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Hadiwarno juga mempertanyakan perihal pemaksaan warga membongkar tanah di saluran tersebut. “Kami tegaskan dari pihak keluarga tidak rela jika dibongkar. Jika memang warga nekad membobgkar kamj akan ambil langkah hukum,” ucapnya jengkel.

TRENDING :  Sawah Petani Hadiwarno Terancam Tak Teraliri Air
(ISKNEWS/MUKHLISIN)

Sementara itu perwakilan warga Jamian mengatakan, dizinkan atau tidak warga tetap akan membongkar paksa. Karena tersumbatnya saluran air mengakibatkan kerugian bagi warga sekitar. Selain mengakibatkan banjir juga membuat akses ke sawah yang berada di belakang rumah Salamun menjadi tertutup.

“Ini selain saluran airnya ditutup dengan tanah padas, akses menuju sawah juga ditutup dengan terpal. Kami minta lah supaya dibuka kembali secara suka rela. Tapi kalau memang tidak dibuka, kami akan bongkar paksa,” tuturnya.

(ISKNEWS/MUKHLISIN)

Dua jam berunding tidak ada kesepakatan damai. Warga akhirnya membongkar paksa terpal yang menutup akses ke sawah dan tanah padas yang menutupi saluran air. Dari pihak keluarga Salamun tidak melakukan perlawanan, hanya saja mencatat satu per satu warga yang ikut aksi pembongkaran. (MK/FT_Guest)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post

Comments are closed.