Djati Solechah Berikan Tips Deteksi Sebuah Informasi Hoax Atau Fakta

Djati Solechah Berikan Tips Deteksi Sebuah Informasi Hoax Atau Fakta

Kudus, isknews.com – Trend Berita Hoax, sudah sangat menggejala dewasa ini, utamanya di ranah media soaial ataupun portal -portal berita abal-abal (tak jelas), hal ini seiring dengan pesatnya penyebaran informasi dan media massa melalui teknologi informasi, sehingga memudahkan manusia untuk melihat informasi maupun berita yang ada di dalam negeri maupun luar negeri dengan kecepatan informasi yang relatif tinggi.

Namun sebelum kita lebih mendalami tentang sebuah informasi maupun berita yang telah kita baca, setidaknya kita cari dulu kebenaranya atau sumber yang valid apakah berita tersebut fakta dengan kejadinya yang sebenarnya atau hanya sebuah karangan orang yang iseng yang suka menyebarkan sebuah berita yang tidak sesuai dengan fakta ( hoax ).

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Kesatuan Kebangsaan dan Politik Kabupaten Kudus, Djati Solechah saat di temui usai menjadi penyelenggara acara  Sosialisasi Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Kab Kudus Tahun 2017 dengan tema ” Trend” Berita Hoax dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Bermasyarakat Berbangsa dan Bernegara”yang di gelar di aula Balai Desa Rendeng Kudus, Selasa, (21/2/17).

Terkadang sulit untuk kita sadari dan membedakan apakah itu berita fakta ataupun hoax, untuk itu kita harus mencermati terlebih dahulu sebelum membacanya. “Berita hoax sekarang sudah mendarah daging di dalam media massa kita, buktinya banyak anak-anak remaja, penjabat negara, maupun mahasiswa sekalipun masih belum mengetahui berita itu hoak atau fakta, sangat sulit sekali untuk membedakan baik berita,informasi,maupun gambar-gambar hoax karena semakin canggihnya teknologi untuk membuat semua tentang berita hoax tersebut,” ujarnya.

TRENDING :  Bupati H Musthofa : Kudus Kabupaten Pertama Di Jawa Tengah, Yang Bekerjasam Dengan BPJS Dalam Program Perizinan Secara Online

Sehingga masyarakat awam lah dengan mudahnya menjadi sasaran untuk wadah berita-berita hoax, karena masyarakat awam tidak mengerti apa-apa oleh karena itu kognitif dan psikomotorik masyarakat awam lebih mudah di pengaruhi oleh adanya berita-berita hoax tersebut.

Tak heran jika berita hoax sering tersebar luas di bandingkan oleh berita-berita aktual yang berupa fakta atau kebenaran, kembali kepada pemikiran manusianya perlu adanya kontruksi mental di dalamnya karena sulitnya manusia untuk berfikir kritis dan mencermati suatu hal yang di anggap itu penting.

“Oleh karena itu jika ada berita-berita atau informasi yang berada di media massa maupun di media sosial jangan kita share terlebih dulu baca dan cermati kembali kalau perlu cari informasi yang lebih akurat dan lebih mendalam lagi tentang berita yang kita anggap itu menarik dan penting,” tuturnya.

TRENDING :  JAWA TENGAH BAGIAN SELATAN DIKEPUNG BANJIR DAN LONGSOR, 3 TEWAS DAN 4 MASIH DICARI

Djati Solechah memberikan tips bagaimana cara untuk membedakan secara komprehensif antara berita hoax dan fakta, Sumbernya jelas, bukan hanya sekedar opini, tapi dapat di konfirmasi langsung dari latar belakang sumbernya, Sistematis, Rasional, logis dan tidak emosional, jadi berita tersebut di sampaikan secara sistematis ( beruntun ) jelas, sesuai fakta, logis dan dapat di tangkap oleh nalar sehingga bisa di pertanggung jawabkan.

“Bukan lagi di buktikan dengan gambar atau foto kita bisa langsung menganggap bahwa berita itu benar, karena dengan kecanggihan teknologi beberapa orang bisa mengedit gambar tersebut hingga nampak nyata. Ironisnya lagi, berita hoax dapat merugikan berbagai pihak, seperti pencemaran nama baik, menimbulkan fitnah dan dapat mempengaruhi pola fikir yang negatif sehingga kita refleksikan dengan lisan maupun tulisan,” kilahnya.

Biasanya berita hoax lebih banyak di sukai dan di minati oleh masyarakat maupun pembaca, karena berita hoax telah di desain dan di beri cita rasa karangan belaka yang bersifat kebohongan dan kemunafikan si penulis maupun si penyebar hoax. Untuk itu perlunya kewaspadaan terhadap berita dan informasi hoax karena bisa mempengaruhi perilaku dan tindakan kita sangat di pengaruhi oleh informasi yang bisa masuk ke dalam pikiran dan hati kita.

TRENDING :  Keseruan Anak-anak KB Syamsa Auladina Saat Kunjungan ke Museum Jenang

“Karena informasi yang sifatnya hoax lebih panjang dari rel kereta api kalau sudah menyebar luas di dalam kehidupan masyarakat maka informasi tersebut dengan mudahnya tersebar layaknya sepeti air mengalir, apalagi sekarang banyaknya pengguna media sosial, seperti Facebook, Twiter, BBM, Instagram, DLL, sehingga dengan mudahnya mereka megakses informasi dan meyebarkan informasi yang telah mereka akses,”tandas Djati.

Menurut Djati, para penyebar berita dan informasi hoax akan mempeoleh sanksi yang tegas sebagaimana yang di jelaskan di dalam Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik supaya mereka jera atas perbuatan yang selama ini sudah membuat informasi berupa kebohongan yang bisa menimbulkan konflik sosial antar suku, agama, ras dan antar gololongan (SARA).
“Intinya masyarakat harus waspada dan jangan tergoda untuk ikut mneyebarkan berita yang ternyata Hoax, karena yang men “share” berita hoax pun berpotensi terkena sangsi Undang-Undang baik ITE ataupun Pidana,” ujar Djati. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post

Post Comment

*