Doakan Orang Tua dan Keluarga, Peziarah Padati Tempat Pemakaman

oleh

Kudus, ISKNEWS.COM – Tradisi berziarah ke makam keluarga atau nyekar, menjadi salah satu tradisi masyarakat Indonesia menjelang bulan suci Ramadhan dan Lebaran. Tidak heran, berbagai tempat pemakaman umum dipenuhi warga yang berziarah.

Seperti dibeberapa makam yang ada di Kabupaten Kudus, tak terkecuali warga muslim di sekitar Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kembar, Mlati Kecamatan Kota, Kudus mulai melaksanakan tradisi ini dari sejak dua Minggu terakhir.

Seorang peziarah Indah (68) mengatakan, ia beserta keluarganya melaksanakan tradisi nyekar menjelang Ramadan ini rutin setiap tahun.

“Ziarah ke makam orangtua. Kalau mau menjelang puasa dan lebaran kita kan harus ziarah. Apalagi momen jelang idul fitri ini, biasanya para keluarga yang dirantau pada pulang, hingga harus berkesempatan untuk nyekar ke makam sanak keluarga yang sudah mendahului,” kata Indah kepada isknews.com kemarin, Rabu (13/6/18) sore.

TRENDING :  Ciptakan Transparansi, Puluhan Perusahaan di Kudus Terapkan Skala Upah

Ditambahkan, Kan banyak yang ziarah ke luar, ke mana-mana, seperti ke makam para Wali, masak orangtua yang dekat kenapa tidak diziarahi. “Yang penting nomorsatukan orangtua dulu, baru nanti yang lain. Sudah biasa setiap tahun ziarah,” ungkapnya

Pantauan isknews.com dilokasi, Banyaknya warga yang datang untuk berziarah, membuat kunjungan ke tempat pemakaman umum meningkat dua kali lipat.

Jika pada hari biasanya tempat pemakaman umum tampak sepi dari peziarah, kini justru padat oleh peziarah yang datang tidak hanya dari dalam kota, namun juga dari luar kota.

Kondisi ini, juga dimanfaatkan oleh warga sekitar tempat pemakaman untuk meraih keuntungan selama musim nyekar ini dengan berjualan bunga di depan gerbang tempat pemakaman.

TRENDING :  Gebyar Muharram, Agenda Tahunan Gugus PAUD Lily Berlangsung Meriah

Bunga yang biasa digunakan untuk ditaburkan di atas makam tersebut dijual dengan harga bervariasi.

Terpisah, Sebut saja Siti (58) telah menekuni jualan bunga sudah belasan tahun. Rata-rata dari mereka menekuni jualan ini dari usaha turun temurun yang sudah dijalani orang tuanya. “Menekuni ini dari usaha ibu saya yang sudah puluhan tahun disini, saya sebagai anak hanya meneruskannya mas,” katanya saat ditanya isknews.com

TRENDING :  Retak, Sandaran Talud Gedung PKL Colo Diperbaiki

Lebih lanjut, Penjualannya pun dipatok dengan harga bervariasi, harga bunga dibungkus daun pisang ukuran kecil yang biasanya seribu, dijualnya 2 ribu, untuk ukuran sedang dibandrol 10 ribu, dan ukuran besar bisa 20 ribu bahkan lebih, karena sesuai permintaan pembeli.

Dikatakannya, Kembang yang laris dibeli yaitu dari campuran bunga kenanga, mawar, melati. Biasanya tak jarang juga dicampur dengan rajangan daun pandan.

Meski dengan keuntungan tak seberapa, namun momentum tahunan itu selalu mereka manfaatkan untuk mengais rezeki dengan berjualan kembang tabur. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :