DPR Minta Fatayat Terlibat Aktif Dalam Penguatan Ekonomi

DPR Minta Fatayat Terlibat Aktif Dalam Penguatan Ekonomi

Kudus, isknews.com – Anggota DPR RI, Fathan Subchi bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum lama ini mengadakan sosialisasi kepada 200 anggota Fatayat NU Cabang Kudus untuk diedukasi mengenai lembaga keuangan syariah, di Hotel Hom Kudus, Kamis, (9/11/17) kemarin.

Dengan mengambil tema “Peran OJK dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang lembaga keuangan syariah”. Menurut Fathan, Sudah saatnya organisasi islam ikut andil membangun perekonomian umat yang lebih besar, “Peran dan andil organisasi islam nahdhatul ulama’ dalam hal ini Fatayat, terhadap peran dan pengaruh kontribusi penguatan ekonomi umat sangat luar biasa,” ujar Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB itu.

Konsep keuangan syariah, menurutnya merupakan solusi bagi masyarakat berkembang utamanya menengah ke bawah. Kemudahan dan barokah yang ditawarkan akan menjadi kelebihan yang mengangkat perekonomian warga. “Lembaga Keuangan syariah mudah dan barokah, pasti dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya

Fathan Subchi, Anggota Komisi XI DPR RI

Fathan yang juga pengurus Lembaga Perekonomian PBNU, menyambut baik gerakan program lnklusi keuangan OJK dengan mendorong pendirian Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKM Syariah), sehingga diharapkan mampu memberdayakan serta meningkatkan akses keuangan dan kesejahteraan masyarakat khususnya dikalangan Fatayat.

Ia mendesak kepada otoritas terkait industri keuangan syariah di indonesia seperti Bank indonesia (Bi), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI agar membuat regulasi yang efesien dan efektif untuk mendukung perkembangan ekonomi syariah.

TRENDING :  Sepak Takraw Jepara Melenggang Ke Porprov 2018

Komisi XI memandang bahwa Indonesia seharusnya bisa memimpin dan menjadi pusat keuangan syariah dunia. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, sudah selayaknya Indonesia menjadi pelopor dan kiblat pengembangan keuangan dan perbankan syariah di dunia.

Hal ini bukanlah merupakan impian yang mustahil terutama dengan memanfaatkan bonus demografi dan prospek pertumbuhan ekonomi yang tinggi, maka potensi indonesia untuk menjadi pemain inti keuangan syariah sangat besar. Fenomena bonus demografi yang terjadi pada periode tahun 2015-2035, memiliki beberapa implikasi penting terhadap kemajuan industri keuangan wariah. implikasi tersebut antara lain terhadap ketersediaan tenaga kerja dan simpanan masyarakat yang meningkat akibat meningkatnya jumlah kelas menengah indonesia di masa depan.

“Organisasi Fatayat sudah memiliki modal berupa kuantitas anggota dan ilmu. Saya kira akan sukses dan besar membangun Industri Keuangan Syariah jika manajemen dan leadershipnya baik,” bebernya.

Sementara itu, Kepala OJK Regional 3 Jateng dan DIY, Bambang Kiswono, mengatakan bahwa OJK berusaha masuk ke berbagai lintas sektor organisasi termasuk Fatayat NU.

Dijelaskan Bambang, Saat ini dalam tataran ekonomi global, kinerja ekonomi dan keuangan syariah dunia memperlihatkan pertumbuhan yang pesat. Pada 2015, volume industri halal global mencapai US$ 3,84 triliun dan diperkirakan mencapai US$ 6,38 triliun pada 2021. Sementara itu di Indonesia, meskipun pertumbuhan keuangan syariah tercatat tinggi, posisi Indonesia dalam Global Islamic Economic Indicator 2017 masih berada pada urutan ke-lO.

TRENDING :  Sudah berlangsung bertahun-tahun Ratusan pengusaha gula tumbu terjerat tengkulak

Jika dilihat dari segi asetnya, misalnya pasar perbankan syariah pada 2016 baru mencapai 5,3 persen, masih kecil sekali bila dibandingkan seluruh aset industri perbankan nasional di Indonesia. Capaian ini masih berada jauh dibawah negara-negara lain seperti Arab Saudi 51,1 persen, Malaysia 23,8 persen, dan Uni Emirat Arab 19,6 persen.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Agustus 2017, total aset keuangan syariah Indonesia (tidak termasuk saham Syariah) mencapai Rp 1.048,8 triliun, yang terdiri aset perbankan syariah 389,74 triliun, IKNB Syariah Rp 99,15 triliun, dan Pasar Modal syariah Rp 559,59 triliun. Jumlah tersebut jika dibandingkan dengan total aset industri keuangan yang mencapai Rp 13.092 triliun, maka market share industri keuangan syariah sudah mencapai 8,01%.

Dikatakan Bambang, Tantangan yang masih dihadapi adalah masih kurangnya awareness, pemahaman dan utilitas masyarakat terhadap produk keuangan syariah. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Keuangan OJK Tahun 2016, tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia masih jauh dari maksimal yaitu sebesar 8,11% dengan tingkat inklusi mencapai 11,06%. Ini artinya, hanya 8 dari 100 orang yang memahami produk dan layanan keuangan syariah dan terdapat sebanyak 11 dari 100 orang yang memiliki akses terhadap produk dan layanan lembaga jasa keuangan syariah.

TRENDING :  Giatkan Simulasi Ajak Kawula Muda Tanggap Menghadapi Kebakaran

Pihaknya berharap, Perlu peningkatan lagi kerjasama antara pemerintah dan otoritas terkait dalam membangun industri keuangan syariah. Perlu belajar seperti negara tetangga, yaitu kebijakan Pemerintah Malaysia memberi dukungan dengan bentuk insentif pajak, tax holiday, riset, dan pengelolaan anggaran belanja negara. Untuk itu di indonesia harus didorong keterlibatan bank syariah dalam pengelolaan dana Pemerintah Pusat/Daerah dan dana BUMN/BUMD.

Supaya tidak tumpang tindih, lanjut Bambang, maka regulasi ketiga institusi harus sesuai dengan tupoksinya masing-masing, misalnya Bank indonesia dalam pengembangan keuangan syariah tetap fokus pada kebijakan makroprudensial, begitu juga kami dari OJK yang memiliki otoritas pada kebijakan mikroprudensial-nya; dan Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI yang menjaga kesyariahan segala kegiatan transaksi keuangan syariah, sehingga pada akhirnya akan mempercepat tingkat literasasi keuangan syariah di Indonesia tentunya.

Ditambahkan, Dalam dua dasawarsa perkembangannya sejak kelahiran bank syariah pertama di Tanah Air, sistem keuangan syariah telah berkembang pesat. Tidak hanya perbankan syariah, tetapi juga sudah berkembang industri keuangan non-bank syariah. “Misalnya asuransi syariah, dana pensiun syariah, perusahaan pembiayaan syariah, obligasi syariah (sukuk), reksadana syariah, dan aktivitas pasar modal syariah lainnya.” pungkasnya (AJ)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post