Duel Karya Koreografer Tari Kontemporer Indonesia Lahirkan “Pesona Silat Jawa – Minang”

IMG-20160906-WA0009_1

Kudus, Isknews.com – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) yang di dukung Bakti Budaya Djarum Foundation dan bekerjasama dengan Hima Pro SI milik Universitas Muria Kudus akan kembali menggelar lawatan rutin sastra dan Budaya. Kali ini menampilkan diskusi serta pertunjukan dengan menghadirkan tema pertunjukan “Pesona Silat Jawa – Minang” di Auditorium Universitas Muria Kudus ,Kampus Gondangmanis PO.BOX 53 Kudus,  pada hari Kamis, 8 September, Pukul 19.30 WIB.

Sekilas mengenai Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) adalah ruang kerja fisik dan pemikiran secara continue untuk mencipta inovasi serta varian-varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal yang nantinya mampu menjadi asset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat masyarakatnya sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya.

Secara rutin tiap bulannya FASBuK menggelar acara Sastra dan Seni Budaya yang meliputi Apresiasi sastra, Sarasehan Budaya, Pertunjukan Musik, Tari dan Pementasan Drama/Teater, dan sebagainya. Acara tersebut di gelar di berbagai tempat kantong-kantong Budaya di Kudus.

Baca Juga :  Selayang Pandang Kegagahan Kubah Masjid Menara Kudus

Berikut sekilas Pesona Silat Jawa-Minang Tonggak Raso &tra·jec·to·ry Karya Eko Supriyanto dan Ali Sukri

Pertengahan tahun ini kita akan mendapat kesempatan untuk menyaksikan duel karya koreografer tari kontemporer Indonesia yang tengah banyak mendapat sorotan di dunia seni pertunjukan, yaitu Eko Supriyanto dari Surakarta dan Ali Sukri dari Padang Panjang.

Kedua karya yang akan ditampilkan bersama ini memiliki kesamaan dari segi insisiasi gerak, yang mengambil silat sebagai dasar koreografi dan filosofi dalam penciptaannya. Namun, karya-karya ini lahir dari dua orang koreografer yang berbeda generasi. Eko Supriyanto memasuki fase puncak karirnya pada tahun 2000-an hingga sekarang, dan Ali Sukri muncul sekitar 10 tahun sesudahnya.

Hal ini menjadi terepresentasikan secara signifikan dalam karya mereka. Meski keduanya memiliki kualitas stamina, endurance, kecerdasan, dan kepekaan visual yang sama kuat, namun cara pandang mereka terhadap penciptaan karya ini sangat berbeda.

Baca Juga :  Batik Carnival Meriahkan Gelar Budaya

Ali Sukri, dengan dasar Silat Minangnya, menciptakan ‘Tonggak Raso‘  dengan mengambil sudut pandang ke arah luar, di mana ia merasa pentingnya sebuah tonggak dalam diri seseorang sebagai mekanisme pertahanan diri dalam menerima berbagai pengaruh dari lingkungan luarnya; sementara Eko Supriyanto, yang memiliki dasar Silat BIMA di Magelang, memilih untuk menggali ke dalam, menelusuri akar tanah dan filosofi leluhurnya sebagai upaya penguatan identitas, yang ia wujudkan dalam sebuah interpretasi gerak yang dituangkannya dalam karya “tra.jec.to.ry”.

Pementasan ini didukung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan Bakti Budaya Djarum Foundation serta bekerjasama dengan berbagai lembaga seni yaitu Yayasan Ekosdance, Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, Universitas Muria Kudus, FASBuK (Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus) dan NuArt Sculpture Park, Bandung. Mereka akan melakukan tour keliling di pulau Sumatera dan Jawa, mengunjungi titik-titik yang dianggap potensial untuk perkembangan seni pertunjukan di Indonesia. Adapun jadwal pementasannya adalah:

Baca Juga :  Gebyar Gusjigang Di TMII : Silaturahmi Dan Forum Keakraban Warga Kudus Di Jakarta Berlangsung Meriah

12 Agustus 2016 pk. 19.00 di Gedung Hoeriyah Adam, ISI Padang Panjang

6 September 2016 pk. 19.00 di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta

8 September 2016 pk. 19.00 di Auditorium Universitas Muria Kudus

10 September 2016 pk. 19.00 di NuArt Sculpture Park, Bandung. (AS)

APA KOMENTAR SEDULUR ISK ?