Dulu, Air Sumur Masjid Nganguk Wali Digunakan Sebagai Media Sumpah

Kudus, isknews.com – Mitos air sumur Masjid Nganguk Wali, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus pernah diyakini sebagian masyarakat Kudus untuk sarana melakukan sumpah.

Sehari-hari, air sumur tersebut digunakan para jamaah masjid untuk berwudlu, menjelang menunaikan sholat. Tiap harinya, masjid ini cukup ramai dikunjungi jamaah untuk melakukan ibadah sholat fardlu maupun sholat sunnah hingga saat ini.

Sejak dulu, memang sumur itu jadi satu-satunya sumur yang ada di Masjid Nganguk Wali tersebut, memang air sumur ini menyimpan kesakralan dan mitos bagi umat muslim untuk menyelesaikan perselisihan. Bagi pihak yang berselisih datang kemasjid tersebut untuk mengambil airnya dengan tujuan agar masalahnya cepat selesai, “Dulu sumur ini memang sering diambil airnya untuk melakukan sumpah-sumpah”, ucap Achmad Sururi, selaku Kasie Kesra Desa Kramat yang juga pengurus Masjid.

Baca Juga :  Minggu Depan Disosialisasikan, Pembangunan Jalan Tol Semarang - Demak Mulai Dijalankan

Mereka yang berselisih ada yang datang ke masjid dengan didampingi beberapa saksi. Ada ritual yang harus mereka ikuti. Mereka mengambil air wudlu, lalu sholat dua rakaat. Selesai salat, mereka bersumpah sambil minum air yang sebelumnya diambil dari sumur masjid. Air itu diyakini memiliki kesakralan yang tinggi. Jika dari salah satu yang berselisih terbukti ingkar, dia diperkirakan mendapat adzab dari Allah SWT. Namun kini sumur tersebut sudah tidak diperbolehkan untuk sarana menyelesaikan sumpah-sumpah oleh pihak pengurus masjid dikhawatirkan dibelakang terjadi terjadi penyalahgunaan. “Sekarang masyarakat tidak diperbolehkan kalau dipakai untuk media sumpah-sumpah, dikhawatirkan malah jadi penyalahgunaan, tapi kalau buat sarana obat silahkan”, kata Modin Kramat tersebut kepada isknews.com.

Baca Juga :  Madrasah Diniyah dan RTQ Manba'ul Ulum Gelar Muwada'ah Siang Tadi

Masjid Nganguk Wali Didirikan Sunan Kudus dan Dihadiahkan ke Kyai Telingsing

Masjid Nganguk Wali didirikan oleh Sunan Kudus (Syekh Ja’far Shodiq) pada tahun 1405 tahun saka atau 1483 M, sampai sekarang sudah berumur 533 tahun. Masjid ini masih kokoh berdiri di Dukuh Nganguk Wali, Desa Kramat, Kecamatan Kota, dan sekarang sudah diperlebar, karena sudah tidak bisa menampung jamaah. Sejak itu, Syeh Telingsing memeluk agama Islam yang pertama di Kudus. Selanjutnya terkenal dengan nama Kiai Telingsing. Lalu, didirikan masjid yang pertama oleh para wali, dan masjid tersebut dinadzirkan kepada Kiai Telingsing.

Baca Juga :  Camat Mejobo Buka Rangkaian Tradisi Rebo Wekasan Desa Jepang

Masjid ini telah mengalami beberapa kali mengalami pemugaran ringan. Ini bisa dilihat dari tulisan huruf Arab dan Jawa di belandar yang berada diatas mihrab . Tulisan di blandar berbunyi, sholat sacolo saloho dongo sampurno, dan tulisan yang kedua berbunyi, lenggahing panggenan tersetihing ngaji. “Sekitar tahun 1186 Hijriyah atau tepatnya 242 tahun lalu masjid ini pernah dipugar oleh Yasrup dan kawan-kawan pada masa kepengurusannya,” ujarnya. (GP)

APA KOMENTAR SEDULUR ISK ?