Empati Kasus Mulyadi, Aktifis Kudus Persiapkan Gelar Tenda Keprihatinan Dan Galang Koin

oleh
Sejumlah warga desa Singocandi siang tadi sudah melakukanpenggalangan koin untuk Mulyadi di depan Balai desa (foto: YM)

Kudus, isknews.com – Paska pemberitaan kasus yang menimpa Mulyadi di berbagai media masa di Kota kretek, sejumlah elemen masyarakt tergugah empatinya atas putusan hakim yang nmenghukum  Mulyadi bin Masidjan (46) dalam kasus laka-lantas di penjara selama 3 bulan dan denda sebanyak Rp 5 juta.

Pagi ini sejumlah aliansi LSM yang ada di Kudus, dibawah koordinasi Darus Achroni dari LSM Cakra mengaku menggelar rapat  dan mengajak para aktivis lain untuk segera membuat tenda keprihatinan serta pengumpulan koin yang akan di serahkan ke Pengadilan Negeri untuk membantu membayar denda Rp 5 Juta yang harus dibayar oleh  Mulyadi.

“Kami sedang berkoordinasi dengan  kawan-kawan aktifis se Kudus untuk menggelar tenda keprihatinan sekaligus mengumpulkan koin , itu semua kami lakukan sebagai bentuk protes atas matinya nurani keadilan para penegak hukum menyikapi kasus pak Mulyadi,” terang Darus.

“sekarang ini kami sedang menyusun administrasi pemberitahuan ke Polres, yang rencananya akan melibatkan seluruh aktifis LSM di Kudus, karena menyikapi kasus ini kebetulan kita satu suara, Kecewa.  Bagi warga masyarakat, para tokoh dan simpatisan yang ingin bergabung bersama kami monggo kami persilahkan hadir dan beraksi bersama kami, mengenai tanggalnya kapan nanti kita umumkan ini lagi kami bicarakan kapan hari yang pas’. ujar pria tambun ini kepada isknews siang tadi, Kamis (13/12/2018).

TRENDING :  Warga Dan Tetangga Tandatangani Petisi Penangguhan Penahanan Mulyadi

Tak hanya di dunia nyata, di dunia mayapun  dampak dari putusan hukuman yang menimpa Mulyadi menyedot perhatian para netizen, responnya beragam namun sebagian besar kecewa dengan vonis hakim, itu terlihat melalui komentar-komentar mereka menanggapi kasus yang menurut mereka tak seharusnya bergulir di meja hijau ini, hampir seribuan komentar di fanspage media ini bersimpati atas kasus yang menimpa buruh pabrik tahu Mulyadi.

Sementara itu siang tadi,  sejumlah pemuda warga desa Singocandi Kudus yang merupakan tempat domisili Mulyadi, dengan membawa kardus yang bertuliskan “Koin Peduli Untuk Kang Mol” melakukan penggalangan koin.

Nampak terlihat beberapa pengguna jalan dan warga setempat memasukan uang di kardus tersebut, salah satu Pemuda Singocandi Muhammad Fatchul Munif mengatakan, aksi ini adalah bentuk kepedulian terhadap warga dan tetangga kami bernama Mulyadi. Aksi itu untuk meringankan keluarga Mulyadi dan untuk membayar denda sebesar Rp 5 juta setelah divonis PN Kudus bersalah dalam kasus kecelakaan lalu lintas.

TRENDING :  Pabrik Kayu Lapis Jokowi Terbakar

“Kami membantu agar bisa meringankan keluarga. Dan juga membayar denda hukuman sebesar Rp 5 juta. Sehingga keluarga bisa tenang dan membayar denda itu,” jelasnya, Kamis (13/12/2018).

hal senada juga diungkapkan oleh Fredy Andrianto Kepala Desa Singocandi. Ia mengatakan bahwa aksi tersebut upaya pemuda desa setempat untuk meringankan keluarga Mulyadi. Apalagi, keluarga seorang Mulyadi adalah keluarga yang pas-pasan.

“Keluarga dari ekonomi kurang mampu. Pak Mul (panggilan Mulyadi) bekerja sehari sebagai buruh tahu. Apalagi ini diberikan denda Rp 5 juta. Dana ini buat bayar denda dan buat keluarganya. Di mana dua anak dari Pak Mul juga masih sekolah,” ungkapnya.

Tak hanya itu, pada sore harinya. Sejumlah simpatisan juga berkeliling desa, mengetuk satu persatu rumah warga untuk menggalang bantuan.

Kusni (43) istri Mulyadi yang ditemui media ini di kediamannya membenarkan ucapan Soleh Syakur. Diuangkapkannya, selama Mulyadi ditahan, banyak tetangga yang membantunya dalam memberikan makanan, menguatkan hati hingga membiayai sekolah kedua anaknya.

Peran Mulyadi sebagai tulang punggung keluarga, kini harus dilepaskannya untuk menjalani masa tahanan di penjara. Penahanan Mulyadi, menjadikan perekonomian keluarganya merosot tajam karena tidak ada lagi orang yang memberikan mereka nafkah. Dari uluran tangan tetangganyalah, keluarga kecil itu bertahan hidup.

TRENDING :  Dua Pengendara Asal Kudus Tewas Tertimpa Truk Tangki di Gembong

Kusni didampingi dengan beberapa tetangganya menceritakan jika anak pertamanya yang kini duduk di Kelas 11 SMA sempat ingin berhenti sekolah dan ingin bekerja untuk menggantikan peran Ayahnya (Mulyadi) mencari nafkah. Beban tunggakan biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) anaknya hingga beberapa bulan, juga sempat membuat Kusni kewalahan. “Alhamdulillah kemarin tetangga ada yang membantu melunasi biaya pendidikan anak saya,” ujarnya.

“Kami sesama rakyat kecil yang buta hukum tidak dapat membantu banyak terhadap kasus yang menimpa Mulyadi. Kami sebagai tetangga hanya bisa menguatkan hati Kusni dan anak-anaknya atas musibah yang menimpa Mulyadi. Sedikit makanan dan uang yang kami berikan, semoga bisa menguatkan mereka selama Mulyadi didalam tahanan. Semua ini kami lakukan atas tuntutan hati nurani, bukan karena apapun,” jelas Sulhadi tetangga Mulyadi, saat ditemui media ini tengah berkunjung ke rumah terdakwa. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :