Film Pendek Karya Siswa SMP Keluarga Kudus Tuai Pujian di Gelar Karya Film Pelajar 2018

oleh

Kudus, ISKNEWS.COM – Tidak hanya menjadi sarana hiburan semata, film juga Menjadi media yang mujarab untuk mempromosikan kearifan lokal yang ada di Indonesia. Konsep ini dituangkan 10 pelajar SMP Keluarga Kudus yang terletak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah melalui film pendek dokumenter berjudul “Dragon Dance”. Film berdurasi 10 menit tersebut diproduksi guna mengikuti lomba “Gelar Karya Film Pelajar (GKFP) 2018” yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Dragon Dance mengangkat cerita tentang barongsai, kesenian yang dibawakan secara beregu dengan memainkan 10 tongkat pada badan naga. Para pemainnya bergerak membentuk gelombang nan harmonis, sesuai karakter makhluk naga yang banyak tersebar dalam mitos-mitos di masyarakat. Selain memerlukan kekompakan antar pemain, barongsai juga mengandung banyak nilai moral seperti persatuan, toleransi hingga rasa saling percaya. Saat ini, barongsai melalui organisasi Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) juga telah diakui sebagai cabang olahraga oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia.

“Menurut kami, barongsai merupakan kearifan lokal yang sangat bagus untuk dijadikan film dokumenter, karena menunjukkan sikap toleransi antar umat beragama. Terlebih lagi, di Kudus banyak teman – teman kami juga terlibat dalam kesenian ini,” ungkap Patrick Tjhang, siswa kelas 3 SMP keluarga Kudus yang menyutradarai Dragon Dance saat berbincang di Jakarta, Jumat (23/11).

TRENDING :  Rumah Ekspatriat di BRB Nyaris Hangus Akibat Arus Pendek

Nilai – nilai positif yang tertuang di film tersebut membuat jajaran juri GKFP 2018 memasukkan Dragon Dance ke dalam 12 besar film kategori dokumenter dari 314 film pendek yang terdaftar di lomba ini. Menariknya lagi, Dragon Dance menjadi satu-satunya nominee yang berasal dari pelajar SMP, sementara nominasi lainnya merupakan karya dari pelajar sekolah tingkat atas. Dragon Dance bersaing dengan 23 karya pelajar SMA dari berbagai daerah di Indonesia.

Juri GKFP 2018, Anggi Frisca memberikan apresiasi karena Dragon Dance berhasil menjadi nominee dan mampu menyaingi karya – karya para pelajar yang notabene berada satu level di atas mereka. Hal ini menunjukkan bahwa bakat – bakat menjadi movie maker tidak hanya terlihat dari pelajar sekolah tingkat atas tapi juga di kalangan anak – anak SMP.

“Potensi mereka besar sekali karena dengan usia yang masih sangat muda sudah bisa membuat sebuah karya. Saya tadi tonton filmnya dan menurut saya Dragon Dance berhasil mengemas konten dengan menarik dan menampilkannya dengan cara yang berbeda dibanding karya-karya lainnya di perlombaan ini. Sehingga, dari sekian banyak film, Dragon Dance membuat juri memiliki pilihan yang beragam dari para nominasi,” tutur sinematografer yang terlibat dalam film Tanah Surga…Katanya dan Night Bus ini.

TRENDING :  An-Noor Geber Kukuhkan Kordes dan Korlap di Kecamatan Kota

Lebih lanjut, Anggi menuturkan bahwa keberanian membuat film di usia sangat muda menunjukkan bahwa siswa SMP Keluarga Kudus ini memiiliki jiwa kepemimpinan dan mampu menyelesaikan permasalahan yang ada.

“Sejatinya, film dan seluruh proses pembuatannya merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan. Untuk menyelesaikan masalah itu tentu dibutuhkan jiwa leadership yang tinggi. Nah, dengan kemampuan mereka berhasil membuat film ini, itu artinya mereka juga memiliki potensi leaderships yang besar yang masih perlu diasah lagi untuk menghasilkan karya – karya yang lebih baik,” Anggi melanjutkan.

Sementara itu, Patrick tak menyangka karya dia dan teman –temannya bisa lolos sebagai nominasi di ajang ini. Alhasil, Patrick dan Michael Vincentzo sebagai juru kamera diundang menghadiri workshop dan Malam Anugerah GKFP 2018 di Jakarta pada 22 – 24 November 2018. Selama rangkaian kegiatan ini, Patrick dan Michael mendapat kesempatan emas berbagi pengetahuan dengan sineas – sineas besar Tanah Air seperti Christine Hakim, Reza Rahadian hingga Ernest Prakasa. Keduanya pun menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menambah wawasan seputar dunia perfilman.

TRENDING :  Ribuan Pekerja PT PR Gentong Gotri Tuntut Uang Pesangon

“Rangkaian kegiatan ini membuat saya semakin termotiviasi untuk membuat film yang lebih bagus lagi. Apalagi saya sebagai sutradara juga mendapat ilmu baru tentang penyutradaraan yang baik,” jelas Patrick. Hal senada juga diamini oleh Michael yang memiliki impian kelak bisa memproduksi film science-fiction seperti Pacific Rim ini.

Patrick dan Michael tidak berdua saja dalam menggarap Dragon Dance. Terdapat delapan siswa lainnya yang tergabung dalam Tim Titanium SMP keluarga Kudus yang juga berbagi peran dan tanggungjawab sehingga film ini rampung, mulai dari artistik, penata suara, penulis skenario hingga editor.

Warih Bayu Wicaksana, Guru SMP Keluarga Kudus yang membimbing para siswa dalam pembuatan film Dragon Dance ini mengatakan, lolosnya film tersebut di ajang GKFP 2018 diharapkan bisa memompa motivasi para siswa lainnya untuk menghasilkan karya – karya yang lebih baik lagi.

“Kami percaya bahwa kreativitas itu bisa muncul di mana saja, termasuk di Kudus yang bukan merupakan kota besar. Dengan pencapaian Dragon Dance masuk sebagai nominasi di GKFP 2018, kami dari pihak sekolah optimsitis, nantinya akan muncul karya – karya dari para siswa yang lebih baik lagi di masa mendatang,” ujar Warih. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :