Filosofi Kue Keranjang dalam Perayaan Imlek

oleh
Filosofi-Kue-Keranjang-2
Foto: Seorang pembeli kue keranjang di Keluarahan Panjunan, Kecamatan/Kabupaten Kudus, Rabu (14-02-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM –Perayaan tahun baru Imlek banyak dimanfaatkan oleh warga etnik Tiongkok untuk menghabiskan waktu bercengkrama bersama keluarga. Aneka makanan khas Imlek tersedia untuk memeriahkan kegiatan tahunan tersebut.

Salah satu makanan yang begitu identik dengan perayaan Imlek adalah kue keranjang. Dodol khas Cina ini, menjadi sebuah sajian peribadatan dalam perayaan Imlek. Selain itu, warga keturunan juga membagikan makanan ini, sebagai wujud rasa syukur dan upaya mempererat persaudaraan kepada keluarga, sahabat maupun relasinya.

Tak heran jika kue tahunan ini, selalu laris manis diserbu pembeli saat momen Imlek tiba. Karena bagi warga Tionghoa, kue keranjang merupakan makanan yang harus ada saat momen ini.

TRENDING :  Tidak Semua Anggota Fraksi PKB Menyetujui Pengesahan Ranperda Karaoke
Filosofi-Kue-Keranjang
Foto: Trisnawati (63), penjual Kue Keranjang di Kelurahan Panjunan, Kecamatan/Kabupaten Kudus, Rabu (14-02-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Rasa penasaran yang mendalam akan filosofi kue keranjang, menghanatarkan isknews.com pada Trisnawati (63), seorang pengusaha kue keranjang. Dalam perbincangan singkat tersebut, ia mengatakan bahwa keberadaan kue keranjang dalam perayaan Imlek erat kaitannya dengan unsur persaudaraan.

Teksturnya yang lengket melambangkan bentuk persaudaraan yang begitu erat dan selalu menyatu. Selain lengket kue keranjang juga bertekstur kenyal yang melambangkan kegigihan, keuletan dan sikap pantang menyerah dalam menjalani kehidupan.

TRENDING :  Tingkatkan Kualitas, BAN Jateng Sosialisasi Akreditasi PAUD dan PNF di Kudus

“Rasanya yang manis bermakna agar persaudaran yang terjalin dapat berjalan dengan baik, penuh suka cita dan kebahagiaan,” ungkap Trsinawati, Rabu (14-02-2018).

Kue khas ini memiliki bentuk bundar, melambangkan kesetaraan kedudukan dalam sebuah persaudaraan atau kekeluargaan. Yang unik dari kue keranjang adalah proses pembuatannya yang memakan waktu tujuh hingga delapan jam, menjadikan kue ini tahan lama.

Menurut Trisnawati, kue ini dapat bertahan hingga dua atau tiga tahun disimpan di dalam suhu ruagan. Jika kue ini berjamur, maka tinggal bersihkan jamurnya dan bagian lainnya masih bisa dikonsumsi.

TRENDING :  Puluhan Karyawan Antusias Ikuti Donor Darah di RS Mardirahayu Kudus

“Hal ini merupakan lambang dari sebuah persaudaraan yang abadi. Meskipun zaman telah berganti namun persaudaraan yang terjalin akan terus abadi,” ungkap wanita paruh baya tersebut.

Imbuhnya, “Dengan memberikan kue keranjang pada saudara, teman dan relasi diharapkan hubungan persaudaraan maupun kerjasama yang terjalin dapat berjalan dengan harmonis, penuh kebahagiaan dan tanpa akhir.” (NNC/AM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :