Gebyar Kirab Budaya Ritual Rebo Wekasan Di Desa Jepang Mejobo Berlangsung Meriah

Gebyar Kirab Budaya Ritual Rebo Wekasan Di Desa Jepang Mejobo Berlangsung Meriah

 

15027470_1892178751002068_1797399045376783318_n
Aneka atraksi budaya dan kesenian yang ditampilkan pada gebyar kirab budaya Rebo Wekasan Desa Jepang Mejobo (Foto-foto: Yuliadi Mohammad)

Kudus, isknews.com – Warga Desa Jepang Mejobo Kudus memiliki tradisi yang rutin digelar tiap tahunnya. Ritual itu bernama Rebo Wekasan, Selasa (29/11/2016) sore tadi, ritual diawali dengan kirab mengusung tema budaya andalan kelompok mereka masing-masing, sebanyak 88 kelompok peserta kirab yang merupakan warga Jepang tampil menyusuri rute kirab dan beratraksi di depan panggung kehormatan. Peserta kirab terdiri dari, perwakilan setiap RT dan RW desa Jepang, perwakilan UMKM desa Jepang, Pemuda Karang taruna, gapoktan desa Jepang, Ibu PKK, Fatayat, Muslimat desa Jepang, pelajar, Banser, IPNU-IPPNU Kecamatan Mejobo.15095052_1338697282816943_4615388720136983386_n

Rangkaian acara Gebyar kirab budaya Ritual Rebo Wekasan berpusat di halaman Masjid Wali Al makmur Desa Jepang Mejobo Kudus, dan pelaksanaan kegiatan tersebut di selenggarakan oleh pemerintah Desa Jepang dengan yang di ketuai oleh Chamdan, .  Ritual itu dikemas dalam bentuk kirab budaya yang diakhiri dengan pembagian air salamun, Kirab berlangsung sejauh 2 kilometer dari lapangan Kecamatan Mejobo dan berakhir di Masjid Al Makmur. Kirab itu mengusung aneka potensi Desa Jepang, terutama hasil pertanian dan kerajinan bambu.para peserta pawai menampilkan dan mengenakan aneka ragam kesenian, pakaian adat budaya baik modern maupun tradisional, pentas drum band,Kendaraan hias, gunungan hasil bumi,hasil karya kerajinan masyarakat dan UMKM Desa Jepang.

BACA JUGA :  Kretek dalam Perspektif Religi dan Budaya

Menurut Chamdan, Kirab itu sekaligus pelestarian tradisi syiar Islam yang dilakukan seorang ulama bernama Ndoro Ali pada 1925. Dalam syiarnya, Ndoro Ali membagi-bagikan air salamun yang bersumber dari sumur kuno Masjid Al Makmur. Konon, sumur itu muncul setelah Sunan Kudus menancapkan tongkat di sekitar masjid. Hal itu terjadi bersamaan ketika15170837_1893599524193324_6841515078373874947_n Aryo Penangsang membangun Masjid Al Makmur.

“Disebut air salamun karena air itu diyakini bertuah dan menjadi sarana menangkal bala atau ancaman marabahaya. Salamun berasal dari kata ‘salam’ yang berarti ‘selamat’,” jelas Kepala Seksi Promosi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Mutrikah.

Kepala Desa Jepang, A.Indarto, mengucapkan terima kasih kepada semua Masyarakat atas dukungan dan partisipasinya dalam menyelenggarakan acara prosesi gebyar kirab budaya Ritual Rebo wekasan, “Acara ini dapat berjalan dengan baik,lancar dan sangat meriah, Semoga dalam melaksanakan acara ritual rebo wekasan ini banyak mendapatkan barokah dan hikmah serta bisa bersatu tidak ada jarak antara pejabat dengan masyarakat di Desa Jepang yang kita cintai ini,” katanya.

BACA JUGA :  WOOD CARVING “ Batik Di Ukir Pada Media Kayu “

“Sesuai ketetapan dari bapak Bupati bahwa Desa Jepang merupakan salah satu rintisan desa wisata di Kudus yang harus terus di kembangkan serta di pelihara adat dan budayanya” ujarnya.15202761_572892296251494_3797785761980506898_n

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Yuli Kasiyanto, menyampaikan, “Mengucapkan banyak terima kasih dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada panitia serta Pemerintah Desa Jepang dengan di selenggarakanya acara kirab budaya ritual rebo wekasan dan menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan nantinya acara ini akan kita laporkan kepada Bapak Bupati bahwa pelaksanaannya sangat bagus dan lebih meriah. Kegiatan yang sangat positif ini semoga banyak memberikan barokah dan manfaat sehingga nantinya masyarakat dapat terpenuhi semua kebutuhan Primer maupun sekundernya serta dapat terus untuk melestarikan budaya warisan dari para leluhur,” sambutnya.15219367_572892722918118_3638917081597826562_n-copy

BACA JUGA :  Seperangkat Gamelan Yang Tertidur

Kita harus mewujudkan Desa wisata Jepang agar semakin maju dan sejahtera serta dari dinas pariwisata akan selalu mendukung dalam setiap kegiatan. “Program kedepan desa Jepang diharapkan untuk segera memiliki central wisata maupun kerajinan sehingga akan lebih muda untuk dikunjungi oleh para wisatawan,” tandasnya.

.Adapun route kirab yang di lalui : Dari start Lapangan Pancasila/ Kantor Kecamatan Mejobo – Jalan Suryo kusumo – Lampu merah perempatan Jepang – Pertigaan Desa jepang ke kiri arah pasar Doro – belok kiri masuk Gg Desa Jepang – Finish halaman Masjid Wali Al makmur. Kemudian pada bakda Maghrib di lanjutkan pengambilan serta pembagian air salamun di masjid Wali Al makmur. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Share This Post