Geliat Kehidupan Pengepul Emas Jalanan

by
Foto: Mansur yang tengah mengecek kualitas emas, di Terminal Dawe Kudus, Rabu (11-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Neraca tersebut menunjukkan angka lima gram. Dengan segala pertimbangan Mansur menaksir harga gelang tersebut sebesar Rp. 500 ribu. Setelah melalui tawar menawar yang panjang, akhirnya wanita itu tidak berkenan menjual gelangnya kepada Mansur.

Foto: Mansur yang tengah menimbang emas, di Terminal Dawe Kudus, Rabu (11-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Dengan menghela nafas panjang, mensur melihat kepergian wanita itu. “Mungkin belum rezekinya,” gumamnya. Setelah wanita itu pergi, isknews.com mencoba mengenal dan menggali lebih dalam sosok Mansur.

TRENDING :  Tugu Veteran Besito Jadi Saksi Perjuangan Komando Muria

Kepada isknews.com, Mansur mengaku telah lama menekuni usaha ini. Jasa jual beli emas bekas tersebut, merupakan pekerjaan sampingan yang ia lakukan, untuk menafkahi istri dan 12 anaknya. Pekerjaan utamanya adalah sebagai petani.

“Kalau mengandalkan pekerjaan sebagai petani dengan masa panen setahun sekali. Untuk kesehariannya keluarga saya mau makan apa? Karena itu saya harus bekerja seperti ini, untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari-hari,” kata warga Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus ini.

TRENDING :  Gara-gara Slogan Ini, Penjual Tanaman Hias Kebanjiran Order

Mansur tidak menyangkal, jika pekerjaan sebagai pengepul emas jalanan juga tidak dapat diandalkan untuk menghidupi keluarganya. Tidak setiap hari, pundi-pundi uang berhasil dibawanya pulang. Sering kali ia harus menelan pahitnya pengharapan, karena selama beberapa minggu tidak ada satupun orang yang menjual emas kepadanya.

TRENDING :  Mengulik Asal Usul Desa Kaliputu
KOMENTAR SEDULUR ISK :