Geliat Kehidupan Pengepul Emas Jalanan

by
Foto: Mansur yang tengah mengecek kualitas emas, di Terminal Dawe Kudus, Rabu (11-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

“Kalau tidak ada yang menjual emas, saya terpaksa menghutang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Hutang-hutang itu, akan saya bayar setelah ladang saya panen,” tuturnya.

Meskipun pekerjaan ini tidak memberikan kontribusi yang baik bagi perekonomian keluarganya, Mansur tetap saja mempertahankannya. Usianya yang telah menginjak kepala tujuh dan kondisi tubuhnya yang sudah sempoyongan, membuat Mansur tidak memiliki banyak pilihan.

TRENDING :  Kerupuk Arum Manis, Makanan Tradisional yang Coba Bangkit Lagi

Usia senjanya, membuat pandangannya tak lagi tajam. Untuk membedakan baik tidaknya kualitas emas, ia kerap meminta tolong kepada toko emas di belakang lapaknya. Sesekali ia mengajak anaknya untuk menemaninya di lapak.

“Kalau kondisi saya lagi kurang sehat, saya mengajak anak saya paling kecil untuk menemani saya di lapak. Untuk jaga-jaga saja, jika saya mengalami sesuatu di sini,” katanya.

Dengan segala kekurangannya, Mansur tetap berusaha keras menjalankan kewajiban menafkahi keluarganya. Ia mengaku tidak terbiasa berpangku tangan, mengharapkan bantuan dari anak-anaknya.

TRENDING :  Semur Kutuk Yang Lezat Berkhasiat

“Meskipun penghasilan saya dari pekerjaan ini tidak banyak, tapi setidaknya saya telah berhasil mewujudkan cita-cita saya untuk menyekolahkan anak-anak hingga tamat SMA. Dengan bekal tersebut, alhamdulillah kini anak saya dapat bekerja lebih layak dari apa yang saya kerjakan saat ini,” pungkasnya. (NNC/WH)

TRENDING :  Kisah Sendang Banyu Kanoman, Wonosari
KOMENTAR SEDULUR ISK :