GP Ansor Harus Terapkan Budaya Santri Dimana Saja

oleh
Suasana Pelantikan PC GP Ansor Jekulo Kudus yang diwarnai dengan dialog interaktif menghadirkan sejumlah narasumber dan pemateri (Foto: YM)

Kudus, isknews,com –  Saat ini ada fenomena yang menjadikan organisasi bersifat keagamaan sebagai sarana untuk mendapatkan status sebagai ghoiru ummah atau umat terpilih dengan organisasinya yang mereka kemudian melakukan kekerasan atas nama agama.

Agama memberikan ketentraman baik secara lahiriyah ataupun batiniyah. Bila ada orang yang datang ke suatu tempat atau ikut bargabung dengan organisasi atas nama agama, namun kemudian peringainya setelah mendatangi tempat itu dan mendengarkan ceramah tokohnya justru jauh dari santun, suka marah-marah dan suka melakukan kekerasan maka sudah pasti tempat yang didatangi atau organisasi yang diikuti ada kesalahan disitu.

TRENDING :  Kang Mus : Jika Nekad Buka Segel Kafe Akan Saya Bongkar Sekalian Bangunannya

Hal itu disampaikan oleh Kanit Keamanan Negara (Kamneg) Sat Intelkam Polres Kudus Ipda Subkhan, mewakili Kapolres Kudus AKBP Saptono, saat didaulat menjadi salah satu narasumber diskusi publik pasa pelantikan PAC GP Ansor Tahun 2019 – 2029 di Gedung JHK Jekulo Kudus, Sabtu (06/01/2019).

GP Ansor harus bisa menjadi bagian dari umat yang terpilih sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an. Umat terpilih adalah umat yang dilahirkan untuk menyerukan amar ma’ruf bil ma’ruf dan nahi munkar bil ma’ruf.

“Dengan seperti itu besar harapannya agar syi’ar Islam dapat berjalan secara maksimal yang dibarengi dengan suatu pengaruh kebaikan di lingkungannya,” terangnya.

TRENDING :  Via Vallen Meriahkan Peluncuran Tahapan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kudus 2018

“Islam memerintahkan kita untuk menyeru ke jalan Tuhan dengan cara baik-baik, bukan dengan cara kekerasan,” tegasnya

GP Ansor, lanjut Ipda Subhan, perlu menambah peran di masyarakat dengan melihat gejala-gejala sosial yang ada lalu mengatasinya dengan cara-cara yang ma’ruf. Inovasi GP Ansor perlu dilakukan melalui penerapan budaya santri dalam lingkungan kerja di instansi masing-masing. “Budaya santri yang dimiliki harus dilaksanakan dimana saja, termasuk pada saat kerja,” paparnya.

Selain Subhan, hadir sebagai pemateri diskusi Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kabupaten Kudus, KH. Muhammad Afif. Tampak hadir pula Muspika Kecamatan Jekulo, Kapolsek Jekulo, Kepala Desa se-Kecamatan Jekulo, PC GP Ansor Kabupaten Kudus, MWC NU Kecamatan Jekulo dan seluruh Banom NU se-Kecamatan Jekulo.

TRENDING :  Wabup Kudus : GP Ansor Tunjukkan Semangat Pluralisme

“Untuk itu bedakan antara pelanggar tindak pidana dengan latar belakangnya, artinya tidak melakukan kriminalisasi ulama namun juga tidak mengulamakan kriminal,” terang dia,

Dalam dialog interaktif itu, Ipda Subhan meminta agar GP Ansor tetap istiqomah dan konsisten dalam menjalankan amanah organisasi. Ia juga meminta agar GP Ansor bisa memperbanyak kegiatan  sosial yang beraneka ragam di masyarakat serta mengadakan kajian Aswaja yang mengawal isu aktual untuk kemudian disebarluaskan. (YM/YM)

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :