Harga Beras Turun, Kudus Alami Deflasi 0,05 Persen

oleh
Foto: Badan Pusat Statistik (BPS) Kudus mencatat terjadi deflasi 0,05 persen pada Maret 2018. Hal ini terjadi akibat turunnya beberpa harga komoditas, salah satunya beras yang turun cukup signifikan. (Mukhlisin/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Sejumlah komoditas kelompok bahan makanan di Kudus mengalami penurunan. Hal itu menyebabkan terjadinya inflasi di Kota Kretek. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, pada Maret 2018 terjadi inflasi 0,05 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) 134,15.

Salah satu yang menjadi pemicu utama terjadinya deflasi yakni penurunan harga beras. Saat ini harga beras kelas medium di pasaran berkisar Rp 8 ribu per kilogram.

TRENDING :  Penyedia Jasa Tukar Uang Dari Luar Kota Mulai Berdatangan

Selain beras, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadi deflasi adalah kacang panjang, jeruk, cumi-cumi, dan cabai. Di luar kelompok bahan makanan ada keramik dan tarif pulsa ponsel yang juga menjadi penyumbang terbesar deflasi.

Kepala BPS Kudus, Sapto Harjuli Wahyu menjelaskan, deflasi terjadi akibat adanya penurunan indeks harga beberapa kelompok pengeluaran. Kelompok bahan makanan 0,67 persen, kelompok keehatan 0,02 persen, dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa 0,11 persen.

TRENDING :  Ikan Segar, Sub kelompok Bahan Makanan Yang Alami Deflasi Tertinggi Di Bulan April

”Deflasi terjadi di seluruh kota SBH. Surakarta mengalami deflasi tertinggi 0,15 persen, disusul Semarang 0,14 persen, Cilacap dan Tegal 0,11 persen, Kudus 0,05 persen, dan terendah di Purwokerto 0,01 persen,” terangnya.

Selain di enam kota SBH, deflasi juga terjadi di tingkat provinsi dan nasional. Di Jateng terjadi deflasi 0,12 persen dan nasional deflasi 0,02 persen. ”Pada Maret banyak komoditas pangan yang turun, sehingga menyebabkan deflasi,” tukasnya.

TRENDING :  Kurangi Tunggakan, BPJS Kesehatan Edukasi Kader JKN-KIS

Sapto menambahkan, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan indeks diantaranya kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,31 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,31 persen, kelompok sandang 0,13 persen, serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,05 persen.

”Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi yakni kangkung, batu bata, rokok, tarif listrik, bayam, upah pembantu rumah tangga dan bensin.” pungkasnya. (MK/RM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :