Hari Pers Nasional, Jurnalisme Warga dan Hoax

oleh
Journalists on duty (Foto: Yuliadi Mohammad)

ISKNEWS.COM – Para pelaku penyaji informasi atau yang lebih dikenal dengan Insan pers Indonesia, 9 Februari kemarin memperingati Hari Pers Nasional. Sebetulnya mudah di tebak bahwa isu besar pada peringatan Hari Pers Nasional kali ini adalah sebuah kata yang akhir-akhir ini menjadi sangat popular dalam dunia pemberitaan dan informasi, yaitu “Hoax”.

Adalah Hoax yang secara gramatikal berarti upaya untuk menipu atau memperdaya seseorang. Hoax juga diartikan sebagai humor atau tipu daya jahat. Hoax berasal dari kata hocus atau hocus-pocus, yaitu kata-kata yang digunakan untuk “mantera” tipu daya dalam dongeng-dongeng klasik Eropa.
Dalam sebuah marwah pemberitaan, hoax didefinisikan sebagai kebohongan yang sengaja dibuat dan seolah sebagai sebuah kebenaran dan pembenaran. Meskipun hoax bukanlah gejala yang baru ada. Hoax seolah sudah melekat dengan eksistensi manusia di dunia. Namun di era medsos ini hoax menjadi mengemuka dan sangat populer.
Fenomena hoax muncul juga akibat perubahan karakter media yang polanya telah berubah, Media yang kini sangat memudahkan para pembacanya berinteraksi seketika dan secepatnya, utamanya media yang memiliki ruang interaksi pembaca secara cepat bahkan bebas tanpa melalui mekanisme bertele-tele, meski dengan identitas palsu atau yang dikenal dengan Ghost Account (akun hantu) dalam dunia medsos dan online.
Jika di masa sebelumnya — pers cetak, radio, dan televisi — partisipasi publik sangat terbatas maka di era internet ini memungkinkan partisipasi publik yang jauh lebih luas. Awalnya adalah revolusi di bidang teknologi informasi dan pemberitaan. Lahirlah media daring atau jurnalisme daring yang memudahkan komunikasi dan partisipasi massif dan berhasil menciptakan komunikasi yang melampaui ruang.
Jurnalisme daring adalah penyajian informasi dan fakta secara luas melalui media massa kepada publik, dan kata “daring”, yang merupakan singkatan dari kata “dalam jaringan” (online), yang dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi dan media berbasis internet.
Dengan demikian, jurnalisme daring adalah sebuah metode baru penyajian informasi dan fakta dengan menggunakan bantuan atau perantara teknologi internet. Salah satu contoh dari perwujudan jurnalisme daring adalah weblog, atau yang sering disebut sebagai blog, portal dan situs.
Setelah hadirnya media daring, pers utamanya yang berbasis online dan elektronik menghadirkan genre baru berupa citizen journalism atau jurnalisme warga, seperti juga pola utama dalam lini masa di media kita ini. Citizen jurnalisme dalam nafas media ini adalah triger informasi utama dan pertama, yang kemudian di gali lebih dalam serta lebih berformat jurnalisme untuk kemudian disajikan kepada publik.
Itulah citizen journalism, siapapun bisa menjadi wartawan. Terutama sejak gadged-gadged beraplikasi media sosial menjadi bukan barang mewah bagi warga. Tak lama kemudian lahirlah media sosial. Saat inilah lahir era netizen. Inilah era semua bukan hanya bisa menjadi ‘wartawan’ tapi juga bisa membuat dan memiliki kanal media bersama yang sangat terbuka maupun yang sangat terbatas. Seiring munculnya media sosial, eksklusifisme pemberitaan bukan lagi milik para pemodal besar.
Peristiwa politik utamanya di bentangan tahun-tahun politik (tahun dengan banyak agenda dan histeria politik baik lokal maupun nasional) seperti sekarang ini serta beberapa tahun kedepan, merupakan ladang penetasan hoax terbesar. Politik dan kekuasaan memang menjadi magnet penyedot perhatian paling raksasa. Di tengah pergulatan pagelaran politik, termasuk Pilkada dan Pemilu Legislatif. Menurut para pengamat, negeri ini sedang berada di puncak hoax.
Isu hoax dalam dunia pers sebetulnya lebih dekat dengan isu independensi dan kebebasan pers. Musuh independensi adalah kegagalan memisahkan preferensi personal insan pers dan pengusaha media dengan produknya atau biasa disebut sebagai media partisan atau jurnalis partisan akibat politik bisnis yang di “teken” oleh pemilik media, ataupun fanatisme buta sebuah media terhadap sosok atau kelompok kepentingan tertentu, bisa berbasis primordialisme ataupun kesamaan kepentingan.
Tentu saja hoax membanjir bukan karena kegagalan pers semata, tapi yang utama justru karena ada masyarakat atau bahkan penguasa yang “sakit”. Seperti pernah disampaikan oleh salah seorang narasumber di talkshow popular sebuah televisi swasta, hoax bukan hanya oleh masyarakat, tapi juga jamak oleh elite dan penguasa, “justru penguasa memiliki potensi tinggi mengelola Hoax,” katanya, dampaknya Masyarakat tak lagi saling percaya dan sulit mencari titik temu yang asosiatif tentang kejernihan sebuah informasi.
Hoax muncul karena “partisipasi” masyarakat yang “tak bisa dikendalikan” oleh kekuasaan, bisa dilakukan dalam sebuah kesadaran, bisa pula dalam tekanan, Kebebasan pers bukan hanya kebebasan untuk menyampaikan informasi tapi juga kebebasan untuk mendapatkan informasi. Informasi yang independen dan jernih, became the real truth not to be the true lies.
Selamat Hari Pers Nasional
Kudus, 12 Februari 2017
Yuliadi Mohammad
Pimred ISKNEWS.COM
KOMENTAR SEDULUR ISK :
TRENDING :  ​Pesona Dolanan Tradisional Untuk Pengembangan Karakter Anak