Hok Tik Bio, Kelenteng Tertua di Kota Kudus

oleh
Foto: Kelenteng Hok Tik Bio yang terletak di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Senin (06-03-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Kelenteng Hok Tik Bio yang terletak di Desa Tanjungkarang merupakan Kelenteng tertua di Kota Kretek ini. Letaknya yang strategis yakni di pinggir Jalan Kudus-Purwodadi, menjadikan kelenteng ini ramai dikunjungi oleh warga Tionghoa setiap harinya.

Konon, kelenteng ini dibangun pada era penjajahan Belanda, lebih tepatnya tahun 1741. Pada masa itu, Batavia (Jakarta -red) dibawah pimpinan Gubernur Jendral Andrian Valckneir, terjadi sebuah tragedi pembunuhan masal terhadap etnis Tionghoa di Indonesia oleh Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) Belanda.

Beberapa orang Tionghoa berhasil meloloskan diri dari tragedi tersebut, melalui jalur laut dengan menggunakan sebuah kapal. Mereka berkelana memasuki muara dan sungai, hingga menghantarkan mereka ke sejumlah daerah salah satunya adalah Kudus.

TRENDING :  Rangkaian Kegiatan Sambut Salin Luwur dan Haul Kangjeng Sunan Muria
Arca Hok Tik Tjieng Sien
Foto: Arca Hok Tik Tjieng Sien yang berada di Kelenteng Hok Tik Bio yang terletak di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Senin (06-03-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Perjalanan mereka memasuki Kota Kudus melalui Kanal Semarang (Sungai Wulan Tanggulangin -red), lalu memasuki sebuah anak sungai dan sampailah mereka ke sebuah daerah bernama Dusun Bogo.

“Sesampainya di Dusun Bogo mereka melakukan sembahyang dan PUAK (meminta petunjuk kepada Tuhan -red) kepada THIAN KUNG. Setelah mendapat petunjuk dari THIAN KUNG, mereka bergegas turun dari kapal dan membangun sebuah pemukiman di daerah tersebut,” ungkap Mulyono (65), pengurus Kelenteng Hok Tik Bio.

TRENDING :  Meski Terbaring Sakit, 240 Pasien RSUD Loekmono Hadi Tetap Ikuti Pilkada

Tak hanya membangun pemukiman, mereka juga membangun Kelenteng sebagai tempat bersembahyang. Di Kelenteng tersebut terdapat Arca Hok Tik Tjieng Sien, yang merupakan harta benda yang mereka bawa saat meninggalkan Batavia. Dari situ, Kelenteng tersebut diberi nama Hok Tik Bio.

Waktu terus bergulir, roda pemerintahan telah berputar, Andrian Valckneir digantikan oleh Johannes Thedens karena dianggap terlalu kejam terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. Perguliran kekuasaan tersebut, menjadikan masyarakat Tionghoa dapat kembali hidup dengan tentram di tengah masyarakat.

Sebagaimana warga Tionghoa yang ada di Dusun Bogo, mereka mulai membangun perekonomiannya dengan berdagang ke sejumlah daerah, dengan melalui jalur Sungai Babalan. “Pada tahun 1782, dibangun sebuah Jalan yang menghubungan Kota Kudus dengan Purwodadi. Setelah pembangunan jalan tersebut selesai, masyarakat Tionghoa Dusun Bogo memindahkan Kelenteng Hok Tik Bio ke tepi Jalan Kudus-Purwodadi,” kata Mulyono.

TRENDING :  Ribuan Jamaah Hadiri Pengajian Umum Sya'banan Lengkong Bersholawat

Dipanggulnya Kelenteng tersebut secara bersama-sama, dan diletakkannya di sisi Jalan Kudus-Purwodadi seperti yang terlihat saat ini. Pemindahan Kelenteng Hok Tik Bio dikarenakan letak tersebut dirasa lebih strategis, sehingga memudahkan masyarakat Tionghoa dalam berdagang dan bersembahyang. (NNC/RM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :