Hujan “Salah Mongso”, Akibatkan Produksi Palawija Terganggu, prediksi Turun Di Angka 10-20%

Kudus, isknews.com – Cuaca yang tidak menentu sekarang ini, ditandai dengan turunnya hujan yang tidak pada musimnya, atau orang Jawa menyebutnya “salah mongso”, dikhawatirkan akan menyebabkan terganggunya tanaman palawija yang akan berdampak pada menurunnya hasil produksi. hingga mencapai sekitar 10-20%.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus, Harsito, yang dihubungiisknews.com, Senin (22/8), mengatakan hal itu. Menurut dia, sebagaimana diketahui, polowijo adalah jenis tanaman yang tidak begitu banyak membutuhkan air, sehingga hanya cocok ditanam pada musim kemarau.

Namun dengan adanya cuaca yang tidak bisa diprediksi seperti sekarang ini, yakni dengan masih turunnya hujan, dikhawatirkan akan berdampak terganggunya proses pertumbuhan tanaman palawija, sehingga berdampak turunnya hasil produksi. “Tanaman palaowija yang dikhawatirkan terganggu, adalah yang ditanam di dataran rendah, sedangkan yang di dataran tinggi, tidak ada masalah.”

Untuk palawija yang ditanam di dataran rendah, ungkapnya lanjut, adalah kedele, kacang tanah dan kacang hijau, letak lahanya di Kecamatan Mejobo, Jekulo dan Kecamatan Undaan. Sedangkan yang ditanam di dataran tinggi, adalah jagung, letak lahannya di Kecamatan Bae dan Dawe.

Sekarang ini yang sudah mulai di panen, adalah jagung dengan luas tanaman 2.235 hektare dengan hasil produksi rata-rata 7-8 ton per hektare, kedelai dengan luas tanaman 219 hektare, hasil rata-rata 1,5-2 ton per hektare dan kacang tanah dengan luas tanaman 215 hektare, hasil produksi rata-rata 1-1,5 ton per hektare.

Baca Juga :  Belanja Hibah Dinas Pertanian Proyek Jalan Usaha Tani (JUT) Dikurangi Rp 2,342 M

Sedangkan untuk kacang hijau dengan luas tanaman 2.429 hektar, belum panen, sehingga hasil produksi belum diketahui. “Kalau cuaca baik, produksi palawija di Kudus, bisa mencapai sedikitnya 1,3 ton per hektare. Tetapi dengan cuaca yang tidak menentu seperti sekarang ini, produksi palawija diprediksi akan mengalami penurunan sekitar 10 – 20%,” ucap Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura itu. (DM)

APA KOMENTAR SEDULUR ISK ?