HUT Kemerdekaan Dan Filosofi Nasi Tumpeng

by

Kudus, isknews.com – Beberapa daerah di Indonesia, termasuk juga Kabupaten Kudus ini,  biasanya menyelenggarakan berbagai perlombaan untuk menyambut hari kemerdekaan RI. Mulai dari balap karung, panjat pinang, makan kerupuk, menangkap belut, dan lain sebagainya. Ada beberapa tempat yang mengadakan lomba membuat tumpeng ala kemerdekaan yang biasanya dibuat perkelompok RT. Tumpeng akan dinilai dari segi keunikan, rasa, dan kerapihan. Setelah selesai dinilai oleh juri, para warga dapat menikmatinya bersama-sama. Jika tidak ada lomba membuat tumpeng, saat malam puncak perlombaan biasanya juga suka disajikan tumpeng sebagai seremonial dari hari kemerdekaan.

TRENDING :  Penulis Buku Sayap Sayap Sakinah, Afifah Afra : Keseimbangan dan Kesinambungan Buahkan Kelestarian

Nasi tumpeng, atau yang banyak dikenal sebagai ‘tumpeng’ saja merupakan salah satu warisan kebudayaan yang sampai saat ini masih dipercaya untuk dihadirkan dalam perayaan baik yang sifatnya simbolis maupun ritual. Tumpeng sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya ketika memperingati momen dan peristiwa penting. Tempat dihadirkannya tumpeng ini pun di desa-desa maupun di kota-kota besar. Dimulai dari masyarakat di pulau Jawa, Madura dan Bali, kini penggunaan tumpeng sudah menyebar ke bagian pelosok nusantara lainnya bahkan ke mancanegara seperti Malaysia, Singapura bahkan Belanda. (dikenal dengan nama rijstafel). Meskipun diyakini berasal dari Pulau Jawa, masyarakat seluruh Indonesia sudah memaklumi dan mengenalnya dengan baik. Di balik tradisi tumpeng yang biasa dipakai dalam acara ‘selametan’, terdapat nilai-nilai yang sifatnya filosofis. Tumpeng mengandung makna-makna mendalam yang mengangkat hubungan antara manusia dengan Tuhan, dengan alam dan dengan sesama manusia.

KOMENTAR SEDULUR ISK :