Inilah Alasan Larangan Jual Sate di Lereng Gunung Muria

oleh
Teguh Budi Wiyono
Foto: Teguh Budi Wiyono (43), warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu (10-02-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Sate adalah makanan khas Indonesia yang begitu populer. Tak heran jika Anda akan dengan mudah menjumpai penjual makanan tersebut di seluruh pelosok Negeri ini, termasuk di Kota Kretek.

Namun hal ini, tidak berlaku untuk daerah Lereng Gunung Muria. Jika Anda memperhatikan dengan seksama, di sepanjang jalur wisata Gunung Muria tidak ditemukan satupun penjual sate.

Menurut mitos yang berkembang, bahwa Sunan Muria tidak menyukai makanan tersebut. Sehingga masyarakat mempercayai, jika ada orang yang berjualan sate di wilayah Lereng Gunung Muria, maka akan menimbulkan bencana atau kerusuhan.

Hal ini dibenarkan oleh Teguh Budi Wiyono (43) warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Pada perbincangan singkat, ia menceritakan bahwa beberapa tahun silam, pada sebuah pertunjukan ketoprak dalam rangka memperingati hari proklamasi kemerdekaan yang diadakan di desa tersebut, terjadi hal yang tidak mengenakan lantaran ada warga yang nekat menjual sate.

TRENDING :  Delapan Tim Melaju Ke Babak 32 Besar Liga 3
Mugiono
Foto: Mugiono (45), penjual sate pentol asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu (10-02-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

“Bulan Agustus masuk ke dalam musim kemarau, sehingga pagi itu cuaca terlihat cerah. Akan tetapi, pada siang hari pukul 11.00 WIB cuaca menjadi mendung, lalu terjadi hujan deras disertai dengan angin kencang sampai malam,” ungkap Teguh, Sabtu (10-02-2018).

Imbuhnya, “Hujan tersebut menjadikan area pertunjukan rusak dan tidak dapat digunakan untuk pertunjukan. Keesokan harinya, sejumlah warga menyelidiki peristiwa tersebut.”
Berdasarkan pengakuan panitia penyelenggara, pada hari itu terdapat seorang penjual sate kambing yang tetap nekat berjualan, meskipun sudah beberapa kali diperingatkan oleh warga setempat.

TRENDING :  Jelang "Bodo Kupat" Penjual Janur dan Ketupat Mulai Diserbu Masyarakat

“Larangan berjualan sate baik kambing, ayam, kerbau di kawasan lereng Gunung Muria, berlaku untuk masyarakat setempat maupun orang dari luar daerah. Kalau untuk dikonsumsi sendiri boleh yang dilarang itu jika di perjual belikan,” ujar Ayah satu anak ini.

Berbeda, dengan sate pentol yang banyak di jumpai pada kawasan Wisata Gunung Muria. Mengingat, jajanan unik ini proses pembuatannya tidak ditusuk menggunakan bambu maupun dibakar, layaknya sate pada umumnya.

“Hal tersebut tidak menjadi sebuah persoalan, karena sate pentol muncul baru-baru ini dan itu hanya sebuah nama saja. Proses pembuatannya tidak ditusuk-tusuk dengan bambu dan dibakar seperti sate pada umumnya. Sehingga untuk masyarakat aman-aman saja,” tutur Teguh.

TRENDING :  BPN Kudus Targetkan Program PTSL Untuk 40.000 Bidang Sertifikat

Di temui di hari yang sama, pengusaha sate pentol, Mugiono (45) mengatakan, bahwa kata sate yang melekat pada jualannya hanya sebuah istilah saja, bukan sate secara harfiah.

“Tidak ada makna yang spesifik, hanya istilah penyebutan saja. Jadi tidak ada kaitannya dengan mitos larangan berjualan sate di kawasan wisata Gunung Muria,” ungkap Pak Jo sapaan karib dari Mugiono. (NNC/AM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :