Inilah Filosofi Kuliner Baru Kota Kretek

by
Inilah Filosofi Kuliner Baru Kota Kretek ISKNEWS.COM
Foto: Lontong bulusan, makanan khas Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jumat (22-06-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Tak dipungkiri, munculnya lontong bulusan sebagai makanan khas Desa Hadipolo menambah pembendaharaan kuliner di Kabupaten Kudus. Makanan yang terdiri dari lontong berbentuk segitiga yang dicampur dengan opor ayam, kotokan tahu dan sambal goreng siem ini tidak hanya memiliki cita rasa dan bentuk yang unik, tetapi juga menyimpan sebuah filosofi yang mendalam.

TRENDING :  Bocah Lima Tahun Meninggal Tenggelam di Sungai Setro Mejobo Kudus

Ketua Forum Peduli Kemaslahatan Masyarakat (FPKM) Desa Hadipolo, Sulaiman mengatakan filosofi yang terkandung dalam lontong bulusan tidak dapat dipisahkan dari keberadaan legenda Bulusan.

Pertama, lontong yang berbentuk segitiga menjadi simbol hubungan yang erat antara Sunan Muria, Mbah Dudo dan muridnya yang disabda menjadi bulus (Umara dan Umari -red). Dijelaskannya, terbentuknya tradisi bulusan tidak dapat dipisahkan dari tokoh-tokoh tersebut.

TRENDING :  Sukma Anggota Paskibraka Kudus Meninggal Dunia Setelah Menderita Penyakit Nasofaring

Berlanjut ke sambal goreng siem dan kotokan tahu. Diungkapkan Sulailman, siem merupakan salah satu sayuran khas lereng gunung muria. Sedangkan kotokan tahu merupakan makanan khas masyarakat Sumber saat perayaan “Bodo Kupat”.

“Dengan bergabungnya kedua makanan tersebut bermakna adanya benang merah antara lereng gunung muria dan Dukuh Sumber. Karena masuknya Islam ke Dukuh Sumber tidak dapat dilepaskan dari peran Sunan Muria yang menjadi salah satu ulama yang menyebarkan Islam di Kabupten Kudus,” kata Sulaiman saat ditemui isknews.com dalam acara Festival Budaya Bulusan pada Jumat (22-06-2018).

TRENDING :  Umat Islam di Kudus Gelar Sholat Gerhana, Umat Hindu Gelar Upacara Purnama

KOMENTAR SEDULUR ISK :