Inilah Potret Kehidupan Buruh di Kabupaten Kudus

oleh
Kabupaten Kudus
(Istimewa)

Kudus, ISKNEWS.COM – Puluhan tahun menjadi buruh pabrik, tidak menjadikan Sumini (57) warga Desa Jati Kulon, Kabupaten Kudus ini lepas dari kehidupan yang pas-pasan. Gaji yang ia peroleh, hanya cukup sekedar memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Meskipun begitu, ia tetap bersyukur, setidaknya ia mampu membantu perekonomian keluarga kecilnya.

Sumini dan keluarganya, tinggal disebuah petak rumah kecil yang dibangunnya, dari hasil memeras keringat selama puluhan tahun di pabrik, bersama suaminya, Kuslan (64), yang juga seorang buruh. Gaji yang pas-pasan tidak membuat Sumini mengeluh akan kerasnya hidup. Dirinya mampu membuktikan, bahwa pendapatan yang sedikit jika disyukuri akan terasa banyak.

Tidak hanya rumah, dari profesinya sebagai buruh, Sumini, mampu menyekolahkan adik dan anaknya hingga tamat SMA. Kepada isknews.com, Sumini, sudi berbagi kisah hidupnya selama menjadi buruh pabrik.

Sumini mengaku, jika ia telah bekerja di pabrik dari usia 15 tahun. Diusia belia, ia harus membanting tulang membantu perekonomian orang tuanya. “Waktu itu, ibu saya telah meninggal. Adik saya ada 8 orang dan masih kecil. Karena saya paling besar, sehingga saya harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga dan menyekolahkan adik-adik saya,” ungkapnya, Selasa (01-05-2018).

TRENDING :  May Day, Ribuan Buruh di Jepara Turun Ke Jalan

Tanpa mengantongi ijazah sekolah. Hanya berbekal kemampuan membaca dan menulis yang diperolehnya saat duduk dibangu kelas 2 Sekolah Dasar, Sumini, putuskan melamar kerja di salah satu perusahaan rokok yang tak jauh rumahnya. Status sebagai buruh borong, tidak menggugurkan semangatnya bekerja mencari sesuap nasi untuk adik-adiknya.

“Mau gimana lagi, saya memang sekolah hanya sampai kelas 2 SD, jadi tidak memiliki ijazah. Bagi saya waktu itu, bisa bekerja di pabrik itu sudah luar biasa,” ujarnya. Dengan gaji sebagai buruh borong yang tidak seberapa. Sumini, menabungkan sedikit demi sedikit pundi-pundi uangnya, untuk biaya sekolah adik-adiknya.

Tak disangka, hasil kerja kerasnya tersebut mampu menghantarkan ke tiga adik laki-lakinya tamat bangku SMA. Dan adik perempuannya bisa mengecap manisnya pendidikan di sekolah dasar. Menurutnya, saat itu, laki-laki harus memiliki pendidikan yang tinggi agar memperoleh pekerjaan yang bagus. Sedangkan adik-adik perempuannya, tidak mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebihtinggi, lantaran ingin bekerja, membantunya memenuhi perekonomian keluarga.

TRENDING :  Aktivis Minta Pemerintah Campur Tangan Perjuangkan Nasib Buruh

“Kalau dipikir-pikir, gaji yang sedikit itu, tidak akan cukup untuk membiayai sekolah dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dimbangi dengan kerja serabutan, usai jam kerja pabrik saya bisa menyekolahkan semua adiknya dan mencukupi kehidupan keluarganya. Walaupun, saat itu kami sehari-hari hanya makan nasi yang ditaburi garam dan lauk seadanya. Setidaknya adik-adik saya bisa mengecap manisnya pendidikan,” jelasnya.

Setelah dipersunting Kuslan. Sumini tidak lantas berpangku tangan dan menjalankan kehidupannya sebagai ibu rumah tangga. Ia tetap bekerja keras di pabrik, untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya dan menafkahi adik-adiknya yang menginjak remaja, tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga.

Pekerja keras dan tangguh itulah kata yang bisa menggambarkan sosok Sumini. Kini, memasuki usia senjanya. Sumini tetap menjalani pekerjaannya sebagai buruh. Meski kedua anak dan adik-adiknya telah bekerja, ia tidak mau berpangku tangan. Baginya bekerja adalah bagian dari hidupnya dan dari pekerjaannya sebagai buruh, harapannya bisa terpenuhi.

“Menjadi buruh borong bukan sesuatu yang mudah. Apalagi kalau orderan pabrik sedang sepi, pastinya gaji yang saya dapat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sehingga diluar jam kerja pabrik, saya harus banting tulang, bagaimana agar keluarga saya bisa makan hari itu,” tutur Ibu dengan dua anak tersebut.

TRENDING :  KSBSI Kudus Tolak Upah Murah Dan Sistem Kerja Outsourcing

Sumini tak memungkiri, saat pabrik sedang sepi order, bayang-banyak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kerap menggelayuti hati dan pikirannya. Jika hal itu terjadi, ia tak tau lagi harus seperti apa dan bagaimana nasib keluarga kecilnya. Namun, ia percaya jika pabrik tempatnya bekerja tidak akan melakukan hal itu.

Menurutnya, menjadi buruh saat ini jauh lebih baik. Gaji yang ia peroleh setidaknya lebih besar dan fasilitas BPJS cukup mengkover kesehatan dirinya dan keluarga. Tidak hanya itu, diterapkannya sistem lima hari kerja juga membuatnya memiliki waktu bercengkrama dengan keluarga dan istirahat lebih maksimal.

“Saya bersyukur, setidaknya kehidupan para buruh kini lebih baik. Dari kesejahteraan dan kesehatan buruh sudah mendapatkan perhatian dan perbaikan,” pungkasnya. (NNC)

KOMENTAR SEDULUR ISK :