Inilah Sosok Dibalik Penyebaran Agama Islam di Kecamatan Gebog

oleh
Foto: Makam Mbah Raden Muchammad Syarif di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Selasa (27-03-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Sebuah kisah menyebutkan jika Desa Padurenan merupakan pusat penyebaran agama Islam di Kecamatan Gebog pada zaman dahulu. Tentu, kisah tersebut tidak dapat dipisahkan dari sosok Mbah Raden Muchammad Syarif yang merupakan tokoh cikal bakat Desa Padurenan.

Mbah Syarif, begitulah namanya dikenal oleh masyarakat Padurenan. Ia adalah putra dari Bupati Sumenep, Madura. Dari Madura, Mbah Syarif menempuh perjalanan ke tanah Jawa, melalui jalur laut. Dalam perjalanan tersebut, ia membawa bekal sebuah Gentong.

“Berhentilah Mbah Syarif di pantai Jepara untuk beristirahat. Sembari melepaskan lelah, ia mensyiarkan agama Islam kepada penduduk sekitar. Dari situ, nama daerah tempat beristirahatnya Mbah Syarif disebut Desa Siripan, yang diambil dari kata Syarif,” ungkap Ulama’ Desa Padurenan, Aminudin Mawardi.

Setelah dirasa cukup, Mbah Syarif melanjutkan perjalanan dakwah dengan jalur darat. Dari Desa Siripan, ia berjalan ke timur hingga memasuki sebuah daerah pertanian. Di sepanjang perjalannya di daerah tersebut, Mbah Syarif melihat banyak tanggul. Dari kisah itu, namanya diabadikan menjadi sebuah Desa yakni Tanggul Saripan.

TRENDING :  Penjelasan Mitos Kelinci Tidak Boleh Diberi Minum

Dilanjutkannya, perjalanan Mbah Syarif ke timur menyusuri sebuah kebun yang banyak ditumbuhi pohon pisang. Batang pohon pisang atau gedebok banyak berserakan disana, hingga daerah tersebut diberi nama Gebog.

Perjalanannya dalam berdakwah tidak berhenti sampai di situ. Mbah Syarif juga melebarkan dakwahnya ke sejumlah daerah seperti, Jurang, Mbuloh, Manisan, dan Ngaringa. Akhirnya perjalanannya terhenti pada sebuah daerah yang banyak ditumbuhi oleh pohon Durian atau orang Jawa menyebutnya Duren. Banyaknya pohon duren menjadikan daerah tersebut disebut Padurenan.

Foto: Masjid Syarif di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Selasa (27-03-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Menurut Aminudin, sebelum berdakwah di Padurenan, Mbah Syarif dihadapkan pada tokoh masyarakat setempat, yang menganut aliran kejawen nan sakti mandraguna dengan nama Mbah Rono. Dengan kedatangan Mbah Syarif ke daerah tersebut, Mbah Rono merasa tersaingi.

“Mbah Rono mantang Mbah Syarif untuk melakukan pertandingan adu Jago. Dalam pertandingan pertama, Mbah Syarif mengalami kekalahan. Dari kekalahannya tersebut, Mbah Syarif melakukan penelusuran penyebab kekalahan Jagonya,” jelas Aminudin, Selasa (27-03-2018).

TRENDING :  Pasukan Merah Putih Narapidana Rutan Kelas IIB Kudus Dikukuhkan

Ditambahkannya, “Dengan mata batinnya, Mbah Syarif melihat bahwa Jago milik Mbah Rono bukanlah hewan sungguhan. Jago tersebut ternyata sebuah betel (salah satu peralatan bangunan -red) yang disabda menjadi sebuah Jago.”

Mbah Syarif tidak kehabisan akal, untuk mengalahkan Jago milik Mbah Rono. Ia menyabda palu menjadi hewan Jago. Inisiatifnya tersebut ternyata membuahkan hasil. Jagonya dapat memenangkan petandingan.

Aminudin mengungkapkan, jika setelah dinyatakan kalah melawan Mbah Syarif. Mbah Rono, akhirnya bersedia memeluk Islam. Usai menaklukan Mbah Rono, perjalanan dakwah Mbah Syarif dapat berkembang lebih pesat. Banyak santri dari sejumlah daerah yang datang berguru kepadanya.

TRENDING :  Perwakilan Manajemen PT Soloroda Hadiri Undangan Kejaksaan Kudus

Lalu dibangunlah sebuah masjid sebagai pusat dakwah Islamnya. Di sana, Mbah Syarif mengabdikan hidupnya untuk melakukan syiar agama Islam hingga akhir hayatnya. Makamnya terletak tak jauh dari Masjid Syarif yang menjadi jejak kiprahnya dalam menyebarkan agama Islam di Padurenan.

“Tak hanya itu, Mbah Syarif juga meninggalan sebuah sendang atau belik yang diberi nama Sirih atau Syuro. Belik tersebut terletak di tepi sungai yang menjadi pemisah antara Masjid Syarif dan Makam Mbah Syarif. Selain itu, sebuah ajaran dari Mbah Syarif yang masih dilestarikan sampai saat ini adalah Maulidan Jawian atau pembacaan berjanji dengan aksen Jawa.” pungkas Aminudin. (NNC/RM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :