Inklusivitas Difabel Jadi Tema Forum Diskusi SMA 2 Kudus

oleh
Foto: Anjas Pramono menjadi delegasi Indonesia diberbagai event dan menargetkan menyabet mendali Emas April mendatang di Malaysia. (Istimewa)

Kudus, ISKNEWS.COM – Forum Diskusi SMA 2 Kudus yang diselenggarakan pada hari Kamis (01-02-2018) dengan mengangkat tema “Inklusivitas Pada Kaum Difabel”. Sebagai narasumber dihadirkan dua orang yang luar biasa, yakni Anjas Pramono dan Noor Chasanah. Keduanya memiliki keistimewaan yang menonjol dibanding orang normal lainnya.

Dalam pidatonya Anjas Pramono menyampaikan, bahwa ia berharap agar kaum difabel atau kaum minoritas itu dijauhkan dari kata bullying. ”Lebih diperhatikan lagi, bukan tidak mungkin kaum difabel bisa memiliki prestasi yang lebih dari orang normal lainnya,” terangnya.

TRENDING :  Bupati Tinjau Pengungsi Banjir : Saya Perintahkan Senin, Pemkab Siapkan Truk Untuk Angkut Anak Sekolah

Anjas Pramono ialah orang hebat yang memiliki kekurangan dan saat ini, dirinya menjadi wakil dari Indonesia di berbagai event tingkat Internasional, seperti pada April mendatang di Malaysia yang ditargetkan meraih medali emas.

Foto: Noor Chasanah adalah guru SDLB Purwosari, meskipun beliau memiliki kekurangan fisik yakni Tunanetra, tetapi semangatnya masih tinggi untuk menuntut ilmu, karena keterbatasan fisik bukan menjadi kendala untuk menuntut ilmu. (Istimewa)

“Bahwa jangan menyerah teruslah berusaha, bisa saja dengan kekurangan yang kalian miliki itu menjadi suatu kelebihan yang ada dalam diri anda, untuk adik-adik yang memiliki kekurangan, jangan kecil hati tetaplah semangat kejar cita-cita setinggi mungkin,” pesannya.

Hal senada, juga disampaikan Noor Chasanah yang memiliki kekurangan tuna netra, namun saat ini sebagai guru di SDLB Purwosari. Diceritakannya dulu dirinya sering mendapat perlakuan dari teman sebayanya, tetapi semangatnya masih tinggi untuk menuntut ilmu, karena baginya keterbatasan fisik bukan menjadi kendala untuk menuntut ilmu.

TRENDING :  Bentuk Karakter Anak Sejak Dini, Yayasan Al-Islamiyah Karangbener Gelar Manasik Haji

“Kami berharap kegiatan seminar seperti ini, bukan cuma di SMA 2 Kudus saja, tetapi dalam lingkup yang lebih besar, agar menjadi dukungan karena kaum difabel seperti kami itu perlu dukungan dari masyarakat, agar mereka menganggap kami itu ada dan tidak dikucilkan dalam masyarakat, kami itu sama seperti yang lain hanya saja kita berbeda dari segi fisik,” harapnya.

TRENDING :  Diikuti 40 peserta SMKN 2 Kudus Gelar Workshop Jurnalistik

Semangatnya untuk menjadi guru bagi kaum difabel adalah untuk memberi mereka semua semangat dan motivasi.

”Mereka semua ada dan perlu dukungan untuk terus berusaha mengejar cita-cita, dan memberi tahu mereka semua walaupun memiliki keterbatasan secara fisik, tetapi mereka juga bisa menjadi orang pada umumnya dan juga memiliki kesempatan untuk berprestasi,” pungkasnya. (MR/AM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :